Trotoar Kota Yang Memanjakan

No comment 200 views

Berikut artikel Trotoar Kota yang Memanjakan, Semoga bermanfaat

MENIKMATI kota tak berarti harus mengeluarkan uang banyak. Berjalan kaki di tengah kota ketika hari libur juga menyenangkan. Selain sehat, kalian mampu mengamati kota ketika derap aktivitasnya tidak terlampau sibuk. Tentu saja, trotoar yg nyaman menjadi keharusan.

Perjalanan ke Seoul, ibu kota Korea Selatan, awal Oktober 2016, menyisakan memori kuat tentang keteraturan kota. Seoul betul-betul menampilkan diri sebagai kota metropolitan yg bisa mendukung aktivitas warganya.

Yang mencolok, begitu Kompas datang di ibu kota ”Negeri Ginseng” itu adalah pemandangan trotoar yg lebar di hampir setiap tepi ruas jalan. Memasuki Seoul dari arah Bandara Incheon, kalian melewati kawasan kampus dan perdagangan. Sejauh mata memandang, warga berjalan nyaman dan aman di trotoar.

Warga yg telah sepuh, dengan tongkatnya, pun tetap mampu berjalan pelan tapi pasti. Pengguna kursi roda dimudahkan ketika memutar roda tanpa takut masuk lubang. Mereka yg energik dan terburu-buru mampu cepat saja berlalu.

Trotoar juga yg menghubungkan permukiman dengan kantor, sekolah, pasar, sungai, hingga halte ataupun stasiun. Berjalan kaki pun menjadi sarana transportasi penting bagi menjangkau tempat tujuan untuk siapa pun, termasuk wisatawan ataupun pengunjung yg tiba seperti kami.

Dimanjakan

Sulit mendapati trotoar Seoul yg menyempit gara-gara diokupasi pedagang kaki lima atau pedagang tanaman hias seperti di Jakarta. Yang ada, warga dimanjakan dengan trotoar selebar 3 meter-4 meter di jalan umum dan trotoar yg lapang di jalan utama.

Bahkan, seandainya diukur, trotoar di jalan penting itu dapat dilalui beberapa mobil yg berpapasan. Tetapi, tentu saja, itu cuma perumpamaan. Kenyataannya, trotoar di situ steril dari kendaraan bermotor.

Trotoar dibangun apik. Melewati trotoar di ketika santai sembari bersenda gurau dengan teman atau keluarga menjadi sebuah kesenangan tersendiri.

Pejalan kaki dimanjakan dengan lantai semen yg rata dan tak licin. Di dua lokasi, lantai trotoar dibangun dari keramik yg juga tak licin.

KOMPAS/HELENA F NABABAN Pejalan kaki di Seoul, Korea Selatan, Selasa (4/10/2016), dimanjakan dengan trotoar yg lebar dan rapi serta tak dipenuhi pedagang kaki lima. Trotoar nyaman yg terbentang di segala penjuru kota mendukung mobilitas dan pergerakan manusia

Keteraturan ini tidak lepas dari tata kota. Kota yg awalnya dikenal sebagai Gyeongseong, dulu berganti nama menjadi Seoul pada 1945 itu, memang tumbuh berdasarkan perencanaan.

Merujuk ke laman resmi Pemerintah Korea Selatan, Pemerintah Kota Seoul telah memikirkan tata kota sejak lama. Bahkan, pada 1896, pemerintah setempat mengatur kembali tata kota itu.

Perencanaan itu kelihatan dalam pembangunan jalan-jalan bagi mobil, jalur kereta, penataan ulang sungai dan daerah aliran sungai, pembangunan jembatan, pemetaan kawasan bisnis dan perdagangan, perencanaan pembangunan perpipaan gas, air bersih, dan air limbah, hingga permukiman.

Menikmati pemandangan kota Seoul juga tak cuma ketika berjalan di permukaan tanah. Bawah tanah juga disiapkan bagi mendukung perjalanan para pejalan kaki.

Seperti kelihatan di kawasan Gwanghwamun yg dibangun pada 1966 serta di titik perempatan besar antara kawasan perdagangan Myeongdong dan Namdaemun. Terowongan untuk pejalan kaki itu menghubungkan empat jalan raya besar yg bertemu di perempatan sibuk.

Ada banyak terowongan yg mengantarkan pejalan kaki menuju stasiun bawah tanah, perkantoran, serta kawasan perdagangan. Terowongan di sana sebagian besar diapit dinding polos tanpa hiasan. Hanya ada dua peta petunjuk jalan yg ditulis dalam aksara setempat, yakni Hangeul.

Ditujukan buat semua

Jin Young (36), warga yg tinggal di Uijeongbu—sebuah kota di Provinsi Gyeonggi-do yg terletak di selatan Seoul—mengatakan, trotoar itu memudahkan mobilisasi warga.

”Saya setiap hari melaju naik kereta dari rumah di Uijeongbu menuju Seoul. Karena mengejar waktu, aku kadang jalan cepat-cepat menuju kantor dari stasiun,” ujar Jin Young.

Bagi freelancer jenis Jin Young, kantor yg ia tuju berbeda-beda lokasi. Namun, umumnya tempat itu dekat dengan stasiun kereta api bawah tanah. ”Jadi, begitu keluar dari terowongan, aku dapat segera bergegas tanpa takut menyenggol atau tersandung satu di trotoar,” ujarnya.

KOMPAS/HELENA F NABABAN Pejalan kaki di Seoul, Korea Selatan, Selasa (4/10/2016), dimanjakan dengan trotoar yg lebar dan rapi serta tak dipenuhi pedagang kaki lima. Trotoar nyaman yg terbentang di semua penjuru kota mendukung mobilitas dan pergerakan manusia. Sayang, situasi serupa belum banyak ditemukan di Jakarta. Masih banyak trotoar yg tak nyaman karena dipadati pedagang kaki lima dan tukang ojek.

Wisatawan pun mampu menikmati kenyamanan yg disebutkan Jin Young. Berjalan kaki dari hotel di kawasan Myeongdong menuju stasiun bawah tanah terdekat sungguh nyaman. Trotoar selebar 3 meter-4 meter bebas dari PKL, membuat pergerakan kaki leluasa tanpa khawatir bersenggolan dengan pejalan kaki dari arah yg berlawanan.

Tiba di Stasiun Seoul, kami mampu melangkahkan kaki menuju pusat perbelanjaan. Stasiun ini juga dekat dengan beragam pusat perdagangan dan bisnis.

Trotoar yg menghubungkan pusat perbelanjaan juga dinaungi pohon peneduh. Jika kaki telah lelah, dua tempat duduk disediakan di ruang publik. Sambil beristirahat, kalian mampu menikmati aneka kudapan khas Seoul dan melihat kota yg teratur itu.

Pantas saja wisatawan yg ditemui di Seoul memilih jalan kaki dan memakai transportasi umum buat berkelana.

Jakarta

Di Jakarta, trotoar yg nyaman cuma ada di dua tempat seperti seputar Monumen Nasional, Medan Merdeka, Jalan MH Thamrin, dan sebagian Jalan Sudirman.

Berjalan kaki di sekitar lokasi itu ketika hari libur, sambil menikmati pemandangan sekitar, dapat menjadi salah sesuatu hiburan. Dengan berjalan kaki, kalian dapat menjangkau kawasan Monumen Nasional, Museum Nasional, ataupun pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia, yakni Sarinah.

Umumnya, trotoar di kawasan itu berdekatan dengan halte bus transjakarta dan ada juga yg dekat dengan stasiun kereta listrik.

Beberapa tahun terakhir, di sejumlah titik juga disediakan kursi bagi umum. Sayangnya, dengan volume kendaraan yg masih tinggi, menikmati kota Jakarta di tepi jalan masih berbaur dengan polusi dari knalpot kendaraan.

Masih banyak juga kawasan menarik di Jakarta yg belum memiliki trotoar yg memadai. Pusat garmen Tanah Abang, misalnya, belum memiliki akses yg nyaman untuk pejalan kaki.

Begitu keluar dari Stasiun Tanah Abang, tukang-tukang ojek dan PKL telah kelihatan memenuhi trotoar.

KOMPAS/HELENA F NABABAN Pejalan kaki di Seoul, Korea Selatan, Selasa (4/10/2016), dimanjakan dengan trotoar yg lebar dan rapi serta tak dipenuhi pedagang kaki lima. Trotoar nyaman yg terbentang di segala penjuru kota mendukung mobilitas dan pergerakan manusia. Sayang, situasi serupa belum banyak ditemukan di Jakarta. Masih banyak trotoar yg tak nyaman karena dipadati pedagang kaki lima dan tukang ojek.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faisal mengatakan, panjang segala trotoar di Jakarta mencapai 2.600 kilometer. Namun, trotoar yg nyaman buat pejalan kaki belum ada 10 persen.

Sementara buat trotoar di area lainnya mampu dikatakan belum nyaman, antara yang lain karena ada pohon ataupun tiang di tengahnya. Upaya perbaikan trotoar digarap akan pertengahan tahun ini, termasuk di Tanah Abang.

Terampasnya hak pejalan kaki serta alih fungsi trotoar, menurut pengamat tata kota Nirwono Joga, tak lepas dari pekerjaan rumah yg telah lama tak dikerjakan.

Dengan kekayaan obyek wisata di Jakarta, akses buat pejalan kaki bagi menikmati kota juga mesti diperhatikan. (HELENA F NABABAN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 November 2016, di halaman 28 dengan judul “Trotoar Kota yg Memanjakan”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/17/091215527/trotoar.kota.yang.memanjakan
Terima kasih sudah membaca berita Trotoar Kota yang Memanjakan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Trotoar Kota Yang Memanjakan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.