Serba Kerbau Dari Kudus

No comment 193 views

Berikut artikel Serba Kerbau dari Kudus, Semoga bermanfaat

DI Kudus, semangkuk soto daging kerbau menjadi kawan yg sebanding untuk seporsi pindang daging kerbau.

Rasanya sulit memilih sesuatu di antaranya karena soto dan pindang daging kerbau sama-sama menyajikan cita rasa daging kerbau yg empuk dengan racikan bumbu yg merasuk menjerat lidah.

Salah sesuatu warung makan yg menyediakan soto dan pindang kerbau adalah warung Pak Sulichan. Lokasinya berada di Taman Bojana, pusat kuliner dan perbelanjaan khas Kudus, tidak jauh dari pusat kota Kudus, Jawa Tengah.

Selain warung Pak Sulichan, sebenarnya ada dua pilihan warung yang lain yg juga menyediakan menu serupa, berbahan baku daging kerbau. Ini memamerkan betapa olahan daging kerbau sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Kudus.

Hal ikhwal daging kerbau tersebut, konon karena masyarakat Kudus pernah ”dilarang” mengonsumsi daging sapi. Sunan Kudus yg kala itu menyebarkan agama Islam di Kudus, menyosialisasikan agama Islam kepada penduduk yg memeluk agama Hindu dan Buddha dengan cara simpatik.

Agar tidak menyinggung masyarakat yg menyucikan hewan sapi lantaran mayoritas warga masih memeluk agama Hindu saat itu, Sunan Kudus meminta masyarakat Muslim mengganti konsumsi daging mereka dari sapi menjadi kerbau.

Hingga ketika ini, kebiasaan mengonsumsi daging kerbau masih selalu ada dan berlanjut di Kudus. Tak cuma menu masakan soto dan pindang, bahkan sate pun memakai daging kerbau di kota ini.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Warung soto dan pindang kerbau Haji Sulichan di Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/5/2016).

Legendaris

Siang itu kalian memilih mencicip soto dan pindang kerbau di warung Pak Sulichan karena warung Pak Sulichan tergolong legendaris. Warung ini konon telah berdiri sejak tahun 1968 dan sudah dua kali berpindah tempat jualan.

Meski ukuran warungnya kecil, di antara warung-warung lainnya, warung Pak Sulichan tampak paling ramai. Kursi-kursi penuh pengunjung yg menantikan pesanan mereka dengan tidak sabar.

Sebagian pengunjung lainnya tampak asyik menikmati hidangan di depan mereka, tidak terkecuali rombongan tim Selisik Batik Kompas. Mereka ada yg memesan soto, ada pula yg memesan menu pindang.

Selain soto dan pindang daging kerbau, warung Pak Sulichan juga menyediakan soto dan pindang ayam. Namun, soto dan pindang daging kerbau masih menjadi ”buruan” pengunjung.

Menu pelengkap yang lain berupa otak, paru, perkedel, dan kerupuk rambak yg tersaji di atas meja juga tidak kalah memikat buat dicicipi. Tambahan lauk tersebut membuat semangkuk soto dan sepiring pindang kerbau makin mantap bagi dinikmati.

Soto daging kerbau, dari penampakannya tidak terlalu berbeda dengan soto daging sapi atau ayam. Keduanya sama-sama disajikan dalam mangkok dengan bahan pelengkap, seperti taoge dan potongan daging kerbau dengan ukuran cukup besar. Tak lupa limpahan bawang merah goreng di atasnya.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Soto kerbau Haji Sulichan di Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/5/2016).

Cita rasanya lumayan menggoyang lidah dan membuat seolah sesuatu porsi saja tidak mulai pernah cukup. Sensasi rempah dan rasa gurih khas soto dapat semakin diperkaya dengan tambahan kecap manis, perasan jeruk nipis, serta tidak lupa sambal buat ”memanaskan” suasana.

Berbeda dengan soto kerbau yg disajikan memakai mangkuk, pindang kerbau disajikan di atas piring beralas daun pisang. Kuahnya kecoklatan dengan potongan daging kerbau yg lagi-lagi berukuran besar, menggoda bagi langsung disantap bersama nasi putih.

Di bagian atas, terdapat daun melinjo dan taburan bawang merah goreng yg melimpah. Paduan daun melinjo yg segar dan gurih bawang merah goreng, melengkapi cita rasa pindang kerbau yg bercita rasa manis.

Baik soto maupun pindang, keduanya sama-sama berhasil memikat lidah. Soto atau pindang, sama-sama menggoda bagi dinikmati dan sekali lagi, sesuatu porsi seolah tidak terasa cukup buat dapat memberi kepuasan ragawi.

Masakan ibu

Menurut Ina, anak perempuan Pak Sulichan, yg kini bertanggung jawab mengelola warung di Taman Bojana, soto dan pindang yg disajikan di warung dimasak oleh sang ibu. Proses memasak dikerjakan di rumah, dibantu empat orang asisten.

Selain rasanya yg pas di lidah, irisan daging kerbau yg disajikan dalam mangkok soto dan piring pindang terasa lembut dan empuk, sama sekali tak alot. Dalam benak saya, daging kerbau jauh lebih liat dan alot sehingga sempat khawatir saat mulai mencicip pertama kalinya.

Salah sesuatu resepnya, kata Ina, adalah cara memasak memakai kayu bakar yg hingga kini masih selalu dipertahankan. ”Ini pesan dari ibu. Karena kalau memakai kayu bakar lebih cepat empuk,” kata Ina.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Pindang kerbau Haji Sulichan.

Namun, apabila daging yg digunakan adalah daging kerbau berusia muda, sebaiknya tak merebusnya terlalu lama agar tekstur dagingnya tetap terjaga. Tidak hancur.

”Kami juga berusaha terus memakai bahan-bahan pilihan bagi menjaga kualitas masakan. Selain dagingnya, juga bumbu-bumbunya. Seperti keluak yg dipakai buat pindang. Terasi kami juga milih,” ujar Ina.

Malahan kecap yg digunakan bagi pindang pun khusus karena bukan kecap-kecap yg dijual bebas di pasaran. ”Kebetulan ada tetangga yg bikin kecap. Jadi, kami pesan. Ada racikan khusus buat pindang,” ujar Ina.

Jangan kemalaman singgah di sini. Pukul 20.00 telah tutup loh! (DWI AS SETIANINGSIH/WISNU DEWABRATA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 September 2016, di halaman 30 dengan judul “Serba Kerbau dari Kudus”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/18/170800127/serba.kerbau.dari.kudus
Terima kasih sudah membaca berita Serba Kerbau dari Kudus. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Serba Kerbau Dari Kudus"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.