Wisata Beda Di Singapura, Lari Keliling Kota

No comment 144 views

Berikut artikel Wisata Beda di Singapura, Lari Keliling Kota, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Singapura identik dengan wisata belanja. Buat yg mau liburan beda di sini, mampu coba wisata lari keliling kota. Sudah sehat, gratis pula.

Singapura tak cuma asyik bagi wisata belanja atau jalan-jalan, tetapi juga buat lari. Mumpung long weekend, cobalah lari di Singapura.

Mendengar kata Singapura, yg terbersit pertama kali di pikiran banyak orang adalah Patung Merlion, Orchard Road, Sentosa Island atau wisata belanja.

Baiklah, bila baru pertama kali mengunjungi negara ramah pejalan kaki ini, bolehlah memenuhi daftar lihat atau menghabiskan swafoto sepanjang jalan Orchard (dengan latar belakang papan nama Orchard Rd tentunya) atau berpose menampung air mancur Patung Merlion.

Bila ingin menikmati Singapura dengan cara yg berbeda, apalagi penggemar olahraga lari, jangan pernah melewatkan lari/jogging di berbagai jenis jalur lari di kota yg jalur transportasinya disebut sebagai salah sesuatu yg terbaik di dunia.

Dari mencari tahu di internet, aku mendapatkan banyak keterangan lokasi maupun jadwal lomba di sini. Namun, pilihan aku jatuh pada beberapa buah lokasi yg paling menarik menurut kebanyakan penggemar lari sebagai tempat terbaik bagi menikmati pemandangan sekaligus berolahraga, merupakan South Ridges Trail dan Singapore River.

Lain lagi bila ingin mengikuti lomba lari di negara yg disebut mantan presiden BJ Habibie sebagai ‘si titik-merah-kecil’. Singapura ini memiliki event lomba lari tingkat internasional yg menjadi tujuan banyak pelari, baik pelari hura-hura seperti aku maupun pelari profesional.

Sebut saja Sundown Marathon atau Standard Chartered Marathon yg berjarak 42 kilotemer atau Craze Ultra 100 miles yg berjarak ultra (di atas 50 kilometer). Bahkan negara dengan seluas Jakarta Selatan aja ini pun memiliki komunitas khusus Ultra Marathoners.

Lima hari di sini, aku menyempatkan diri coba beberapa jalur lari tersebut yg menurut aku paling menarik.

South Ridges Trail

Membaca namanya pertama kali, segera aku putuskan harus aku coba. Kapan lagi mampu menjajal jalur trail di negara lain? Singapura pula. Saya belum pernah mendengar tentang jalur lari trail di negara yg terkenal dengan wisata belanja ini.

Setelah mempelajari jalur transportasinya, pagi itu, sekitar pukul 08.00 aku keluar dari hotel tempat aku menginap di Orchard Road. Menggunakan MRT dari Orchard, aku menuju ke St Dhobby Ghaut dan berganti menuju Harbour Front. Di sini, di bagian belakang stasiun adalah pintu masuk Marang Trail yg mulai menghubungkan jalur panjang berikutnya.

Dan, ternyata sedikit berbeda, dengan bayangan saya. Trail yg dimaksud ternyata adalah jalan menanjak yg telah dibeton dan undak tangga dari papan. Setidaknya itu kesan pertama.

Meskipun demikian, berlari di bawah pepohonan yg rimbun cukup memberikan nuansa hutan. Tetap saja medan menanjak sungguh sangat menguras tenaga. Berjarak sekitar 800 meter, ketinggian 70 meter atau setara gedung 24 lantai, paha aku terasa terbakar. Belum panas kaki berlari, telah dihajar beginian.

Saya sampai tak ingat membutuhkan waktu berapa lama buat mencapai puncaknya. Sepertinya sekitar 5 menit dengan keringat bercucuran dan dada kembang kempis. Untungnya pepohonan yg teduh cukup menyejukkan.

Sebelum berlari, saat sedang pemanasan, yg paling jelas kelihatan dan menarik perhatian aku adalah tanda-tanda aturan yg jelas serta peta lokasi termasuk jalur trekking.

Berikutnya pun di dua persimpangan, selain tanda arah, juga dua peta lokasi yg memamerkan posisi kami ketika itu. Jadi, bila sebelumnya kami telah memilih jalur pun, aku percaya kami tak mulai tersesat karena penunjuk arah yg memadai.

Begitu pula bila kalian tiba tanpa persiapan dan cuma ingin menjelajahi taman trekking ini. Oh iya, ada dua titik keran air dapat minum.

Jalur berikutnya adalah jalur datar dan menuruni bukit. Tentu saja tetap dengan permukaan yg telah diaspal atau beton. Hari itu adalah hari kerja jadi suasana sepi.

Hanya ada dua pekerja taman yg tampak merawat dua mesin dan tanaman. Ada yg sedang jogging dan sekedar berjalan-jalan menikmati udara dan pemandangan.

Setelah mengikuti dua trek, aku dulu menemukan bagian yg paling menarik merupakan Jembatan Gelombang Henderson. Jembatan penyeberangan yg menghubungkan beberapa taman dan melewati jalan raya diatas ketinggian hampir 40 meter.

Struktur jembatannya sangat menarik dan bila malam hari, lampu-lampu yg diletakkan menonjolkan bentuk gelombangnya. Setidaknya begitu yg aku lihat di foto malam harinya di internet.

Melewati Henderson Waves (bukan wifes), aku mengambil gambar, video dan tentu saja tak melewatkan kesempatan menengok ke bawah. Jalan raya dan gedung-gedung bertingkat serta pemandangan pelabuhan menuju Pulau Sentosa. Ada dua bagian dimana disediakan tempat duduk dengan atap peneduhnya.

Dari sini, aku dahulu kembali membaca peta, yg sekali lagi gampang ditemukan di titik-titik tepi jalur dan arah kemana sebaiknya bagi kegiatan lari aku pagi ini. Banyak pilihan, aku coba sebuah perbukitan dan turun menuju jalan raya dahulu memutari bukit dan berujung di lokasi peristirahatan.

Di sini, banyak warga senior yg sedang duduk menikmati pagi yg tenang, melakukan tai-chi atau sekedar membaca koran. Sungguh pemandangan yg biasanya cuma kulihat di televisi.

Peta memamerkan bahwa ada jalur trail sesungguhnya dengan sebutan Earth Trail di sisi sebelah bukit ini, kesanalah aku kemudian. Menyusuri tepian jalan raya pun terasa nyaman dengan bagian khusus pejalan kaki yg banyak tersedia di setiap bagian di negara ini.

Masuk ke bagian Earth Trail, ada pengumuman bahwa jalur bawah atau Earth Trail sedang diperbaiki sehingga disarankan buat memakai jalur jembatan dari besi dengan bentuk semacam jalur papan di Hutan Mangrove di Muara Angke, Jakarta Utara.

Namun, dua hari hidup dengan banyak aturan, membuat naluri aku tetap ingin mengikuti jalur bawah tanah ini. Bukan tanah juga sih melainkan aspal bolong-bolong. Yah, miriplah sama jalan raya Semarang-Grobogan atau Pantura

Baru dibagian ini, aku mampu berlarian dengan senang, seperti merasakan trail di tempat saya. Tentu saja tak dapat dibandingkan namun setidaknya nuansa yg dihasilkan serupa. Di ujung jalur bawah-tanah ini mulai bertemu dengan jalur jembatan besi dibagian atas.

Saya menghabiskan dua waktu di sini. Menikmati rimbunnya pepohonan. Dan tentu saja, aku penasaran ingin coba jalur jembatan besi ini turun ke bawah. Meskipun ada jalur yg mampu aku pergunakan buat meneruskan perjalanan dibagian atas.

Kebersihan. Kata itu benar-benar meresap dipandangan saya. Saya jadi ingat dengan obrolan teman-teman aku lalu di kampus bila kita hendak mendaki gunung. Katanya, bila sedang tersesat di jalur pendakian gunung, cari saja sampah. Pasti mulai ketemu jalan pulang karena sampah memperlihatkan bahwa titik itu dilewati manusia. Ironis sekali.

Di sini tidak kutemukan satupun sampah bawaan manusia. Tersesat? Hanya orang malas melihat-lihat tanda petunjuk arah atau dengan sengaja menyesatkan dirinya baru tersesat itu mampu terjadi.

Setelah menikmati taman kota ini selama kurang lebih beberapa jam, aku putuskan bagi kembali ke hotel dan siap bagi jalan-jalan menikmati bagian yang lain dari negara dengan luas 697 km persegi ini.

Singapore River

Yang kedua ini adalah jalur lari ringan sembari berwisata. Melewati Patung Merlion si Singa, Marina Bay Sands dan Singapore Flyer, lari disini mampu bikin kacau pace biasanya.

Banyak berhenti buat mengambil foto, meminta orang bagi difotoin dan tentu saja, cuci mata lihat cewek-cewek yg juga lelarian. Saya memilih jalur lari yg panjangnya sekitar 8 K.

Bagian yg paling aku suka adalah jalur memutar yg berada di atap Marina Barrage. Sungguh tempat beristirahat yg menyenangkan. Sembari melihat orang-orang bermain layang-layang, kami disuguhi pemandangan sekitar Sungai Singapura.

Dari hotel, aku naik MRT dari Orchard menuju Raffles Places. Dari sini perjalanan aku lanjutkan dengan berjalan kaki melewati kawasan perkantoran dan hotel menuju Patung Merlion. Sungguh, rasanya agak kikuk saat kebanyakan orang berpakaian rapi dulu lalang dan aku berjalan dengan celana dan kaos olahraga.

Di sekitar patung Merlion, seperti telah aku tebak, banyak pelancong yg sedang menikmati suasana sore sembari mengambil gambar simbol negara ini dari berbagai sudut. Ada dua-tiga orang yg sedang menikmati lari sore.

Saya melirik jam di pergelangan, masih pukul 16.00, kebanyakan orang masih di tempat kerjanya masing-masing. Di sini, aku dulu bersiap-siap dengan peregangan terlebih dahulu. Ada perasaan agak kikuk muncul karena merasa satu-satunya orang yg beraktifitas berbeda di sana, di antara para turis-turis yg tiba dari berbagai negara.

Entah karena perasaan senang karena berlari bagi pertama kalinya di luar negeri atau karena lari di kawasan wisata terkenal. Saya milik perasaan senang yg berbeda dari biasanya.

Cuaca yg cukup panas pun tak aku hiraukan. Seperti aku tebak, aku tak mampu fokus pada pace lari biasanya. Kepala aku sibuk clingak clinguk melihat suasana di sekitar taman ini dan tentu saja sembari melihat jalur lari saya.

Melewati bangku-bangku taman yg penuh oleh orang-orang yg sedang bercengkrama dan mengetahui cuma aku yg sedang lari sore itu, perasaan aneh sempat menyelimuti.

Ah, mungkin cuma aku aja yg kegeeran padahal orang-orang juga pada cuek. Jalur bagi kawasan pejalan kaki sangat jelas dan aman. Itu yg pertama kali terlintas di kepala saya.

Bayangan garis putus-putus yg tertera di peta wisata, yg aku baca sebelum ke sini, lambat laun akan tampak nyata di depan saya. Keterangan yg jelas sebagai jalur lari di peta tersebut dengan gampang mampu kelihatan di situasi sebenarnya.

Saya selalu berlari menyusuri sungai Singapura, melewati sirkuit balap mobil Formula 1, aku sempat tergoda buat masuk ke lintasan tetapi niat tersebut aku urungkan. Singapura sangat terkenal dengan denda nya.

Di negara ini, aku sangat berhati-hati dan tak mampu sembarangan. Bikin kacau (baca: inisiatif liar) sedikit, mampu kena denda mahal atau sebagai pendatang, dapat bawa nama buruk negara.

Menikmati berlari (meskipun dalam cuaca panas) sepanjang sungai yg sepi di bawah pepohonan, pikiran aku melayang kemana-mana. Betapa teraturnya kota ini. Betapa sangat ramahnya kepada pejalan kaki (setelah berjalan kaki ke dua tempat sejak kemarin).

Sebagai pencinta jalan kaki, aku sangat merindukan negara aku berlaku serupa. Saya juga mengingat kawan-kawan aku di Semarang. Mereka pasti senang berlarian di sini. Bisa seru foto-foto.

Di ujung rute sungai ini, aku masuk ke terowongan bawah tanah yg berujung di sisi seberang jalan raya. Melihat rute lanjutan telah akan masuk ke tepi jalan raya dan gedung-gedung, meski jalurnya pun aman dan nyaman. Saya putuskan bagi kembali menyusuri rute sebelumnya dan berharap bagi bisa melanjutkan lari ke lokasi menarik lainnya.

Kembali ke area Marina Bay Sands, rute berikutnya melewati jembatan yg menyeberangi Sungai Singapura. Jembatan yg unik karena berbentuk seperti akar-akar rotan yg bergelung-gelung. Seperti jembatan kayu di Kalimantan atau ke Baduy Dalam. Namun, tentu saja di Singapure dibuat dari besi baja.

Di sini aku belok ke kiri karena dari dalam jembatan ini, aku melihat ke sebelah kiri ada bangunan unik yg dari kejauhan kelihatan layang-layang sedang berterbangan dengan tingginya. Foto dari sana pasti bagus, pikirku.

Lagi-lagi, jalur pemisah tampak jelas antara kendaran bermotor dan pejalan kaki. Bahkan tanda-tanda yang lain seperti hewan liar yg kadang-kadang muncul atau stasiun MRT/Bus terdekat. Sungguh tempat yg memudahkan siapapun buat jalan-jalan menikmati sudut kota ini.

Makin mendekati bangunan tersebut, senyum aku makin mengembang. Jalan memutar menanjak menuju atap bangunan. Hampir pukul 5 sore dan makin banyak orang-orang kelihatan berlari di sini. Entah berlari santai maupun serius seperti sedang berlatih bagi mengikuti lomba.

Dari atap Marina Barrage, aku dapat melihat pemandangan sekitar sungai. Lagi-lagi, aku tersenyum. Bangunan ini sebenarnya adalah bagian dari penampung air yg juga berfungsi sebagai pengontrol banjir namun mempunyai fungsi tambahan merupakan tempat wisata dengan atap hijaunya di mana masyarakat mampu tiba piknik, bermain layangan atau sekedar menikmati hembusan angin.

Sungguh, aku tak habis pikir kenapa tak banyak bangunan publik di negara aku yg mampu difungsikan seperti ini.

Sudah hampir pukul 18.00. Saya putuskan bagi kembali. Mampir sejenak buat membeli air minum (karena tak menemukan kran air minum) aku mengikuti jalur memutar museum dinosaurus buat kembali ke kawasan Fullerton dan lanjut ke stasiun MRT terdekat di kawasan Raffles.

Satu hal yg paling berkesan buat aku adalah Singapura adalah negara yg sangat menjamin hak-hak para pejalan kaki. Mulai dari kota hingga ke taman-taman atau hutan kota seperti South Ridges ini. Pengguna kendaraan pun sangat menghormati hak-hak ini. Hal ini membuat aku berpikir, kapan negara aku mampu seperti itu?

Pengalaman berlari di negara yang lain membuat aku memikirkan Jakarta. Betapa terbatasnya pilihan rute lari selain di kawasan Stadion GBK Senayan atau pusat kebugaran. Paling nyaman mungkin di dalam kebun binatang Ragunan. Bahkan Hari Bebas Kendaraan bermotor pun masih harus bersaing dengan para pengguna sepeda.

Seandainya trotoar buat pejalan kaki dibangun dengan pondasi pemikiran bahwa setiap pejalan kaki memiliki hak yg sama dengan pengguna jalan lainnya, aku percaya bahwa Jakarta atau kota-kota yang lain di Indonesia mulai menjadi lebih menarik.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2016/12/23/112000/3311789/1025/wisata-beda-di-singapura-lari-keliling-kota
Terima kasih sudah membaca berita Wisata Beda di Singapura, Lari Keliling Kota. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Wisata Beda Di Singapura, Lari Keliling Kota"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.