Sejarah Mooncake, Nenek Moyang Kue Pia Di Indonesia

No comment 127 views

Berikut artikel Sejarah Mooncake, Nenek Moyang Kue Pia di Indonesia, Semoga bermanfaat

Oleh: Aji Chen Bromokusumo

Dalam penanggalan Tionghoa, awal musim gugur dirayakan tanggal 15 bulan 8 penanggalan Tionghoa, yg tahun ini jatuh pada tanggal 15 September 2016.

Perayaan datangnya musim gugur ini ada kemiripannya dengan perayaan Thanksgiving Day di Amerika. Jika pada Thanksgiving Day orang memanjatkan syukur karena hasil panen yg melimpah, maka di Mid Autumn Festival, rakyat Tiongkok mensyukuri awal panen sebelum memasuki musim dingin.

Tapi ada juga pendapat bahwa esensi Thanksgiving di Amerika lebih mirip dengan perayaan Winter Solstice Festival (Dongzhi Festival), yg di Indonesia dikenal dengan nama “sembahyang ronde” di bulan Desember.

Apa yg diperingati dan bagaimana yang berasal usul peringatan musim gugur ini? Banyak sekali versi, baik di Tiongkok sendiri maupun di negeri-negeri yang lain yg masih berakar budaya sama seperti Jepang dan Vietnam. Mereka bahkan mempunyai hikayat sendiri tentang perayaan musim gugur ini.

Legenda Hou Yi dan Chang E

Salah sesuatu cerita soal perayaan ini tidak lepas dari legenda Hou Yi dan Chang E, meskipun ia sendiri memiliki dua versi. Ada yg bilang Hou Yi ini dulunya adalah dewa, ada juga yg berkisah, dia adalah raja tiran yg kejam, dan masih ada dua versi lain.

Versi yg terhitung paling populer adalah cerita 10 matahari. Konon lalu Bumi dikelilingi oleh 10 matahari. Suatu hari ke 10 matahari bersinar bersamaan dan mengakibatkan kekeringan hebat di mana-mana.

Penguasa Langit, yg disebut dengan Kaisar Langit mengadakan sayembara buat memanah 9 matahari dan meninggalkan sesuatu bagi kehidupan di Bumi.

Pemanah Hou Yi coba dan berhasil memanah 9 matahari. Kaisar Langit senang dan bertanya kepada Hou Yi mau hadiah apa. Hou Yi cuma ingin menikahi gadis yg dicintainya merupakan Chang E. Kemudian menikahlah mereka. Perayaannya begitu meriah.

Setelah menikah, Kaisar Langit kebetulan ingin merombak istananya, dan memanggil Hou Yi yg bukan saja seorang pemanah ulung tetapi juga seorang arsitek mumpuni.

Proyek pemugaran istana langit berhasil dengan sukses. Saking senangnya, Kaisar Langit menghadiahkan sebotol ramuan buat kehidupan abadi dengan catatan harus berbagi dengan istrinya, supaya Hou Yi dan Chang E mampu hidup berdampingan selamanya sekaligus mencapai keabadian.

Sedemikian gembiranya, Hou Yi langsung berlari ke rumah, dan memperlihatkan pil keabadian itu. Karena senangnya, si istri, Chang E, segera membuka botol tersebut dan menenggaknya sampai habis.

Karena “over dosis”, seketika itu juga Chang E pingsan, terjatuh ke lantai dan pada ketika yg sama tubuhnya terasa ringan. Ia melayang ke langit. Merasa terkejut, Chang E menyambar apa saja bagi berpegangan agar dia tak terbang ke langit.  

Salah sesuatu benda yg dijadikan pegangan adalah kandang kelincinya yg berisi kelinci putih. Namun proses melayang berlanjut terus, dan akhirnya ia terdampar di bulan bersama kelincinya itu. Konon, sampai sekarang, kelinci itu dapat kelihatan seandainya bulan sedang bulan purnama.

Untung keajaiban masih berpihak kepada pasangan Hou Yi dan Chang E. Setahun sekali, pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan China, mulai muncul jembatan yg menghubungkan bumi dan bulan, sehingga pasangan itu mampu bertemu dan memadu kasih di hari itu.

Revolusi Ming 

Cerita yang lain terkait asal-usul Festival Tiongciu bermula ketika Tiongkok dikuasai Mongol, saat kerajaan Mongol di bawah Dinasti Yuan (1280 – 1368) berkuasa – ada yg menyebutnya Dinasti Goan (beda dialek pengucapan saja).

Bagi yg suka baca atau nonton cerita silat, inilah jamannya Sin Tiau Hiap Lu (Yo Ko – Siao Liong Li) di mana kota Siang Yang akhirnya jatuh ke tangan orang Mongol dan segala China ada di bawah kekuasaan dinasti baru, Yuan.

Dalam kurun waktu itu, pemberontakan bagi menumbangkan Dinasti Yuan berlangsung terus, dan belum pernah berhasil.

Akhirnya di kisaran tahun 1360an, timbul gerakan bawah tanah, yg dipimpin oleh seorang petani bernama Zhu Yuanzhang, yg memimpin gerakan perlawanan kepada penjajah Mongol.

Zhu dan penasehatnya Liu Bowen menyebarkan desas-desus bahwa ada penyakit tidak tersembuhkan dan cuma mampu dicegah dengan memakan kue bulan (mooncake) yg telah dipersiapkan secara khusus yg kebetulan jatuh pada mid autumn, merupakan tanggal 15 bulan 8.

Arsip Hotel JW Marriott Jakarta Kue bulan chocolate and custard milk dan white lotus paste with black sesame

Ternyata itu adalah sesuatu cara buat menyebarkan surat kepada sebagian besar rakyat yg mendukung pemberontakan menggulingkan penguasa Mongol.

Penulisan pesan rahasia dikerjakan dengan cara khusus dalam 4 buah mooncake, dan dikemas dalam 1 kotak. Masing-masing mooncake itu harus dipotong menjadi 4 bagian, sehingga total mendapatkan 16 potong yg kemudian harus dirangkai sedemikian sehingga pesan rahasia bisa terbaca.

Ada juga versi yg menyampaikan bahwa pesan rahasia tersebut ditulis di kertas dan dimasukkan di tengah mooncake.

Versi keren dari kisah kepahlawanan ini mampu kami baca di buku Golok Pembunuh Naga (Yi Tian Tu Long Ji/To Liong To), dengan tokohnya Thio Bu Ki dan Tio Beng. Di dalam cerita silat ini disebutkan bahwa Zhu adalah salah sesuatu bawahan dari Thio Bu Ki.

Di samping itu, masih ada lagi novel karangan Ching Yun Bezine dengan judul River of Lanterns, (versi bahasa Inggris, terbitan Signet dan versi bahasa Indonesia, terbitan Gramedia tahun 1995).

Singkat cerita, Dinasti Yuan tumbang, dan bergantilah menjadi Dinasti Ming (1368 – 1644) dengan kaisar pertama adalah Zhu Yuanzhang. Untuk mengenang perjuangan dan titik balik berdirinya Dinasti Ming, sejak ketika itu, mid autumn diperingati secara rutin sampai sekarang.

Mooncake/Kue Bulan

Dalam perayaan Tiongciu, kini kami lazim menjumpai kue bulan. Mooncake ini adalah salah sesuatu sajian khas dari China, dan banyak terdapat di mana-mana pada ketika Mid Autumn Festival setahun sekali, terkecuali di Jepang, yg katanya tersedia sepanjang tahun, dan dikenal dengan sebutan “Geppei”.

Secara umum, mooncake ini berbentuk bundar atau persegi dengan diameter berkisar antara 10 cm, dan ketebalan 4-5 cm. Isi berupa pasta padat dan liat berada dalam kulit tipis sekitar 2-3 mm.

Di tengah mooncake itu biasanya berisi kuning telor asin, mampu sebutir, 2 butir, bahkan 4 butir. Ini menjadikan mooncake tergolong makanan berat, kaya dengan rasa, dibandingkan dengan kebanyakan pastry model barat.

Isi dari mooncake biasanya manis, sedikit berminyak. Kuning telor asin di dalamnya menyimbolkan bulan purnama dan uang emas. Ini sesuai dengan budaya Tionghoa, di mana seluruh macam perayaan biasa dihubungkan dengan kesejahteraan, kemakmuran, kebahagiaan, panjang umur, atau kesehatan.

Pada kulit mooncake biasanya dicetak huruf-huruf Mandarin seperti “longevity”, “harmony”, nama dari toko atau keluarga pembuat, atau gambar bulan purnama, kelinci, dan lainnya.

Aji Chen Bromokusumo Berbagai macam hiasan Mooncake dan kemasannya

Secara tradisional mooncake isinya dapat dibagi menjadi 4, yaitu:

•             Lotus seed paste (lian rong): yg dianggap paling mewah, paling berharga dan paling lezat. Di dua tempat, karena harga lotus seed paste mahal dan barangnya langka, maka tidak jarang juga digunakan white kidney bean sebagai bahan tambahan pengisi.

•             Sweet bean paste (dou sha, tidak jarang dilafalkan tau sa di Indonesia), paling banyak terbuat dari azuki beans, sehingga dikenal dengan nama red bean paste. Tapi di dua tempat yang lain terbuat dari Mung bean atau black bean. Ini juga sebabnya banyak kue di Indonesia, bila dikatakan berisi “tau sa” biasanya berwarna hitam.

•             Jujube paste, berbentuk pasta yg manis, terbuat dari buah yg masak dari tumbuhan jujube. Warna dari pasta ini biasanya merah gelap, sedikit asam, ada aksen rasa seperti diasap. Kadang mampu dibingungkan antara jujube paste dan red bean paste. Isi jujube paste ini hampir-hampir tak pernah dijumpai di Indonesia, karena tak populer sama sekali.

•             Five kernel, isinya 5 jenis kacang-kacangan dan biji-bijian yg dicincang kasar, dan direkatkan sesuatu sama yang lain dalam mooncake dengan maltose syrup.

Jenis-jenis Kulit Mooncake

•             Chewy: inilah yg sekarang paling populer di mana-mana dan banyak dijumpai di semua dunia. Kulit mooncake ini paling banyak disukai dan telah menembus lintas batas benua. Terbuat dari bahan-bahan sirup gula kental, lye water, tepung dan minyak.

•             Flaky: macam yg ini lebih dikenal dengan nama Suzhou-style mooncake. Adonan kulitnya dibuat dengan menggulung adonan yg terdiri dari minyak dan tepung. Rasa dan tekstur hampir sama dengan model pastry barat atau puff pastry.

•             Tender: di dua provinsi di China dan dua tempat di Taiwan, macam ini banyak juga.

Sementara berdasarkan gaya atau style-nya, mooncake dikategorikan menjadi:

•             Cantonese-style mooncake: ini yg paling mendunia, berasal dari provinsi Guangdong, dan di tempat asalnya terdapat lebih dari 200 variasi.

•             Suzhou-style mooncake: bermula dari ribuan tahun lalu, campuran yg royal dari lemak binatang dan gula serta tepung. Model yg ini banyak juga terdapat di Indonesia.

•             Beijing-sytle mooncake: ada 2 variasi, yg sesuatu disebut dengan di qiang, yg lebih mirip dengan Suzhou style. Dan sesuatu lagi disebut dengan fan mao, di mana rasanya cenderung lebih flaky.

•             Chaoshan (Tiociu)-style mooncake: ini juga flaky tetapi lebih memiliki diameter yg lebih besar daripada Cantonese-style, tetapi lebih tipis. Aroma lemak yg digunakan mulai lebih kuat buat style ini.

•             Ningbo-style mooncake: lebih khusus di provinsi Zhejiang, rasa lebih cenderung ke asin dan spicy.

•             Yunnan-style mooncake: cenderung lebih manis.

Mooncake modern sekarang lebih banyak lagi variasinya, ada yg dari agar-agar, ada yg dari ketan/glutinous rice, ada yg isinya keju, chicken floss (abon ayam), tiramisu, bahkan ice cream, kopi dan lainnya.

Mooncake di Indonesia

Entah sejak kapan mooncake muncul di Indonesia. Saya rasa usianya telah sama tuanya dengan usia imigran perantauan dari Tiongkok yg pertama tiba ke Indonesia.

Di Semarang, kota kelahiran saya, mooncake yg paling populer adalah 2 jenis, merupakan Cantonese-style mooncake, yg banyak dibikin oleh restoran-restoran lama di Semarang, seperti Phien Thjwan Hiang, Pringgading, kemudian yg khusus memproduksi seperti Kiem Liong, dan Cap Bayi. Serta style dari Suzhou dan Tiociu yg kemudian diadaptasi namanya menjadi PIA.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pekerja memanggang bakpia di industri Bakpia 25, kawasan Pathuk, Ngampilan, Yogyakarta, Sabtu (7 /12/2013). Industri bakpia selalu berkembang di kawasan itu dan menghadirkan lapangan pekerjaan buat warga setempat serta pekerja dari sejumlah daerah.

Mooncake memang akhirnya diadaptasi namanya menjadi PIA, yg berasal dari dialek Hokkian dari ucapan Mandarin’nya “bing” (baca ping).

Segala macam makanan seperti ini dulu dinamakan pia, termasuk bakpia pathok di Jogja, pia Kemuning di Semarang, Pia Cap Bayi, dan sebagainya.

Pia-pia di Indonesia ini mengadaptasi dari Suzhou dan Tiociu-sytle mooncake, dengan kulit yg lebih crispy dan flaky dan kelihatan lapisan-lapisan yg membentuk kulit pia itu.

Awalnya, lapisan-lapisan pia itu memang diberi campuran lemak babi. Namun seiring tuntutan jaman dan masyarakat, kini ditemukan bahan-bahan pengganti yg dapat menciptakan efek lapis-lapis tadi tanpa memakai lemak babi.

Sekarang di Indonesia kue pia telah bebas dari lemak babi, kecuali yg memang khusus diisi daging babi cincang, atau produk-produk turunan babi.

Pada waktu aku kecil, masa-masa sembahyangan tiong jiu pia (lafal yang lain lagi dari “zhong qiu yue bing”, baca: cung jiu yue ping, yg disingkat menghilangkan kata yue), yaitu masa-masa yg paling dinanti.

Kombinasi pia model Suzhou dan Tiociu style berjajar bersama di meja bersama dengan mooncake model Cantonese. Sungguh nikmat dan lezat menikmati bersama keluarga kami. Walaupun waktu itu masih jaman represif, tetapi masih saja dapat merayakan Mooncake Festival ini di kalangan keluarga sendiri.

Kini keturunan dari kue bulan, yg walaupun berasal dari luar, telah menyatu di Indonesia dan memperkaya khasanah budaya Indonesia.

Bila sekarang kalian menjumpai makanan dengan embel-embel nama PIA, seperti bakpia yg menjadi oleh-oleh “wajib” dari Jogja, atau juga Pia Malang, maka kami tahu bahwa makanan itu berakar dari mooncake, alias ‘tiong jiu atau lidah orang Jawa menyebutnya ‘tong ju pia’.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/09/14/205512827/sejarah.mooncake.nenek.moyang.kue.pia.di.indonesia
Terima kasih sudah membaca berita Sejarah Mooncake, Nenek Moyang Kue Pia di Indonesia. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sejarah Mooncake, Nenek Moyang Kue Pia Di Indonesia"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.