Seminggu Berkeliling Eropa Dari Belanda

No comment 174 views

Berikut artikel Seminggu Berkeliling Eropa dari Belanda, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Menghabiskan beberapa pekan liburan Natal di Belanda mulai terasa sangat membosankan. Yuk jalan-jalan keliling Eropa.

 

Apalagi ini musim dingin, inginnya pergi cari sinar matahari. Maka terbersitlah keinginan buat pergi eksplor Eropa ini. Apalagi dengar-dengar, kalau telah berada di Belanda, negara lainnya sangat gampang di jangkau. Makanya disebut ‘Jendela Eropa’. Langkah pertama adalah mengumpulkan teman. Semakin rame semakin bagus. Maklum, penikmat sharing cost. Ada sedikit keraguan, cukup enggak duitnya.

 

Hasil diskusi dengan teman-teman, adalah salah sesuatu solusi dengan menggunakan eurail http://www.eurail.com/eurail-passes. Dengan pass ini sangat memungkinkan buat menjelajah 30 negara Eropa mennggunakan kereta dengan harga yg lumayan terjangkau. Namun kendalanya adalah harus tinggal di Eropa minimum 6 bulan bagi dapat mendapatkan kartu ini.

 

Tapi buat urusan begini emang di Eropa ketat peraturannya. Dan juga buat harga kartu termurah adalah kartu bagi seminggu. Dalam seminggu paling menjelajah 3 sampai 5 negara. Dan bagi jelajah 3 sampai 5 negara rasanya harga kartu itu masih mahal.

 

Jalan keluarnya? Bikin itinerary sendiri, bermodalkan perbandingan harga di dua website. Permasalahan berikutnya, negara mana? Akhirnya baru pertama kali buka map dunia. Yang Menjadi catatan adalah, libur memang 2 minggu, tetapi berapa hari bagi beristirahat setelah trip. Sesudah hitung-hitung, ternyata biayanya lebih murah. Namun ada kendala lainnya, teman-teman yg tadinya diajak akhirnya batal dengan berbagai alasan. Lalu? Ya tetap solo trip.

 

Mulailah booking sana-sini. Biasanya sih kalo di Indonesia, go show aja masih berani. Maksudnya, cari penginapan atau tiket on the spot sih masih berani. Kalau kepepet, pahit-pahitnya nginep di stasiun atau tidur di mushola, atau mandi di toilet umum pom bensin sih masih berani lah. Tapi beda cerita di Eropa, apalagi musim dingin. Salah-salah dikira imigran gelap. Berurusan dengan Polisi bukan bagian dari itinerary.

 

Bandingkan harga hostel di Hostelworld.com dan booking.com. Saya prefer booking.com karena dapat bayar sesudah nanti sampai di tempat. Booking aja dulu. Pilih Hostel yg menyediakan free wifi dan sarapan. Ini wajib dan penting. Selain 2 situs itu, saya juga mencoba pakai airbnb.com dan Yestudent.com. Yang beberapa terakhir berakhir gagal. Bahkan sampai di kota yg dituju, respon masih tak ada. Sesudah liburan berakhir, barulah respon itu ada. Sebelum berangkat, jangan lupa berdoa dulu. Mungkin terdengar remeh, tetapi memegang peranan penting. Supaya dimudahkan dan dilindungi selama perjalanan dan sampai ke rumah lagi dengan selamat. Jangan lupa Bawa passport dan id card.

 

Kota pertama, Antwerpen di Belgium. Dari Belanda mampu ambil kereta dari Amsterdam. Tapi kereta itu juga mulai lewat Roosendal. Jadi,langgsung ke Roosendal. Perjalanan dari Roosendal ke Antwerpen memakan waktu 45 menit. Dan keretanya enggakga seperti kereta Belanda pada umunya. Lebih jelek. Tapi sama sekali enggak menyangka kereta internasional. Harga Tiket yg tercantum di kartu adalah E10, tetapi kalian bayar E13. Kereta ini mulai berhenti di Antwerp Central Station. Selama 45 menit mencoba buat membaca lagi itinerary. Mencoba mengimajinasikannya, siapa tahu ada waktu yg tak direncanakan dengan baik. Juga supaya ingat seluruh itinerary.

 

Selama perjalanan, pandangilah struktur bangunan-bangunan di perbatasan itu. Rasanya berbeda. Ukuran rumah mereka kelihatan lebih minimalis daripada rumah Belanda pada umumnya dan mereka pakai pagar. Rumah di Belanda jarang banget pakai pagar. Mereka hanya tanam bunga-bunga atau tumbuhan apalah di depan rumahnya. Bukan pagar.

 

Maksudnya, selama perjalanan cobalah menjalin komunikasi dengan orang-orang di sebelahmu. Tanyakan apa saja yg dapat menolong itinerarymu lebih mudah. Misal, tanyakan alamat hostel mu. Siapa tau mereka paham tempat itu, dan mampu kasih kamu short way or easy way to get there. Atau dapat juga tanyakan dimana tempat yg paling harus musti kudu wajib dikunjungi di Antwerpen. Believe me, local knows how to enjoy their city better than google. Tapi, harus berhati-hati juga ya, jangan pernah memberi keterangan pribadi kepada orang yg tak dikenal. Jangan tunjukkan hartamu. Di sinilah peranan doa itu tadi. Supaya Tuhan memperlihatkan orang yg benar bagi bertanya. Walaupun mungkin bukan buat memberi informasi, tetapi buat sekedar bertukar cerita menikmati perjalanan juga baik. Dari pada salah kenalan taunya sama berandalan.

 

45 menit tak terasa, tiba-tiba terdengar pengumuman kereta telah sampai di Antwerpen Central tanpa cap di passport. Inilah Belgium. Ini mah bukan stasiun kereta, ini mah istana kerajaan kek di tv. Mungkin kalau kamu orangnya enggak jelalatan, mampu jadi kamu hanya lihat kereta dan kereta doang di depan, kiri, kanan. Tapi mencoba lihat ke bagian atas, maka kamu mulai melihat bahwa ini bukan stasiun biasa. Naiklah ke lantai 2. Di situ kamu mulai berasa main film. Itulah spot terbaik foto dengan latar belakang tulisan Antwerpen. Ukiran-ukirannya yg menghibur mata banget. Keluarkan segala senjata fotomu.

Tapi, tetap waspada sama barang-barang bawaan ya jangan lupa diri juga. Perjalanan masih panjang.

Dari stasiun, keluarlah dari pintu arah Steeinplein. Lalu serong kanan karena kalau enggak, pasti nabrak toko seberang jalan. Nah berjalanlah lurus ke depan. Sepanjang jalan mulai banyak sekali sepeda parkir, cafe-cafe, dan toko-toko. Santi, ada Mc.D, dapat beli cemilan sambil nikmatin perjalanan. Juga bagi merileks kan diri, biar enggak keliatan gerogi. Ingat, jangan pasang muka bengong ya. Pasang muka sok ngerti tetapi ramah dan anggap saja kamu udah tidak jarang ke Antwerpen.

 

Lalu sampailah di persimpangan pertama jalan besar dan di depannya ada Patung. Ada kursi-kursi warna hijau di sekeliling patung itu. Lanjutkan, perjalanan lurus ke depan dan siaplah tercengang dengan kemegahan bangunan-bangunan Antwerpen yg memukau. Enggak ada bangunan yg normal dan biasa. Semua diukir, patung-patung dan indah.

 

Setelah melewati patung di intersection pertama itu, maka kamu pasti segera menuju The Meir. Ada banyak papan penunjuk jalan, yang berasal mampu baca, pasti enggak bakal hilang. Awalnya sempat berfikir kalau The Meir adalah nama bangunan. Ternyata bukan The meir adalah nama kawasan shoping. Semacam alun-alun seluruh ada akan dari yg mahal sampai ke yg agak mahal.

 

By the way, Belgium itu adalah tentang 5 hal, merupakan berlian, ice cream, cokelat, waffle, dan frits atau kentang goreng. Kentang goreng panjang-panjang yg tidak jarang kami sebut French Fries itu originalnya berasal dari Belgium. Entah kenapa yg terkenal malah French ya. Jadi, jangan coba-coba beli french fries disini ya, mereka enggak seneng. Bilang saja frits. Itu ibarat mau beli oleh-oleh di toko souvenir Malaysia tetapi ketemunya Wayang. 

 

Biarpun cuaca dingin, belilah Waffle Belgium dengan topping es krim cokelat. Semuanya seharga E 3-an. Cuma untuk nyobain saja. Walaupun para orang eropa itu pada ngelihatin karena mereka enggak makan es krim di cuaca hampir nol itu, tetapi aku malah pake toping es krim. Setelah jalan lurus sekitar 15 menit sampailah di sebuah pertigaan. Sebelah kanan itu ga terlalu ramai. Pilihlah sebelah kiri. Yang paling banyak orangnya atau perhatikan papan penunjuk jalan. Tidak jauh dari situ, ada Hotel Hilton di sebelah kiri ambil jalan kanan atau tepat di depan Hilton, maka kamu pasti segera melihat Groenplaats. Itu patung ijo atau Groen yg artinya hijau. Dipakai untuk wahana ice skate berkeliling si patung. 

 

Dari Groenplaats, ambil jalan kiri lihat ke atas, lihat banguan gereja paling tinggi. Jalan sedikit, maka di sebelah kanan kamu mulai berdiri tinggi menjulang ke angkasa bangunan The Cathedral of Our Lady. Atau dalam papan penunjuk mereka mulai tulis Onze-Lieve-Vrouwekathedraal. Bangunan ini salah sesuatu dalam daftar Unesco World Heritage Sites. Tingginya 123 meter. Di depan Gereja ada another papan penunjuk. Terserah mau kemana, juga petanya. Tapi pilih lurus ke depan gereja. Oh iya, pas di halaman gereja ada patung baby sleep with his dog. Enggak tau apa ini ada hubungannya dengan cerita Nello and Patrasche. Soalnya posisinya beda.

 

Lurus dari gereja mulai banyak warung-warung makan semua macam makanan. Dan yg paling banyak beredar adalah kebab. Harganya sekitar E 4-5an. Melewati warung-warung itu, maka tibalah di tempat yg menjadi highlight of Antwerpen. The Icon of Antwerpen. Stadhuis dan juga patung Brabo and the Giant Hand. Kalau telah sampai di kawasan ini, berarti kamu berada di kawasan The GrooteMarkt. Pusat keramaian, buah, dan perhiasan silver. Pusat orang ganti-ganti berfoto walau tidak kenal. 

 

Paling ditunggu foto di Brabo and The Giant Hand. Si Brabo ini ada legendanya loh. Dulu, Sungai Schelde yg juga ada di sekitar GrooteMarkt itu di kuasai oleh raksasa bernama Druoon Antigon. Setiap kali ada nelayan yg tiba ke sungai itu terus dipalak. Kalau enggak ngasih tangannya dipotong selalu dilempar ke Sungai Schelde. Nah, dahulu adalah seorang prajurit bernama Brabo yg berhasil mengalahkan si raksasa. Brabo potong tangannya si Druoon dan dilemparkan jauh-jauh. Itulah awal nama Antwerpen, artinya hand atau tangan, werpen berarti membuang. Yang sekarang jauh lebih terkenal dengan nama Antwerpen. Nah tangan si raksasa yg dilempar itu dapat kamu lihat di sepanjang Jalan Meir. Ada patung tangan besar di situ. Kalau kamu jalan dari station, patung tangannya ada di sebelah kanan. Kadang-kadang suka ketutup sama orang-orang yg mau potoan.

 

Selesai dari Brabo, perhatikan tanda penunjuk jalan. Pilih ke Schelde River. Kalo posisi kamu tepat, kamu mulai lihat ada bianglala di salah sesuatu sudut kota itu, nah ikutin aja bianglala itu. Karena bianglalanya terletak tepat di sebelah Sungai Schelde. Hati-hati kalau menyeberang, terus tunggu lampu tanda pejalan kaki warna hijau. Atau bakalan di cipok sama mobil. 

 

Setelah puas berkeliling, aku menetapkan bagi mencari hostel yg telah di-book sebelumnya. Berhubung telah waktunya bagi check in juga. Bagaimana caranya? Sebenernya alamat dan penunjuk jalan telah diberikan dengan jelas melalui aplikasi booking.com. Pukul 16.40 sampailah di hostel. Letaknya sangat asik enggak terlalu rame, tidur enak, sarapannya cukup buah, roti, free coffee and tea, dapur luas, ruang makan luas, ruang ngobrol juga luas, kamar bersih, lemari di kamar walaupun tanpa kunci, kamar mandi cukup, toilet bersih, walau suasana backpackernya di sini kurang berasa. Enggak banyak orang ngobrol, apa karena terlalu luas kali ruang makan. Untuk ukuran hostel ini enak. Waktu baca reviewnya, ada dua review yg negatif, tetapi mungkin lagi apes aja. Itu juga pentingnya doa biar enggak apes.

 

Pesan kamar campur kapasitas 8 orang, yg hasilnya malah perempuan sendiri. Tapi asiknya justru mereka menolong mengkaji ulang itinerary dan memberi masukan ini itu soal tempat yg harus dikunjungi. Lalu bertukar kenang-kenangan. Apakah itu? Koin mata uang negara yang berasal atau sekadar bertukar email, facebook, nomer whatsapp. Yang paling enak adalah mampu tawaran kalau kamu berkunjung kotaku, kamu saling memberi tahu, tempat tinggal dan makan enggak perlu dipikirkan.

 

Dari malam itu menghasilkan juga seorang mahasiswa double degree yg bersedia mengelilingi menghabiskan pagi sebelum berangkat ke Paris. Soalnya dia tau terminal bus yg mulai dikunjungi dan kami sepakat mau cari makanan tradisional. Toko-toko makanan belum ada yg buka di pagi hari. Kita ada sedikit foto-foto di Ruben Thuis, World War I & II Monument, selalu foto-foto narsis yg enggak tau nama bangunannya. Lalu kalian berhenti untuk nyobain Frits yg dilayani oleh pelayan yg ngotot ngomong bahasa local. Tapi karena dia milik buku menu dan harganya, tinggal tunjuk aja deh, terserah ngomong apa. Beli porsi paket. Sepaket berdua. Dan bayar setengah-setengah. Sharecost ceritanya. 

 

Selesai makan, dia anterin aku ke tempat mangkal flixbus. Tepatnya di Astrid Koningin. Jadi patokannya dari Centraal station, segera pilih exit di main gate, atau kalau dari pintu yg kemarin segera ke kanan. Di depan main gate, ada Zoo dan taman bunderan. Nah Flixbus dan bus-bus yang lain mulai mangkal di sana. Kalau milik waktu banyak untuk nunggu, bolehlah singgah sebentar ke China Townnya. Hanya lurus dari taman bunderan itu. Dan bersiap melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Jangan lupa siapkan Passport dan ID. Karena walaupun perjalanan memakai bus, tetapi mereka tetap mulai cek dokumen kita. Flixbus dilengkapi dengan Charger dan free Wifi. 

 

Bersambung ke kota dan cerita berikutnya ya!

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/02/27/121700/3396232/1025/seminggu-berkeliling-eropa-dari-belanda
Terima kasih sudah membaca berita Seminggu Berkeliling Eropa dari Belanda. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Seminggu Berkeliling Eropa Dari Belanda"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.