Uniknya Rasa Dan Aroma Kuliner Toraja

No comment 129 views

Berikut artikel Uniknya Rasa dan Aroma Kuliner Toraja, Semoga bermanfaat

Sambil menikmati embusan angin yg sejuk di kampung tenun Kecamatan Sa’dan, di hadapan kita telah tertata hidangan makan siang yg menggugah selera. Di sana ada nasi merah, nasi putih, sayur hijau, perkedel jagung dan ikan mas goreng tepung.

Sa’dan atau Masero yg berarti bersih. Kehidupan masyarakat Sa’dan sejak zaman dulu kala sebelum Belanda masuk sangatlah bersih, sehingga menjadi sebuah Kecamatan yg ketika ini bernama Kecamatan Sa’dan, yg beribukota di Kelurahan Malimbong.

Saya duduk di sebuah lumbung, yg konon lalu pernah juga diduduki oleh Susilo Bambang Yudhoyono waktu masih jadi presiden. Di lumbung itu kalian makan bersama-sama menikmati santap siang yg maknyus.

Yang aku ambil pertama tentu nasi merah. Berikutnya yg menggugah selera aku adalah sayur hijau, paduan sayur yg di Jawa disebut urap. Terdiri dari daun Pakis, daun pepaya, kangkung, kemudian diurap. Baru setelah setelah itu aku mengambil goreng tepung ikan mas.

Ada sesuatu ciri yg khas kuliner di Toraja ini, atau tepatnya di perkampungan Toraja. Yakni, masakan mereka lebih terasa orisinal baik dalam rasa maupun aroma. Sebutlah dalam makan siang kalian kali ini, aku menemukan kemurnian rasa dan aroma hutan pada pakis2 muda yg kranci. Demikian juga pada nasi merahnya, aku merasai kesegaran galibnya padi yg baru dipetik dari ladang.

Setelah makan siang di Sa’dan, aku masih merasai makanan tradisional di dua tempat di Toraja yg secara rasa, aroma maupun bentuk pennyajiannya senantiasa terekam di ingatan saya.

Begitulah, rasanya kuliner Toraja pun menjadi bagian yg tidak terpisahkan dari sebuah perjalanan wisata. Kuliner menjadi pelengkap sempurna pariwisata yg mulai senantiasa dikenang. Sebab, kendati wisatawan telah pulang ke daerahnya masing2, mereka masih mampu mencari dan merasai kembali kuliner di sekitar tempatnya bermukim yg dibawa oleh kaum diaspora yg berasal dari daerah pariwisata.

Bukankah kami sedemikian gampang menemukan gudeg di sekitar tempat tinggal kami meskipun berjarak ratusan kilometer dari Yogyakarta. Atau… Kita juga mampu dengan mudah menjumpai rendang meskipun tempat tinggal kami ribuan km dari Padang.

Kuliner Toraja memang belum sepopuler kuliner daerah yang lain di Indonesia. Tapi soal rasa, masakan Toraja menawarkan orisinalitas terutama pada masakan olahan dari daun dan daging.

Seperti yg aku nikmati di Sesean Suloara. Di kampung yg berada di ketinggian sekira 1400 m dpl ini aku berkesempatan mencicipi masakan lokal yg unik.

Di sana ada pa’piong ayam buraq, pa’piong ayam bulunangko, Pantollo’ pammarasan ikan, pangrarang duku tedong atau sate kerbau yg tusuk satenya dapat buat main pedang-pedangan, sayur pucuk labu siam, sambal katokkon dan ballo’ (tuak) dalam suke (bambu).

Pa’piong artinya daging yg dimasak dalam bambu. Makanan ini adalah makan yg dimasak dengan mengunakan bambu biasa memakai sayur bulunangko (mayana) dan mampu juga memakai Burak ( pohon pisang ) yg masih muda. Pa’piong dibagi dalam dua jenis sesuai dengan bahan baku pembuatannya.

Masakan Toraja memakai dua bahan khas yg sulit ditemukan di tempat lain. Salah satunya adalah daun mayana, miana, atau bulunangko yg berbentuk seperti jantung dan berwarna hijau-ungu. Daun yg memiliki rasa pahit ini biasa dijadikan hiasan di Pulau Jawa. Namun di Toraja, mayana dikonsumsi menjadi sayur dan bahan pa’piong.

Selain itu ada pula lada katokkon, cabai mirip paprika mungil yg sangat pedas. Warnanya hijau ketika muda, dulu berubah jadi oranye dan merah ketika tua.

Makanan unik lainnya adalah Pa’piong bale. Ikan yg dimasak didalam bambu yg dicampur dengan bumbu-bumbu tertentu. Ikan yg biasanya digunakan adalah ikan mas yg dicampur dengan daun bulunangko (mayana).

Berikutnya ada Pa’piong Babi, masakan yg terbuat dari daging babi yg dicampur dengan sedikit rempah-rempah bersama dengan lombok katokkon (cabe asli toraja). Sama seperti pa’piong bale, olahan ini juga dimasak dengan memakai bambu hingga matang.

Pa’ Piong Manuk ( Ayam ). Manuk dalam bahasa indonesia artinya ayam. Jadi Pa’piong Manuk ini adalah masakan dengan bahan dasar dari daging ayam. Cara pengolahan atau pembuatannya sama dengan pembuatan pa’piong babi merupakan daging ayam dicampur dengan daun mayana dan bumbu dulu dapat ditambahi dengancabe rawit atau lombok katokkon.

Ada juga pantollo pammarasan. Seperti masakan pa’piong masakan ini juga dibedakan dua jenis tergantung bahan baku yg digunakan seperti berikut ini. Pantollo Lendong (Belut) yaitu masakan khas Toraja yg terbuat dari belut yg diolah dengan pamarasan (rawon) yg dicampur dengan sedimikian rupa memakai rempah-rempah khas toraja. Makanan ini biasanya disajikan dalam acara-acara adat masyarakat Toraja. Tentu, varian masakan ini ada dua jenisnya. Ada pantollo’ duku ( daging babi), pantollo bale (Ikan)

Dan masih banyak lagi kuliner Toraja yg dapat dicicipi seandainya anda berkunjung ke “Tanah Tinggi” ini. Semuanya menantang, unik, dan natural.

Tak percaya, tiba dan nikmatilah.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/02/002220127/uniknya.rasa.dan.aroma.kuliner.toraja
Terima kasih sudah membaca berita Uniknya Rasa dan Aroma Kuliner Toraja. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Uniknya Rasa Dan Aroma Kuliner Toraja"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.