Sekelumit Kisah Berpuasa Di Hongkong

No comment 116 views

Berikut artikel Sekelumit Kisah Berpuasa di Hongkong, Semoga bermanfaat

HONGKONG, KOMPAS.com – Sampai umur 25 tahun, berpuasa adalah hal yg lazim aku jalani seperti umat Muslim yg ada di belahan dunia lainnya. Bangun pada dini hari, menyantap sahur bersama keluarga, beraktivitas, berbuka puasa, dan salat tarawih adalah urutan kegiatan yg biasa dilakoni. Namun, tahun ini aku merasakan pengalaman yg berbeda.

Rabu (15/6/2016) hingga Senin (20/6/2016), aku pergi ke Hongkong bagi meliput kegiatan Direct Promotion di Amoy Garden Plaza yg diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata. Empat hari lamanya berpuasa di negeri orang yg belum pernah aku jamah.

Seorang rekan yg pergi bersama saya, sebut saja dia Intan, menyampaikan tidak perlu berpuasa sekiranya bergiat di Hongkong karena mampu dianggap sedang bepergian jauh. Namun, aku coba buat merasakan rasanya menjalani bulan Ramadan di luar negeri.

Sejak hari pertama datang di Hongkong, cuaca tampak terasa gerah walaupun telah menjelang malam hari. Rekan yg dari Kementerian Pariwisata, Dipo mengatakan, cuaca di Hongkong ketika ini sudah memasuki musim panas dan terasa lebih lembab.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Umat muslim di Hongkong di Kowloon Mosque & Islamic Center usai salat Jumat (17/6/2016). Muslim di Hongkong banyak berasal dari daerah Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, India, dan juga Indonesia di Asia Tenggara.

“Bulan dulu pas ke sini masih terasa dingin. Sekarang lembab gak ada angin,” jelasnya.

Memang, hari kedua di Hongkong ketika aku jalani ibadah puasa, benar rasa gerah melumuri tubuh. Peluh selalu bercucuran akibat suhu yg berkisar 35 derajat celcius. Angin seperti enggan menyapa tubuh manusia yg berlalu lalang di Nathan Road, Kowloon maupun di daerah Causeway Bay, Hongkong Mainland.

Imbasnya, warga Hongkong mengakalinya dengan memakai pakaian yg minim. Pemandangan seperti celana hotpants dan tanktop bagi perempuan serta kaus lengan buntung bagi laki-laki tidak luput dari pandangan mata. Warga-warga juga banyak mengenakan baju transparan kerap menghiasi sudut-sudut kota.

Sebagai negara yg tidak didominasi umat Muslim seperti Indonesia, makan dan minum sambil berjalan kaki biasa dikerjakan oleh warga Hongkong. Meskipun demikian, Hongkong juga menjadi tempat rapat antara budaya barat dan timur.

Di Hongkong juga dihuni oleh warga dari negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, India, dan juga tentunya Indonesia sebagai penyumbang tenaga kerja.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Warga negara Indonesia berbuka puasa bersama di kantor Dompet Dhuafa cabang Hongkong di Causeway Bay, Hongkong, Minggu (17/6/2016). Warga negara Indonesia di Hongkong banyak menjadi pekerja di penjuru kota.

Waktu imsak di Hongkong datang pada pukul 04.14 waktu setempat. Tak ada azan subuh yg biasa berkumandang mengingatkan umat Muslim bagi langsung melakukan salat. Sementara, waktu berbuka tiba pada pukul 07.14 atau sesuatu jam lebih lama seandainya dibandingkan di Indonesia.

Jangan harap ada makanan dan minuman seperti tempe, tahu, bakwan goreng atau kolak pisang hingga es campur pelepas dahaga yg mampu ditemui seperti di Indonesia seandainya berada di Hongkong kecuali di tempat warga-warga Indonesia seperti di Causeway Bay.

Rasa rindu makanan Indonesia dan berbuka bersama keluarga segera menyergap jiwa begitu aplikasi smartphone yg aku instal mengingatkan waktu magrib sudah datang.

Sekali waktu, aku pergi ke lembaga yg bergerak di bidang kemanusiaan, Dompet Dhuafa di Hongkong buat berbuka bersama warga negara Indonesia yg tinggal di Hongkong. Gorengan, es kolak, hingga sup ayam ditambah sambal serta krupuk mampu aku santap. Cukup buat mengobati rasa kangen dengan Indonesia.

Manajer Operational Dompet Dhuafa di Hongkong, Arief Aditya menyampaikan warga negara Indonesia yg berbuka di Dompet Dhuafa yaitu volunteer yg bergabung bersama Dompet Dhuafa. Biasanya, setiap minggu, waktu libur WNI yg bekerja di Hongkong, menyempatkan bagi bergiat bersama dompet dhuafa.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Suasana transportasi Mass Transit Railway (MTR) Hongkong, Kamis (16/6/2016). Moda transportasi MTR menghubungkan daerah-daerah di Hongkong melalui jalur di atas permukaan laut hingga di bawah permukaan laut.

“Mereka di sini menolong Dompet Dhuafa bagi menolong mengumpulkan zakat buat disalurkan. Ada kegiatan-kegiatan yang lain juga,” kata laki-laki yg pernah menjabat Ketua Lembaga Salam Universitas Indonesia itu.

Tak cuma itu, aku juga menyempatkan buat coba beribadah di Kowloon Mosque & Islamic Center di Nathan Road, Tsim Tsa Tsui, Hongkong. Semua umat Muslim dari penjuru dunia berkumpul dalam naungan kubah masjid bagi menghadap Sang Pencipta.

Pengalaman berpuasa di negeri yg berminoritas Muslim ini mengasah kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Semua yg biasa dijumpai di Indonesia, harus sejenak dilupakan dan beradaptasi dengan budaya setempat yakni di Hongkong.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/22/051016227/sekelumit.kisah.berpuasa.di.hongkong
Terima kasih sudah membaca berita Sekelumit Kisah Berpuasa di Hongkong. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sekelumit Kisah Berpuasa Di Hongkong"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.