Terpikat Kehangatan Bromo-Tengger

No comment 96 views

Berikut artikel Terpikat Kehangatan Bromo-Tengger, Semoga bermanfaat

WAKTU membeku di Guyangan. Hingga pukul 12.15, suasana di luar pondok penginapan masih saja redup, seredup pagi hari. Hawa dingin dan berkabut, seperti siang tidak berani datang. Seakan sinar mentari tidak dapat menembus bekunya pagi di Pegunungan Tengger.

Guyangan adalah nama daerah tempat pondok penginapan kami. Rumah sederhana punya Pak Muliyat (81), warga Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, ini berada di tengah hamparan sawah yg ditanami daun bawang. Tidak jauh di belakang rumah kelihatan Gunung Bromo bersanding dengan Gunung Batok, begitu mesranya.

Meski dibekap dingin tidak berkesudahan, kehangatan persahabatan dari Pak Muliyat dapat menghangatkan jiwa yg rasanya turut membeku. Semalaman dan dilanjut pagi hari, kalian mendengarkan penuturannya mengenai Bromo dan Tengger.

Kedatangan kita pada pertengahan Juni dahulu tak dianggap sebagai wisatawan yg dengan gampang dikuras uangnya. Sejak awal, Pak Muliyat menerima kita dengan tangan terbuka di pondoknya yg cuma memiliki beberapa kamar bagi tamu itu. Ia cuma mematok Rp 50.000 per orang per malam.

Untuk makan, Pak Muliyat memanggil Bu Yuli, juru masak yang berasal Lumbang, Probolinggo. Tarif makan disesuaikan dengan menu yg dipilih, mi instan atau kentang rebus dan tumis sawi yg dipetik dari sawah.

Karena kita tiba pada bulan Ramadhan, Bu Yuli menyajikan makanan pada ketika sahur dan buka puasa. Ia juga melayani permintaan makan buat tamu yg tak berpuasa.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/30/090300027/Terpikat.Kehangatan.Bromo-Tengger
Terima kasih sudah membaca berita Terpikat Kehangatan Bromo-Tengger. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Terpikat Kehangatan Bromo-Tengger"