Soto Rekonsiliasi Dari Surakarta

No comment 92 views

Berikut artikel Soto Rekonsiliasi dari Surakarta, Semoga bermanfaat

SEBELUM Presiden Barack Obama makan di warung pinggir jalan kala berkunjung ke Vietnam, Presiden Joko Widodo telah terbiasa makan di warung murah di Indonesia. Salah sesuatu pilihannya adalah warung soto yg menu termahalnya adalah sepotong empal berharga Rp 14.000.

Kedai Soto Gading 1 dekat Alun-alun Kidul Solo, Jawa Tengah, itu telah menjadi langganan Joko Widodo sejak masih menjadi Wali Kota Solo. Setelah menjadi presiden, ia tetap menjadi pelanggan kedai yg dioperasikan Siswo Martono sejak 1974 itu.

Siswo tak memberi nama khusus buat kedainya. Kata ”Gading” yg menjadi ”merek dagang” soto itu sama sekali tak ada hubungannya dengan gajah. Nama itu disematkan karena Siswo berdagang di daerah Gading, kawasan di selatan Keraton Kasunanan Surakarta.

Setelah 42 tahun berdagang, Siswo nyaris tak pernah mengubah pilihan menu di warung itu. Makanan utamanya tentu saja soto berkuah kental oleh kaldu ayam. Makanan pendampingnya aneka penganan dan gorengan.

Jika menu tetap, harganya yg berubah mengikuti inflasi. Namun, tetap saja terjangkau oleh banyak orang. Semangkuk soto paling mahal Rp 13.000. Hanya harga sepotong empal yg mengalahkan harga semangkuk soto paling mahal di warung itu.

Tidak heran, pelanggan warung itu berasal dari berbagai kalangan. Dari tujuh Presiden Indonesia, cuma Soekarno, Soeharto, dan BJ Habibie yg belum pernah ke sana. Sementara empat presiden yang lain pernah menyantap Soto Gading dan makanan tambahan di sana.

Bahkan, tiga presiden, yakni Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Joko Widodo, menjadi pelanggan warung tersebut. Adapun Susilo Bambang Yudhoyono makan di sana pada masa jabatan kedua sebagai presiden.

KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA Soto ayam di gerai Soto Gading 1, salah sesuatu tujuan wisata kuliner populer di Solo, Jawa Tengah.

Warung itu juga menjadi saksi ”rekonsiliasi” Joko Widodo dengan Megawati pada awal 2015. Kala itu santer tersiar hubungan mereka agak terganggu terkait isu politik tertentu.

Di warung itu, pertengahan Februari 2015, Joko Widodo mengajak Mega dan sejumlah politisi yang lain makan. Kala itu, berlangsung obrolan hangat antara Joko Widodo dan Mega.

Suasananya sama sekali berbeda dengan malam sebelum mereka makan di sana. Di malam sebelumnya, Joko Widodo dan Mega duduk berdampingan sebagai tamu dalam Musyawarah Nasional Hanura, tapi keduanya tidak banyak bicara.

Bertoleransi

Para pembeli di kedai itu saling bertoleransi. Tahu warung itu ramai, hampir tak ada yg duduk berlama-lama setelah selesai bersantap. Mereka berdiri setelah makanan dan minuman habis. Selanjutnya, pembeli yg menunggu giliran duduk mulai langsung menempati kursi yg dikosongkan itu.

Bahkan, kerap ada pembeli yg bersedia berdiri ketika minumannya belum habis. Mereka mempersilakan pembeli yang lain yg belum menyantap soto buat menduduki bangku mereka. Sementara mereka minum sembari berdiri.

Meski pengunjung semakin ramai, Siswo tak kunjung memperluas warungnya. Salah sesuatu alasannya karena bangunan buat warung itu masih dikontrak, belum dimiliki Siswo.

Seperti halnya menu yg tidak berubah, bangunan warung itu juga hampir tak berubah. Masih ada meja dan rak makanan berusia puluhan tahun. Meja-meja kayu itu penuh berisi aneka penganan dan kerap tersiram kuah soto.

Jam operasi juga tak berubah selama puluhan tahun, pukul 05.30 hingga 15.30. Waktu paling tepat buat bertandang ke sana adalah pukul 10.00. Di jam itu, waktu sarapan telah selesai dan belum masuk waktu makan siang. Dengan demikian, pengunjung tak terlalu ramai dan pilihan penganan pendamping masih banyak.

KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA Soto Gading 1, salah sesuatu tujuan wisata kuliner populer di Solo, Jawa Tengah itu. Soto ayam yg dijual di kawasan Gading, Solo itu antara yang lain pernah dijadikan lokasi perjamuan Presiden Joko Widodo dengan para ketua umum partai.

Sepotong tempe, empal, hingga sate usus bersiap dipilih jadi makanan pendamping. Sementara buat minum, sebagian besar memilih teh atau es teh.

Karena pelayanan memberikan banyak sekali potongan jeruk nipis dalam mangkuk di meja, sebagian pelanggan mengubah sendiri minumannya jadi teh jeruk. ”Pesan segera mampu juga, hanya selisih Rp 1.000,” ujar Erwin, pengunjung lain.

Erwin yg bertahun-tahun jadi pelanggan Soto Gading 1 juga menyebut lebih baik seandainya di hari kerja kalian telah tiba pada pukul 10.00. Di luar waktu itu, hampir dipastikan Soto Gading 1 ramai dan calon pembeli harus antre. (KRIS RAZIANTO MADA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Agustus 2016, di halaman 31 dengan judul “Soto Rekonsiliasi dari Surakarta”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/10/12/061900127/soto.rekonsiliasi.dari.surakarta
Terima kasih sudah membaca berita Soto Rekonsiliasi dari Surakarta. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Soto Rekonsiliasi Dari Surakarta"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.