Selain Tanjung Puting, Ini Destinasi Antimainstream Di Kalteng

Berikut artikel Selain Tanjung Puting, Ini Destinasi Antimainstream di Kalteng, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Kalteng memang terkenal dengan Taman Nasional Tanjung Puting. Tapi ternyata ada dua destinasi yang lain yg mampu traveler nikmati di Pangkalan Bun.

Perjalanan aku kali ini fokus pada wisata perahu, merupakan perjalanan menyusuri sungai di Taman Nasional Tanjung Puting. Karena jadwal penerbangan dari Jakarta ke Pangkalan Bun yg kurang tepat, aku putuskan buat menginap semalam di ibu kota kabupaten Kotawaringin Barat, merupakan Pankalan Bun.

Belum ada rencana, apa yg mulai dikerjakan selama di sana. Dalam benak saya, selama beberapa hari beberapa malam di Perahu, pasti bosan dan melelahkan. Jadi sebelum balik ke Jakarta, istirahat sesuatu malam, sambil jalan-jalan melihat kota.

Dugaan aku ternyata salah besar. Wisata perahu di Tanjung Puting, ternyata sangat menyenangkan. Perjalanan kali ini didampingi rekan perjalanan yg humoris dan sedikit usil, Guide bernama Mas Iman yg ramah plus ilmunya yg segudang. Perahu cukup bagi kalian bertujuh, akan dari kongkow-kongkow sampai dengan tidur di malam hari dengan kelambu anti nyamuk.

Tak lupa kru kapal yg dengan setia membimbing, menolong kalian dengan ramah dan sigap. Terakhir yg tidak mulai terlupakan, hidangan makan pagi, siang, malam serta snack nya. Luar biasa enaknya. Yang terus menempel di benak aku adalah pisang goreng coklat dan Soto Manggala untuk ibu di dapur. Rasanya tidak ada duanya.

Selain Tanjung Puting yg indah ini, wisata apa yg kira-kira mampu kalian kunjungi selama sehari di Pangkalan Bun ? estimasi kalian mendarat pukul 08.00 WIB. Karena sebagian dari kita harus terbang kembali ke Jakarta pukul 10.25 WIB. Setelah diskusi panjang lebar. Luar biasa, disela-sela kesibukannya, ternyata dia bersedia mengantar wisata darat serta arrange kendaraan. Terhapus telah kekhawatiran bagi bosan seharian di Pangkalan Bun

Tepat pukul 08.10 perahu kalian mendarat di pelabuhan Kumai. Pelabuhan kecil namun cukup sibuk dan berperan besar dalam menunjang perekonomian Pangkalan Bun, kelihatan banyaknya kapal besar yg bersandar disana. Satu persatu kita turun dari perahu dan melanjutkan perjalanan dengan mobil.

Kami dibagi dalam 2 kendaraan, yg pertama segera ke bandara, lainnya kita tumpangi menuju tempat wisata sekaligus kuliner di kota Pangkalan Bun. Di tengah perjalan, tidak lupa kita mampir di toko oleh-oleh.

Cuaca kurang bersahabat, gerimis, kadang-kadang hujan lebat. Tapi tak menyurutkan semangat kami  ber empat bagi mengunjungi objek wisata disana. Pilihan pertama ke Istana Kuning. Pesan dari supir kalau istana ini tak ada hubungannya dengan salah sesuatu partai.

Tapi kenapa disebut Istana Kuning, ternyata warna kuning mrupakan warna keramat pada masa kesultanan Kutaringin. Saat ini disebut Kutawaringin.

Lokasinya tepat di tengah kota PangkalanBun dan bersebelahan dengan lapangan tugu. Bangunannya terdiri dari 4 bagian, Bangsal (tempat penerimaan tamu), Rumbang (tempat raja bersemedi), Dalem Kuning (Pusat pemerintahan, dan Tempat Tinggal Raja), dan Pedahiran (ruang makan kerajaan). Sampai sekarang istana masih sebagai tempat tinggal keturunan raja. Pada ketika tertentu upacara adat masih dikerjakan di Istana Kuning.

Sayangnya, barang peninggalan telah habis, pada tahun 1986 bangunan asli habis terbakar. Tidak ada satupun peninggalan yg tersisa. Saat ini yg ada yaitu barang replika.

Saat masuk ke ruang utama  atau Bangsal, kelihatan sederetan lukisan 15 raja yg pernah memimpin kerajaan. Dibuat tahun 2009 oleh salah sesuatu pelukis Indonesia (Rudi). Karena tak ada peninggalan yg mampu dijadikan acuan, maka seluruh hasil lukisan yaitu hasil imajinasi dan dua ritual yg dikerjakan supaya mirip dengan aslinya. Berikut informasi dari penunggu Isatana, Gusti Rusli.

Karena aku sangat menyukai Soto Manggala, maka kalian segala sepakat bagi mengunjungi warung soto menggala yg khas Pangkalan Bun. Soto Manggala, mirip dengan soto Banjar, bedanya ada singkong ditambah dengan pilihan ceker atau sayap ayam. Pilihan aku Soto Manggala ceker ayam plus kerupuk. Biar rasanya lebih sedap, tambahkan sedikit jeruk limau dan sambal, kecap sesuai selera.

Setelah perut kenyang, perjalanan dilajutkan ke Pantai Kubu. Dari milis yg aku baca, pantai kubu yaitu pantai favorit di Pengkalan Bun. Perjalanan dari kota Pangkalan Bun menuju Pantai Kubu sekitar 1 jam.

Hujan akan reda, dengan bantuan payung dan jacket parasut sesuatu persatu dari kalian beranjak dari tempat duduk. Berjalan ke tengah, menuju tempat pendaratan perahu wisata yg mulai ke pulau tempat penangkaran penyu.

Doa aku terkabulkan. Saat hujan akan reda, tampak cahaya orange dari sebelah kanan. Kamera telah bersiap di tangan, dua jepretan aku lakukan. Disamping cahaya orange, tampak perahu bersandar dan dua tanaman bakau yg akan tumbuh.

Dari sini akan tampak indahnya Pantai Kubu, perahu sesuatu persatu akan dulu lalang, orang-orang akan berjalan menuju tempat pendaratan, dimana lokasi tersebut yaitu tempat favorit aku buat mengambil gambar.

Setiap sudut memiliki keunikan tersendiri. Blue Hour yg sangat singkat, aku manfaatkan sebaik-baiknya. Setelah puas, kalian kembali ke kota Pangkalan bun. Tidak lengkap rasanya kalau perjalanan ini seandainya tak ditutup dengan hidangan secangkir kopi pahit dari kafe lokal.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/13/121700/3385454/1025/selain-tanjung-puting-ini-destinasi-antimainstream-di-kalteng
Terima kasih sudah membaca berita Selain Tanjung Puting, Ini Destinasi Antimainstream di Kalteng. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Selain Tanjung Puting, Ini Destinasi Antimainstream Di Kalteng"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.