Sepenggal Kisah Gerbong Maut Di Museum Brawijaya, Malang

No comment 75 views

Berikut artikel Sepenggal Kisah Gerbong Maut di Museum Brawijaya, Malang, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Museum Brawijaya di Malang milik banyak koleksi benda bersejarah. Sebut saja Gerbong Maut yg menyimpan kisah sedih zaman penjajahan.

Museum Brawijaya dikenal mulai koleksinya yg berupa gerbong maut. Pada masa Belanda, gerbong ini mengangkut banyak orang tanpa ventilasi udara sehingga banyak yg meninggal. Namun selain gerbong maut, ada pula berbagai koleksi museum lainnya yg dapat tidak mengurangi wawasan sejarah.

Museum Brawijaya yaitu salah sesuatu museum yg ada di Malang. Lokasinya sangat strategis dan gampang dijangkau oleh angkutan umum, merupakan terletak di Jalan Ijen No 25 yg rindang dan asyik bagi jalan-jalan.

Sejak kecil telah terhitung dua kali aku mengunjungi museum ini. Apalagi saat duduk di bangku SMA, lokasi belajar dan museum ini tidaklah terlalu jauh dan mampu dijangkau dengan berjalan kaki.

Salah sesuatu koleksi museum ini yg tidak jarang dijadikan bahan obrolan kita adalah gerbong maut. Ada cerita yg mencekam di dalamnya, membuat kita menduga-duga bagaimana menderitanya penumpang gerbong tersebut selama perjalanan.

Kisah gerbong maut berlatar waktu tahun 1947 di mana ketika itu masih terjadi agresi militer Belanda. Ada banyak gerilyawan dan tentara yg berupaya mempertahankan kemerdekaan. Salah sesuatu perlawanan tersebut ada di Bondowoso.

Para pejuang ditangkapi. Oleh karena jumlah tahanan yg tak mampu ditampung di penjara Bondowoso, maka 100 tahanan yg dianggap paling berbahaya pun hendak dipindahkan ke penjara Bubutan Surabaya pada 23 November 1947.

Ada tiga gerbong kereta, GR5769 dan GR4416 dan GR10152. Oleh karena tak adanya makanan minuman, serta ruang bernafas yg susah maka sebagian besar tahanan pun lemas setelah mengalami perjalanan belasan jam.

Mereka berdesakan, kelelahan, dan terpanggang oleh panasnya gerbong. Sungguh malang, 46 tahanan tewas mengenaskan, korban terbesar di gerbong GR10152 yg tak memiliki ventilasi udara sama sekali.

Saat aku kembali berkunjung ke sini, perhatian aku tak terfokus kepada gerbong maut tersebut, melainkan melihat-lihat koleksi museum lainnya. Tidak banyak perubahan yg terjadi pada museum yg dibuka sejak tahun 1968 ini, kecuali koleksi tanknya yg sekarang dilindungi, tak seperti pada ketika masih kecil di mana ada banyak pengunjung yg asyik bermain-main dan naik di atas tank.

Kolam ikannya juga masih sama seperti dulu, dengan adanya ikan mas yg yg asyik berenang di kolam ikan berwarna kehijauan itu. Saya berjalan masuk dan membayar tiketnya yg bertarif Rp 3 ribu per orang.

Tidak banyak pengunjung yg masuk ke bangunan museum ketika itu, lebih banyak mereka yg asyik berfoto-foto di depan dan halaman. Di depan museum terdapat tiga tank yg digunakan pada pertempuran 10 November 1945 di Surabayaya dan di halaman terdapat Tank AMP-TRACK yg digunakan 35 pejuang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) buat bertempur pada 31 Juli 1947.

Museum ini buka setiap harinya dari pukul 08.00 hingga 14.30 WIB. Namun khusus bagi Jumat tutup pukul 11.30 dan pada Sabtu dan Minggu tutup pada pukul 13.00 WIB. Ada beberapa ruang koleksi di museum ini.

Oleh karena museum ini yaitu museum perjuangan, maka koleksinya didominasi hal-hal tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama pada masa agresi militer Belanda. Namun koleksinya bukan sebatas yg digunakan bagi bertempur di Malang, namun juga di daerah sekitarnya seperti Surabaya dan Bondowoso.

Di ruang koleksi penting ada berbagai koleksi yg menarik. Di antaranya mobil De Soto USA yg digunakan sebagai mobil dinas Kolonel Soengkono ketika menjabat sebagai Panglima Divisi Brawijaya, berbagai senjata, samurai, meja kursi yg digunakan bagi perundingan gencatan senjata antara TKR dan sekutu pada 29 Oktober 1945.

Selain itu ada pula lukisan yg menggambarkan terbunuhnya Mallaby dan pertempuran 10 November 1945, peta pendudukan Belanda ketika agresi militer tahun 1948, seragam tentara Indonesia, mata uang yg pernah beredar pada masa revolusi, radio dan alat komunikasi ketika perjuangan, merpati pos, juga catatan peristiwa masa itu yg direkam oleh koran lokal, seperti Bhirawa.  

Melihat banyaknya foto-foto dan quote dari Jenderal Soedirman, aku merasa museum ini dibangun buat mengenang jasa buat panglima besar TNI AD ini. Ada patung setengah badannya yg menyambut pengunjung saat memasuki museum. Ada juga peta rute gerilya, peralatan bertempurnya, juga berbagai lukisan Jenderal Soedirman dan beragam pesan bijaknya.

Saya menyukai pesan-pesan bijaknya seperti “Janji telah kami dengungkan, tekat telah kami tanamkan, segala ini tak mulai bermanfaat apabila janji dan tekat ini tak Kita amalkan dengan amalan yg nyata”. Pesan bijak lainnya berupa “Jangan bimbang menghadapi macam-macam penderitaan, karena makin dekat cita-cita kami tercapai, makin berat penderitaan yg harus kami alami.”

Koleksi lainnya yg dapat disimak merupakan relief kekuasaan kerajaan Majapahit dan relief penugasan pasukan Brawijaya, peta kota Malang dan foto tempo dulunya, peralatan musik, dan tentunya Gerbong Maut dan Perahu Sigigir yg digunakan pada November 1947.

Bangsa yg besar mulai terus menghargai jasa pahlawannya. Dari hasil berkunjung ke Museum Brawijaya ini aku merasa betapa beratnya memperjuangkan dan kemudian mempertahankan kemerdekaan masa itu. Sehingga rasanya telah tugas generasi penerusnya bagi terus menjaga keutuhan bangsa di berbagai era.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/07/14/142000/3251578/1025/sepenggal-kisah-gerbong-maut-di-museum-brawijaya-malang
Terima kasih sudah membaca berita Sepenggal Kisah Gerbong Maut di Museum Brawijaya, Malang. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sepenggal Kisah Gerbong Maut Di Museum Brawijaya, Malang"