Wae Rebo, Desa Di Balik Gunung Yang Mendunia

No comment 92 views

Berikut artikel Wae Rebo, Desa di Balik Gunung yang Mendunia, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Di pedalaman Flores, NTT, ada sebuah desa di balik pegunungan yg begitu unik dengan 7 rumah adat yg masih terjaga. Inilah dia Desa Wae Rebo.

Terletak di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, desa superkecil dengan penduduk 25 keluarga ini pernah memperoleh penghargaan tertinggi dari UNESCO. Wae Rebo, jauh sebelum dikenal Nusantara, desa ini sudah terkenal di penjuru jagat raya karena keunikan rumah kerucutnya yg disebut (Mbaru Niang).

Untuk mencapai lokasi ini, kami harus melalui beberapa penerbangan. Pertama melalui Bandara Ngurah Rai kemudian dilanjutkan menuju Bandara Komodo. Dari Labuan Bajo perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Manggarai barat. Butuh waktu 5 jam bagi sampai di perbatasan sebelum melanjutkan trekking sejauh 9 km menuju puncak gunung di mana Waerebo berada.

Rute pendakian curam dengan kanan kiri jurang. Pemandangan sepanjang jalan benar-benar menggambarkan keindahan bumi pertiwi di mana tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Menyusuri hutan kita harus melewati 4 pos pendakian.

Pos 2 yaitu pos terjauh dengan view paling Indah. Di sini kalian mengambil foto dengan background hamparan laut biru Bumi NTT.

Untuk sampai Wae Rebo kami pasti melewati sebuah jembatan penghubung dari bambu. Jembatan ini pula dapat menjadi penanda bahwa kalian mulai memasuki pos 4 atau pos terakhir pendakian.

Waktu telah hampir malam saat memasuki Wae Rebo. Badan basah kuyup sepanjang perjalanan diguyur hujan. Sampai di Pos 4, hal yg harus dikerjakan adalah memberi aba-aba kepada ketua adat bahwa ada tamu dengan cara menghidupkan klengtongan (kayu) sebagai tanda kehadiran.

Jam memamerkan pukul 18.00 malam. Kami dipersilahkan masuk oleh ketua adat ke dalam Mbaru Niang buat melakukan ritual upacara terhadap leluhur mereka.

Tradisi ini wajib dikerjakan sebagai tanda ‘permisi’ bagi memasuki daerah Wae Rebo. Ada 7 Mbaru Niang (rumah kerucut) dan kita menginap di salah sesuatu rumah tersebut.

Malam itu kalian tak sendiri, kalian sesuatu rumah dengan rombongan My Trip My Adventure Trans TV. Ada Richard Kyle, Putri Morino dan rombongan TRANS TV lainnya yg tidak mengurangi keramaian di malam itu. Tidak ada listrik di desa ini, aliran listrik cuma memakai genset, dan itu pun nyala cuma sampai jam 22.00 WITA, selebihnya lampu mulai padam.

Warga Wae Rebo juga memberi hidangan makan sederhana kepada kami. Nasi soto tanpa kerupuk dan menurut kalian cukup bagi mengisi perut kosong selama perjalanan.

Terbitnya matahari adalah hal yg paling kita tunggu. Apalagi buat daerah seindah Wae Rebo. Sunris tentu menjadi momen rebutan terutama buat para pecinta fotografi dan pembuat video.

Drone telah berterbangan sejak pagi mengambil moment indah Wae Rebo. Jika Anda melihat Wae Rebo di pagi hari, Anda serasa berada di kawasan Mediterania.

Tidak berlebihan seandainya desa ini memperolah penghargaan tertinggi dari UNESCO dan menyingkirkan pesaing-pesaingnya dari negara yang lain seperti kompleks bangunan Sethna di Mumbai, India, pengairan bersejarah di Karnataka, India, serta kawasan William Street di Perth, Australia.

Mau disandingkan dengan desa apapun di dunia ini, rasanya Waerebo tak mulai turun pamornya. Ayo ke Waerebo!

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/11/02/152000/3312771/1025/wae-rebo-desa-di-balik-gunung-yang-mendunia
Terima kasih sudah membaca berita Wae Rebo, Desa di Balik Gunung yang Mendunia. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Wae Rebo, Desa Di Balik Gunung Yang Mendunia"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.