Tanpa Diperintah, Kampung Ini Melestarikan Penyu

No comment 116 views

Berikut artikel Tanpa Diperintah, Kampung Ini Melestarikan Penyu, Semoga bermanfaat

SERUI, KOMPAS.com – Perburuan daging dan telur penyu masih marak terjadi di dua daerah di Indonesia. Padahal penyu, menurut WWF Indonesia, termasuk dalam golongan hewan terancam punah.

Beberapa spesies penyu bahkan digolongkan sangat terancam punah. Sudah sepatutnya kami melindungi penyu demi keberlangsungan hayati, seperti dikerjakan penduduk Kampung Aisau, di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

“Sini-sini ada penyu baru menetas!” kata seorang mama sesampainya KompasTravel bersama tim ekspedisi Saireri dari WWF Indonesia, berlabuh di pantai Aisau. Kami pun tertarik dan segera menuju kandang tukik.

Sekitar lima puluh telur penyu baru saja menetas dan nampak tukik macam penyu abu bergerak aktif. “Nanti seminggu lagi kami lepas, agar dia kuat di laut,” ungkap Petrus Woriase, Sekretaris Kelompok Penyu di Kampung Aisau.

Kampung Aisau memang terbilang berbeda dengan kampung lain, kampung ini secara mandiri membentuk kegiatan konservasi penyu.

“Setelah ada sosialisasi dari yayasan, kami berkeinginan melestarikan kekayaan alam kita, termasuk kekayaan laut. Tahun 2014, kalian melakukan swadaya murni tanpa campur tangan yayasan, sampai sekarang,” kata Petrus kepada KompasTravel, Senin (13/6/2016).

Menurut Petrus pada tahun 2015, kampung Aisau pernah diberi upah oleh sebuah yayasan pelindung penyu dan cenderawasih senilai Rp 1,5 juta per bulan buat semua kegiatan konservasi penyu.

Namun sayang, upah tersebut cuma berjalan selama beberapa bulan. Meski sampai sekarang, Kelompok Penyu di Kampung Aisau masih rajin mencatat laporan tentang konservasi penyu.

“Walau tak dibayar kita tetap milik semangat bagi melestarikam tukik. Potensi laut di sini sungguh luar biasa. Ada ikan napoleon, penyu, udang. Di darat ada burung cenderawasih,” kata Petrus.

Masyarakat Aisau memang memiliki semangat buat melestarikan kekayaan alam setempat. Lewat Petrus, KompasTravel tahu seandainya di Kampung Aisau tidak diperbolehkan mengonsumsi daging maupun telur penyu, tidak boleh memburu burung cenderawasih dan mengikutsertakan suvenir cenderawasih buat perayaan adat. Masyarakat juga tidak boleh menangkap ikan dengan cara yg merusak lingkungan.

Data Kelompok Penyu di Kampung Aisau mencatat sepanjang tahun 2016 ini telah ditemukan 28 ekor penyu di pantai Aisau dan 400 tukik telah dilepaskan ke laut. “Semoga nanti ada turis tiba ke sini, potensi darat dan laut kalian luar biasa,” harap Petrus.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/16/113300027/Tanpa.Diperintah.Kampung.Ini.Melestarikan.Penyu
Terima kasih sudah membaca berita Tanpa Diperintah, Kampung Ini Melestarikan Penyu. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Tanpa Diperintah, Kampung Ini Melestarikan Penyu"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.