Weekend Ini, Yuk Jelajahi Museum Mandiri

No comment 50 views

Berikut artikel Weekend Ini, Yuk Jelajahi Museum Mandiri, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Menghabiskan akhir minggu di Jakarta jangan hanya ke mal. Ada banyak museum yg menarik dikunjungi seperti Museum Bank Mandiri.

Pada hari Minggu dulu aku berkesempatan mengunjungi Museum Bank Mandiri yg terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta. Untuk menuju kesana cukup mudah, tinggal naik KRL atau TransJakarta, turun di Stasiun / Halte Jakarta Kota. Itu saja, kemudian berjalan sedikit ke lokasi. Disana banyak Museum, seperti Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Museum Seni dan tentu saja Museum Fatahillah yg tak pernah sepi pengunjung, baik pagi, siang, malam, baik cuaca panas maupun hujan, setiap kali aku ke sana, terus ramai. Ini memang telah ke sekian kali aku ke Kota Tua, tetapi baru kali ini akhirnya sempat ke Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri Berdiri sebelumnya yaitu perusahaan dagang punya Belanda dan berkembang menjadi perbankan. Gedungnya sendiri dibangun pada tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933. Di museum ini kalian bisa menemui berbagai jenis koleksi yg berkaitan dengan aktivitas perbankan tempo dulu, akan dari meja kasir, perlengkapan operasional bank, macam-macam surat berharga jaman dulu, mata uang kuno, brankas, buku besar yg digunakan buat mencatat segala aktivitas perbankan hingga perintilan seperti macam-macam stempel yg digunakan pada masa itu.

Biaya masuk ketika ini adalah Rp. 5000,00 per orang. Buka dari hari Selasa sampai Minggu jam 08.00 sampai jam 16.00 (atau malah 15.30). Saya kesana sekitar jam 3 sore, dan saking asiknya aku menjelajahi museum ini, aku sampai terkunci didalam. Saya juga tak sadar ada pemberitahuan dari pengeras suara musuem bahwa museum sebentar lagi mulai tutup. Saya asyik saja berkeliling, hingga waktu itu, sekitar jam setengah 5 sore aku sampai pada pintu keluar dan ternyata telah digembok. Duh!

Saya sama temen lantas muter-muter mencari tempat keluar, temen juga segera browsing, siapa nih yg mampu dihubungi buat situasi seperti ini, mungkin di web nya ada. Tapi, tak seberapa lama aku menunggu di pintu keluar yg digembok itu, sebentar kemudian ada suara telephone. Ini kok serem gini ya, museum sepi tak ada orang tetapi ada telephone di meja sekuriti yg berdering. Saya mrinding tetapi temen aku sigap dan segera angkat telepon itu, dari jauh orang yg menelepon bilang, meminta kalian menunggu sebentar.

Dering telepon terdengar dua kali, minta kalian menunggu lagi. Ahh, nice, karena di segala ruangan museum ini memang ada CCTV jadi mungkin yg nelpon itu adalah sekurit dan Bapak itu tahu bahwa masih ada beberapa anak yg terjebak di museum ini, menunggu di depan pintu yg tergembok.

Kita-kira 10 menit kemudian Bapak itu datang, berpakaian security museum, ya emang secutiry sih, hehe. Membukakan pintu besi yg digembok, sambil menanyakan “Tadi dimana kan ada pengumuman emang tak dengar?” Saya jawab, sekita jam berapa ya Pak? Kalau jam 4-an mungkin kita sedang ada di ruang brankas, rasa-rasanya aku tak mendengarp apa-apa. Lalu teman aku menyahut “Kalo aku denger sih Pak, denger ada suara tetapi tak jelas ngomong apa. Hhehe.” Bapaknya kemudian menyahut “Oh, gitu, harusnya kalo di ruang brankas tetep kedengeran sih” Sembari membuka gembok pagar luar, dan akhirnya kalian pun mampu keluar. Alhamdulillah.

Ahaha, jadi berpanjang cerita, baiklah, mari kalian akan menjelajahi Museum! Saat pertama masuk, aku bertemu dengan tempat penitipan barang, meja sekuriti dan kemudian loket pembelian tiket. Loket yg dipakai nuansa zaman lalu banget.

Rute buat menjelajahi museum telah dibuatkan dengan apik, seperti biasa, ada rute yg dapat kalian ikuti, biar gak random, dan segala spot dapat kalian kunjungi. Pertama, aku masuk pada replika kapal penjajah, mungkin Belanda. Ada semacam 3D effect buat memunculkan animasi ikan-ikan yg sedang berenang di laut. Di ruang selanjutnya ada kita temukan replika rumah pribumi jaman dulu, setelah itu juga ada banyak replika-replika lagi seperti ini:

Setelah itu juga ada pajangan uang rupiah dari masa ke masa, ada lemari-lemari besi, ada juga contoh surat-surat utama yg digunakan jaman dahulu. Hingga buku besar yg digunakan bagi mencatat segala laporan keuangan, yg kesemuanya masih tulis tangan, masih ada dan dipajang. Alat-alat perkantoran seperti cap / stempel, alat press, mesin ketik dan alat perkantoran yang lain juga dipajang. Di ujung ada instalasi yg rasa-rasanya juga jadi salah sesuatu ikon Museum ini.

Puas berfoto ria, aku meneruskan perjalanan. Ada semacam mini cafe disana, foto sebentar ah, jepret. Habis itu lanjut ke lantai bawah. Ada ruang brankas. Di pajang berbagai jenis tempat penyimpanan, dari loker-loker besi, dan ada juga puluhan brankas yg ukuran, bentuk dan tipenya berbeda-beda, bermacam-macam yg yg pasti ukurannya besar, dan berat. Jadi bertanya-tanya nih, brankas segede, setebel dan seberat ini cara mindahinnya gimana yah?

Terakhir, kalian naik ke lantai atas. Tidak banyak yg mampu dilihat disini. Hanya tampaknya ruang rapat utama. Sedang ruang kanan dan kirinya ditutup buat umum. Ornamennya khas, dominasi kayu tetap saja. Aromanya juga khas. Ini dia gambarnya, tujuan terakhir sebelum kalian keluar dan ternyata terkunci di dalam museum *cerita kembali ke yg telah aku tulis diatas tadi, hehehhehe

Hari telah sore, rasanya kurang lengkap kalau belum mampir pelataran Fatahillah, pelataran paling ramai di Jakarta, aku rasa. Melihat keramaiadan dan orang-orang yg berkumpul, bercanda, tertawa, berekspresi, atau sekedar refreshing bersama keluarga.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/03/19/102000/3439046/1025/weekend-ini-yuk-jelajahi-museum-mandiri
Terima kasih sudah membaca berita Weekend Ini, Yuk Jelajahi Museum Mandiri. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Weekend Ini, Yuk Jelajahi Museum Mandiri"