Selangkah Lagi Ke Puncak Merapi

No comment 111 views

Berikut artikel Selangkah Lagi ke Puncak Merapi, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Mendaki sampai ke Puncak Merapi memang menjadi impian banyak orang. Namun batas aman pendakian cuma sampai Pasar Bubrah.

Langkah aku terhenti di sebuah dataran penuh dengan batu berbagai ukuran yg berserakan. Inilah Pasar Bubrah yg dalam Bahasa Jawa berarti pasar yg berantakan. Penamaan yg unik namun dapat mempresentasikan bagaimana kondisi yg sebenarnya di sini, berantakan.

“Bayangkan seandainya batu-batu ini berhamburan menerjang dan jatuh di antara kalian ya,” ujar aku sambil bercanda kepada yg lain.

“Hussshh, jangan omong gitu ah,” kata Vero dengan muka serius.

Dan sekali lagi aku terbayang saat gunung paling aktif di Pulau Jawa ini sedang murka, bagaimana huru-hara yg terjadi di sini, jelas tidak ada yg selamat dari amukan Merapi. Namun yg pasti ada doa di dalam hati agar kita seluruh diberi keselamatan di sini di Pasar Bubrah, karena kalian cuma ingin lebih dekat memahami, menikmati kuasa Sang Ilahi. Ditambah kalian yg ingin melepas rindu mampu berdekatan dengan ketinggian Gunung.

Puncak merapi tidak menampakkan wujudnya karena memang kabut pekat masih menyelimuti. Berjalan perlahan mencari sudut terbaik bagi mendirikan tenda sebelum hujan akan menerjang. Tanah datar di antara beberapa buah batu besar menjadi pilihan kami, tidak ada kelompok lain, cuma ada kita ketika itu, menjadikan kita sangat leluasa memilih tempat.

Sebelum senja menjelang tiba-tiba kabut perlahan menghilang berganti sinar matahari jingga. Perlahan juga Puncak Merapi menampakkan wujudnya. Gagah nan penuh misteri saat aku memandangnya dari Pasar Bubrah.

Suasana hatinya yg tidak mampu ditebak, tidak jarang Merapi bersahabat seperti ketika ini namun tiba-tiba pun dapat murka dengan dahsyatnya. Namun itu adalah sebuah pertanda untuk segala orang yg tinggal di lereng-lerengnya agar mereka terus menghormati dan mampu hidup berdampingan dengan Sang Merapi.

Udara dingin menyapa kalian segala pagi itu, tidak ada kabut yg menghalangi senyuman dari Puncak Merapi. Di seberang sana senyuman manis pun ditampakkan oleh Gunung Merbabu. Terdiam di depan tenda aku memandang jauh ke atas sana. Nampak kilatan cahaya senter dari para pendaki yg terseok-seok ingin menggapai puncak Merapi.

Melihat segala itu, ada keinginan buat bergabung menjadi para pendaki pemburu puncak yg rela jalan terseok seok, bercumbu dengan pasir, dan tujuan akhirnya adalah puncak. Bukankah itu tujuan mendaki gunung? Untuk mencapai puncak bukan?

“Yuk mas kami naik ke puncak, paling hanya sebentar itu,” ajak Bembeng sedikit merayu.

“Iya ayo pengen tahu saja gimana. Nanti kalau nggak kuat dan bahaya kami segera turun,” ujar Mas Eko menambahi.

Ego dan hasrat bagi menggapai puncak pun timbul namun datang datang ingatan mulai seorang pendaki yg terjatuh ke Kawah Merapi kapan hari akan merasuk di kepala. Berjalan perlahan menjauh dari tenda aku melihat papan peringatan berderet berjarak sekitar 20 meteran.

Stop, berhenti di sini batas aman pendakian menengok ke belakang pun nampak sebuah papan kayu bertuliskan ‘Di sini lebih baik aman, Satu orang terasa banyak, Jangan tambahkan lagi, Jiwa jiwa yg mati sia-sia’.

Melihat segala itu apakah engkau masih menuruti ego dan hasratmu? Aturan di bagi bukan bagi kalian langgar. Biarlah mereka yg merayap di depan sana tetap menggapai puncak, menasbihkan dirinya menjadi yg terhebat dan menunjukkan pada seluruh seandainya mereka sudah sukses menjejakkan kaki di Puncak Merapi. Namun saya harus tetap diam disini merelakan dan mengubur impian tentang puncak.

Puncak adalah sebuah pencapaian terbesar seorang pendaki, menjadi sebuah kebanggaan. Namun sesungguhnya puncak tertinggi itu diselimuti oleh selubung ego tidak kasat mata.

Karena mendaki hakikatnya bukan cuma tentang puncak. Perjalanan dan kebersamaan adalah pencapaian sesungguhnya. Apalagi kita segala ke sini cuma buat melepas rindu mulai ketinggian, jadi tidak sepantasnya kalian mengesampingkan keselamatan diri.

“Ayok kalian mendaki bukit yg ada di sana saja,” ajakku pada kawan lainnya.

“Sepertinya sunrise di sana lebih indah, dan pasti pemandangannya tidak mulai kalah dengan puncak di atas sana,” imbuh saya.

Gunung Merapi dengan Pasar Bubrahnya mengajarkan bagaiamana buat dapat menahan ego, hasrat diri dan yg pasti mengajarkan kami seluruh buat bagaimana caranya lebih mampu bersyukur. Puncak yg tertahan bukan buat kalian sesali namun lebih bagaimana cara kalian buat mensyukurinya.

Merapi menguji kalian dengan tanjakan, suhu, cuaca yg berganti-ganti. Dan puncaknya yg tidak dapat kita gapai. Namun merapi mempunyai cara tersendiri buat membayar segala lelah kami.

Semburat jingga matahari perlahan menampakkan sinarnya di sebelah timur. Nun jauh di sana nampak Gunung Lawu menyapa, menengok ke kiri dengan gagahnya Gunung Merbabu seakan menantang kalian buat menaklukkanya. Dan dari sini pula senyuman Puncak Merapi tampak sangat anggun.

Kami berdelapan telah dalam posisi, berdiri berjejer di atas pasir lembut berlatar gagahnya Gunung Merbabu. Seorang pendaki yg aku mintakan tolong bagi memotret gaya kita pun sudah siap. Kami segala tersenyum sumringah dan berfoto, canda tawa pun lepas bergema di hadapan alam yg luas.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/12/133000/3382219/1025/selangkah-lagi-ke-puncak-merapi
Terima kasih sudah membaca berita Selangkah Lagi ke Puncak Merapi. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Selangkah Lagi Ke Puncak Merapi"