Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana

No comment 121 views

Berikut artikel Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana, Semoga bermanfaat

Oleh: Muhammad Sufyan

Jika terkait tren mutakhir kedai kopi lokal, kami tentu tidak ingin deja vu seperti Kafe Tenda Semanggi tahun 1998 yg kala itu cepat naik pamor dan jadi pilihan publik namun seketika pula memudar tidak jelas rimbanya. 

Di banyak kota besar di Indonesia kekinian, terutama memakai pendekatan tempat nongkrong yg cozy (baik dengan sentuhan interior modern, vintage, alami, hingga industrial), kedai kopi lokal akan menemukan marwahnya.

Tanpa membonceng identitas kedai kopi global, kedai kopi tersebut menawarkan identitas sendiri yg khas, yg menariknya selain sesuatu sama yang lain tidak serupa, juga menyajikan kepercayaan diri yg tinggi.

Ambil contoh di Kota Bandung. Ketika cuatan kedai kopi lokal alami banyak dimunculkan Kopi Armor di kawasan Taman Hutan Raya Juanda (kini telah ditutup dan pindah di lokasi tidak jauh beda), maka yg yang lain pantang mencontek.

Energi kreativitas barudak Bandung membuat bentuk rupa kedai kopi penerusnya bermacam ragam dan menarik.

Semisal Mimiti/Missbee dengan konsep coffee garden, Stream Coffee/Common Ground/Boyle’s (modern minimalis) hingga Kozi Lab (industrial, bahkan gunakan sebuah bekas gudang di kawasan Gudang Utara, Kosambi).       

Di yang lain pihak, apa biji kopi yg ditawarkan, juga beragam. Ada yg setia dengan kopi Jawa Baratnya seperti Morning Glory dan Yellow Truck, kopi Sumatera (Old Ben Coffee), kopi gayo (upnormal), hingga kopi Indonesia Timur yakni Sulawesi dan Flores (Cultivar).  

Dan, seluruhnya itu hidup. Tempat kopi, sekaligus hang out, ini milik massa yg loyal dan segmensial. Tidak saling memakan, karena sajian lokasi dan tentu kopinya masing-masing memiliki citra unik dan nyata terlepas dari tren kedai kopi global.

Dalam derap kemajuan semacam ini, sebagai penikmat kopi lokal sekaligus akademisi ilmu komunikasi, izinkan penulis menceritakan apa yg belum banyak dipraktekkan kedai kopi lokal sehingga keberlangsungan mereka terjaga ke depannya.

Ini agar jangan jadi sekedar tren kuliner urban yg tidak sustain dan berefek luas, kedai kopi lokal semestinya kian hari kian mengkilap dan jadi pilihan prioritas; Tak kalah keren mereka yg tiba ke tempat ini dibandingkan ke Starbuck, misalnya.

Barista Bercerita

Jika sempat ingat film Ada Apa Dengan Cinta (AADC?) II, ada fragmen menarik saat Cinta dan Rangga bertemu Pepeng. Barista dan pemilik Klinik Kopi di Gang Madukoro, Jalan Kaliurang KM 7,5, Sleman, Yogyakarta ini bukan sekedar pembuat kopi, mulai tapi seorang story teller yg baik.

Dalam adegan tersebut, dan nyatanya juga demikian, Pepeng fasih bercerita runtutan sebuah biji kopi. Dari petani mana, bagaimana para petani mengolahnya, dan akhirnya dinikmati para enthusiast coffee. Selain biji, diceritakan pula proses pengolahan kopi memakai sejumlah perangkat manual brew –masing-masing mengeluarkan potensi yg berbeda.

Ini taktik menarik dan relevan. Menarik karena ketika merecap kopi, ada sensasi soal bagaimana akhirnya dapat kami nikmati. Relevan karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan budaya lisan kuat, senang berbagi kisah sesuatu sama lainnya.

Teknik story telling ini mulai menjadi ujung tombak dari kemasan banyak kedai kopi di tanah air. Para barista mulai menceritakan cerita panjang di balik aneka biji kopi lokal, sehingga ketika minum, ada sensasi tersendiri.

Barista dapat bercerita filsofi di balik sebuah cangkir, mengapa kopi Jawa Barat lebih cocok gunakan teknik V60 dari metode lainnya, sekaligus sampaikan bahwa kopi ini lahir dari paguyuban petani yg peduli alam Gunung Puntang.

Ada proses memilih simbol, kata, kalimat per kalimat yg tepat, sehingga mulai muncul pesan komunikasi yg kuat, yg sangat memungkinkan pengunjung kedai kopi lokal kembali tiba yang lain waktu (repeat buyer).

Ada usaha selain meramu dan sajikan kopi enak, juga memberikan kontruksi kisah yg ditafsirkan, dimodifikasi, dan selalu disebarkan, sehingga budaya meminum kopi tidak lagi semata lifestyle namun telah menjadi way of life –seperti ditemukan di Sumatera.

Barista yg berkisah, menukil Asfandiyar (2007:2) adalah implementasi teknik komunikasi interpersonal yg bisa digunakan sebagai sarana menanamkan sebuah value pemasaran tanpa perlu menggurui para penikmat kopi.

Jika value telah tertanam dan diyakini, dalam bidang apapun, telah pasti publik tidak sungkan mengeluarkan effort guna meraih nilai yg diyakininya tadi. Dengan sendirinya, citra kedai kopi lokal bukan sekedar mampu lama bertahan, tetapi juga naik dari status semenjana menjadi kedai penting pilihan masyarakat urban. Para barista, berceritalah!

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2017/02/17/062000827/story.telling.taktik.agar.kedai.kopi.lokal.tak.semenjana
Terima kasih sudah membaca berita Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Story Telling, Taktik Agar Kedai Kopi Lokal Tak Semenjana"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.