Suka Mendaki Gunung? Kenali Gejala “Acute Mountain Sickness”

No comment 179 views

Berikut artikel Suka Mendaki Gunung? Kenali Gejala “Acute Mountain Sickness” , Semoga bermanfaat

JAKARTA, KOMPAS.com – Mendaki gunung yaitu sebuah aktivitas di luar ruangan yg cukup populer buat masyarakat Indonesia. Bahkan aktivitas mendaki gunung seringkali dijadikan hobi yg rutin dikerjakan oleh sebagian orang.

“Namun dalam mendaki gunung, kami juga harus memperhatikan keadaan tubuh kita, apakah layak buat mendaki atau tidak. Kenali juga berbagai penyakit yg nantinya dapat menyerang pada ketika pendakian. Penyakit ini biasa disebut altitude illness atau penyakit ketinggian,” kata Mountain Guide di Indonesia Expeditions, Rahman Muchlis pada acara ‘Sharing Tips dan Pengalaman Mendaki Gunung di Atas 4.000 mdpl’ di Consina Store Buaran, Jakarta, Sabtu (25/2/2017).

Penyakit ketinggian yg biasanya menyerang para pendaki di atas gunung adalah Acute Mountain Sickness atau biasa disebut AMS.

“Hal-hal yg dapat menyebabkan pendaki terkena penyakit ini adalah daya tahan tubuh pendaki terhadap perbedaan ketinggian dan kecepatan pendakian yg tak teratur,” ujar Rahman.

(BACA: Mendaki Tujuh Gunung Tertinggi di Dunia, Apa Saja Persiapannya?)

Menurut gejala dan levelnya, AMS masih terbagi menjadi tiga kategori yakni AMS ringan, AMS sedang dan AMS berat.

Rahman menjelaskan bahwa sebanyak 75 persen masalah yg ada, AMS ringan biasanya terjadi pada ketika pendaki memasuki ketinggian 3.000 – 4.000 mdpl. Gejala munculnya AMS ringan biasanya muncul 12-24 jam setelah pendaki datang di ketinggian tersebut.

Gejala yg muncul biasanya berupa sakit kepala, mual, kehilangan nafsu makan, sesak nafas, tidur terganggu, dan yang lain sebagainya.

Solusi bagi mengatasi hal ini adalah pendaki harus tetap sadar dan tetap melakukan aktivitas ringan. “Disarankan bagi tak segera tidur seandainya mengalami gejala tersebut,” kaa Rahman.

Sementara AMS sedang, lanjut Rahman, mulai menyerang pendaki seandainya gejala pada AMS rendah tak teratasi dengan baik.

Biasanya gejala yg muncul pada AMS sedang, pendaki mulai merasakan sakit kepala parah, mual disertai muntah, penurunan kesadaran (ataksia), dan yang lain sebagainya.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Pendaki berfoto di puncak Lows Peak Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia, Selasa (22/11/2016) pagi. Gunung Kinabalu sendiri berstatus sebagai gunung tertinggi di Pulau Kalimantan yakni berketinggian 4.095,2 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Solusi seandainya pendaki mengalami gejala-gejala tersebut, segeralah turun ke tempat yg lebih rendah bagi proses penyesuaian ketinggian atau aklimatisasi.

“Hal ini harus dikerjakan buat menghindari gejala ataksia mencapai titik puncaknya di mana si penderita tak mulai dapat berjalan dengan normal,” ujar Rahman.

Rahman melanjutkan, AMS berat terjadi saat si penderita mengalami sesak nafas dan kehilangan kesadaran total (penurunan status mental).

Dalam masalah ini, pendaki tersebut telah tak sadarkan diri dan harus langsung ditandu menuju tempat yg lebih rendah dan harus ditangani serius oleh petugas medis.

“Sebenarnya bagi menghindari penyakit AMS cukup simpel. Pada ketika mendaki, biasakan bagi berjalan sesuai ritme, tak terburu-buru atau tergesa-gesa. Hal ini berguna untuk tubuh membiasakan ketinggian atau aklimatisasi. Sehingga kerja tubuh juga tetap berjalan dengan normal,” saran Rahman.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2017/02/26/192100727/suka.mendaki.gunung.kenali.gejala.acute.mountain.sickness.
Terima kasih sudah membaca berita Suka Mendaki Gunung? Kenali Gejala “Acute Mountain Sickness” . Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Suka Mendaki Gunung? Kenali Gejala “Acute Mountain Sickness”"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.