Warga Kenakan Pakaian Kulit Kayu Dalam Karnaval Budaya Alor

No comment 124 views

Berikut artikel Warga Kenakan Pakaian Kulit Kayu dalam Karnaval Budaya Alor, Semoga bermanfaat

ALOR, KOMPAS.com – Puluhan warga Desa Kopidil, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengenakan pakaian yg terbuat dari kulit kayu dalam pawai karnaval budaya di sepanjang jalan penting Kota Kalabahi, Selasa (9/8/2016) petang.

Penampilan dari warga tersebut, membuat ribuan warga setempat yg berjejer di pinggir jalan menjadi kagum dan terhibur. Selain mengenakan pakaian kulit kayu, warga Kabola yg terdiri dari anak-anak hingga orang tua membawakan tarian perang dengan diiringi musik tambur.

Sekretaris Camat Kabola Daud Nomenson dan Sekretaris Desa Kopidil Derek Laapada kepada KompasTravel, Selasa malam secara bergantian mengatakan, penampilan warga Kabola dengan pakaian kulit kayu, agar mengingatkan warga Alor buat tetap menjaga dan melestarikan budaya asli tersebut.

“Sebenarnya pada zaman dulunya dipakai bagi pakaian karena baju belum ada, sehingga masyarakat Alor masih memakai kulit kayu. Pada dasarnya segala suku di Alor masih pakai, tetapi yg masih mempertahankan tradisi ini adalah masyarakat Desa Kopidil, Kecamatan Kabola,” kata Daud yg diiyakan Derek.

Menurut Daud, pakaian tersebut dikenakan cuma pada acara adat, termasuk pergelaran seni dan budaya seperti di Expo Alor ketika ini.

Daud mengaku, pakaian kulit kayu itu diambil dari sebuah pohon, yg oleh warga setempat disebut dengan pohon Ke. Cara pembuatan pakaian kulit kayu terbilang sederhana yakni dengan menebang pohon Ke yg berdiameter besar, kemudian diukur sesuai dengan ukuran dan kebutuhan.

Setelah itu, lanjut Daud, pohon itu dibersihkan dan dipukul pakai kayu ukuran sedang, kemudian dipotong (dibelah) dan dijemur hingga beberapa hari dulu bersiap dipakai.

“Tergantung dari cara pukul kita, mampu menentukan tipis dan tebal baju atau rok dan celana yg dihasilkan nanti. Biasanya pakaian kulit kayu yg dihasilkan ini, dipakai lama sampai seumur hidup, sampai turun temurun, asalkan jangan kena air. Kalaupun kena air, itupun dicuci kasih bersih kemudian dijemur kembali,” jelasnya.

Daud memaparkan, selain menghasilkan pakaian, kulit pohon Ke yg berwarna cokelat juga dapat dibuatkan tas dan topi. Namun begitu kata Daud, populasi pohon Ke ketika ini semakin berkurang.

Oleh karena itu, Daud berharap masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama mampu menanam kembali anakan pohon Ke dalam jumlah banyak, agar budaya pakaian kulit kayu mampu tetap bertahan hingga turun temurun.

Sementara itu, Bupati Alor Amon Djobo menyampaikan Expo ke-10 dan karnaval budaya di Alor, bertujuan mempromosikan destinasi wisata, ekonomi kreatif, seni dan budaya guna membuka pangsa pasar investasi ke segala nusantara dan mancanegara.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/11/062300527/Warga.Kenakan.Pakaian.Kulit.Kayu.dalam.Karnaval.Budaya.Alor
Terima kasih sudah membaca berita Warga Kenakan Pakaian Kulit Kayu dalam Karnaval Budaya Alor. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Warga Kenakan Pakaian Kulit Kayu Dalam Karnaval Budaya Alor"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.