Sembahyang Ronde

No comment 232 views

Berikut artikel Sembahyang Ronde, Semoga bermanfaat

Oleh: Aji Chen Bromokusumo

SALAH sesuatu perayaan utama dalam sesuatu tahun penanggalan Tionghoa adalah Sembahyang Ronde yg terus jatuh pada tanggal 22 Desember. Tahun ini jatuh di hari ini 21 Desember 2016.

Di hari itu, sejak sore hari sebelumnya kalian sekeluarga biasa akan menyiapkan perlengkapan membuat ronde. Ada nampan buat ronde yg telah dibulatkan, ada tumpukan tepung dalam plastik, ada botol-botol kecil pewarna makanan bagi mewarnai ronde, ada jahe tua yg telah dicuci bersih dan gula pasir dalam tempatnya.

Ketika malam menjelang, suara bantingan adonan tepung ke meja dapur yg terbuat dari batu terdengar menggema di semua rumah…

Menguleni dan membanting adonan sampai gempi. Setelah itu, ditaruh di wadah-wadah terpisah antara sesuatu warna dengan warna yang lain dan ditutup lap basah bagi didiamkan dua saat.

Ketika malam tiba, kita sekeluarga duduk berkeliling, membuat bulatan-bulatan ronde warna warni.

Asimilasi budaya kembali berperan, adanya ronde rasa coklat asli yg berwarna coklat gelap mengundang selera, karena dicampur dengan bubuk coklat van Houten.

Kami anak-anak sangat menikmati pembuatan ronde yg jumlahnya mencapai ratusan butir. Sisa-sisa adonan biasa kalian acak dan obar abir warnanya sehingga menghasilkan ronde-ronde warna aneh dan cantik seperti kelereng.

Hijau, merah-jambu, coklat, putih, dan campuran segala warna itu menghiasi nampan. Setelah selesai, serbet lembab ditutupkan ke hamparan ronde di atas nampan.

Potongan-potongan besar jahe yg telah dikupas bersih, dicuci dan dibakar di atas api sebentar, kemudian dimemarkan alias digecek, direbus bersama air dan gula pasir banyak-banyak. Hasilnya adalah kuah kental jahe yg sangat pedas dan manis.

Pagi harinya telah menguar bau harum rebusan jahe dijerang di atas kompor. Semerbak gula cair hangat juga tercium di dapur kami. Sembahyang ronde langsung dimulai.

Sembahyangan biasa dengan hio dan menyajikan ronde di meja sembahyangan. Saat yg dinantikan tiba.

ISTIMEWA Ronde yg telah bersiap dihidangkan.

Setelah disajikan bagi sembahyangan, ronde yg demikian banyak diambil sesuai keinginan berapa banyak ingin memakan.

Kemudian ronde-ronde itu direbus dalam air mendidih sampai mengapung yg menandakan telah matang. Setelah itu ditambahkan kuah kental tadi sesuai selera dan diencerkan dengan air panas.

Bagi yg senang lebih pedas dan hangat serta manis, kuah kentalnya lebih banyak, untuk yg senang yg lebih light, kuah kentalnya lebih sedikit. Menyeruput ronde hangat-pedas di pagi hari…aaahhh…sungguh nikmat…

Dongzhi Festival

Dongzhi Festival alias Winter Solstice Festival adalah salah sesuatu perayaan terpenting dalam sepanjang tahun Penanggalan Imlek. Dongzhi Festival adalah perayaan terakhir dari semua rangkaian perayaan di penanggalan Imlek.

Tepat di hari ini, matahari berada di Tropic of Capricorn sehingga hari itu adalah malam terpanjang atau hari terpendek dalam setahun.

Di Tiongkok kuno, perayaan ini dirayakan dengan berkumpulnya segala keluarga besar, dan mereka mulai membuat sesuatu makanan yg disebut dengan tang yuan (??, pinyin: tang yuan, dibaca: dang yuen), yg artinya kurang lebih adalah kuah ronde.

Dalam bentuk aslinya di Tiongkok, pembuatan ronde ini adalah dengan tepung ketan yg kemudian dibulat-bulat, dan diberi warna.

Tentu saja warna-warna cerah mendominasi bulatan ketan itu. Putih, merah, hijau cerah, kuning banyak mendominasi bulatan-bulatan ronde.

Ronde ini disajikan dalam kuah manis dan sering kaldu daging. Seiring berjalannya waktu, modifikasi ronde juga berkembang, dengan diisi kacang tanah cincang, wijen, tau sa alias kacang hitam, dan sebagainya.

Ronde dibuat dengan tepung ketan dan air saja, tak memakai gula sama sekali dan tanpa ragi atau baking soda sekalipun. Makna dari ronde yg terbuat dari tepung ketan yg lengket adalah bagi merekatkan kekerabatan serta mempererat hubungan antarkeluarga. 

Ronde yg kalian untuk adalah ronde yg plain alias tanpa rasa apapun. Rasanya tawar dan tanpa bahan isian apapun.

Tahun-tahun belakangan sebelum anak-anak merantau ke luar kota semua, kita di Semarang, Jawa Tengah, memilih praktisnya saja membeli ronde jadi dengan ukuran yg cukup besar, dengan berbagai bahan isian.

Kami beli jadi di Pasar Gg Baru Semarang. Sekali lagi silang budaya di sini memamerkan perannya.

Di tempat yang berasal di Tiongkok ronde yg dihidangkan dengan kuah manis atau kaldu daging, di Indonesia kebanyakan keluarga membuat kuah ronde dengan jahe dan gula, sehingga lebih tepat disebut dengan wedang ronde. Wedang ronde gabungan kompak dan harmonis antara rasa manis gula, pedas, dan hangat dari jahe, serta kekenyalan ronde dan isinya yg mak nyus.

 

Asal usul ronde

Wedang ronde Indonesia tak mulai dijumpai di belahan bumi manapun, karena asimilasi budaya Tionghoa dengan budaya Nusantara.

Kata ronde berasal dari bahasa Belanda ‘rond’ yg berarti bulat. Dalam bahasa Belanda, jamak digunakan akhiran/sufiks pengecil ‘je’, seperti misalnya: toetje (dessert, pencuci mulut), patatje (kentang goreng), schuitje (jadi sekoci), bakje (jadi baki), petje (topi, yg kemudian jadi peci), boontjes (buncis), kaartjes (karcis), beberapa belakangan dalam bentuk jamak.

Bahkan bagi nama orang seperti Antje, Heintje (penyanyi Belanda yg populer juga di Indonesia). Tidak mengherankan orang-orang Belanda yg melihat sajian ini menamakannya ‘rondje’ – lebih gampang bagi lidah daripada ‘tang yuan’. ‘Rondje’ sendiri tak begitu gampang bagi lidah lokal, sehingga lama-lama menjadi ronde sampai sekarang.

Dulu kala, sekitar 25 tahun yg lalu, masih banyak tukang ronde pikulan keliling di jalan-jalan kota Semarang. Pikulan kecil dengan stoples-stoples kaca berisi kuah kental jahe dan gula beserta ronde-ronde yg ukurannya lebih besar dari ronde bikinan rumahan.

Ronde-ronde itu ada yg bersaput wijen, ada yg isinya kacang tanah cincang, ada yg isinya gula jawa, atau tau sa (kacang hitam).

Variasi cara menghidangkannya juga banyak modifkasi. Favorit aku adalah wedang ronde dengan isi kacang tanah cincang, wedang jahe yg super pedas tetapi manis yg kurang, plus taburan kacang tanah goreng dalam wedangnya plus dua potong sekoteng. Kadang kala tukang ronde keliling tersebut membawa camilan buat teman wedangan.

Masih jelas dalam ingatan suara tukang ronde pikulan dengan tabuhannya yg khas, seperti gembreng kecil yg digantung di pikulan serta pemukul kecil dari bambu atau kayu dengan suaranya: “teng, teng, teng, teng”, tanpa suara penjualnya.

Tapi suara itu sanggup memanggil penikmatnya keluar dari rumah mencari si bapak tukang ronde, berteriak memanggilnya sambil melambaikan tangan. Apalagi dinikmati di malam-malam panjang yg dingin, luar biasa nikmat!

 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/12/21/171412427/sembahyang.ronde
Terima kasih sudah membaca berita Sembahyang Ronde. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sembahyang Ronde"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.