Sejarah Cangkir Kuno Di Festival Ngopi Sepuluh Ewu

No comment 157 views

Berikut artikel Sejarah Cangkir Kuno di Festival Ngopi Sepuluh Ewu , Semoga bermanfaat

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Dua orang barista kelihatan meracik kopi. Tidak begitu lama aroma wangi kopi segera menyeruak di udara ketika minuman berwarna hitam tersebut disajikan di atas meja.

“Kopi ini tak aku berikan gratis. Pengunjung yg dapat menjawab pertanyaan aku baru bisa kopi spesial ini. Sekarang pertanyaannya siapa nama Bupati Banyuwangi yg sekarang?” kata Reza, salah sesuatu barista sambil mengangkat cangkir yg berisi kopi panas.

Puluhan pengunjung di stand Komunitas Kopi Banyuwangi segera mengacungkan tangan. “Abdullah Azwar Anas!” kata seorang pemuda yg berusia sekitar 20-an.

Tidak terlalu lama kopi spesial itu pun berpindah tangan. “Kopinya enak. Istimewa,” ungkapnya sambil menyeruput kopinya.

(BACA: Goreng Kopi Sendiri, Bik Sari Ikut Festival 10.000 Cangkir Kopi)

Kisma Dona, koordinator Komunitas Kopi Banyuwangi kepada KompasTravel, Sabtu (4/11/2016), menyampaikan khusus bagi acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu, komunitasnya sengaja menyiapkan dua kopi asli Banyuwangi seperti robusta yang berasal Desa Tamansari, arabika Kalibendo serta robusta koneha yang berasal Desa Tlemung buat dikenalkan kepada para pengunjung.

“Untuk penyajiannya manual brewing dengan metode V60 dan tubruk. Edukasi tentang kopi ini utama karena harapannya agar pengunjung tak cuma sekadar menikmati kopi tetapi juga menghargai kopi dan para petani kopi,” kata Kisma.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ketika membukan Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/11/2016).

Sementara itu ribuan pengunjung memadati jalan penting di Desa Kemiren sepanjang 1,5 kilometer. Mereka menikmati sajian kopi yg disiapkan oleh warga Kemiren. Uniknya, cangkir yg digunakan hampir seragam merupakan cangkir kuno dari keramik yg memiliki tutup.

“Ini cangkir kuno, usianya telah puluhan tahun dibelikan ibu aku pas nikahan lalu sekali,” kata Karsi (47), warga Kemiren kepada KompasTravel.

Ibu yg memiliki tiga anak tersebut menjelaskan hampir seluruh masyarakat Desa Kemiren memiliki cangkir tersebut sehingga hampir dikatakan seragam. “Isinya tak terlalu banyak tetapi cukup bagi tamu yg datang,” jelasnya.

Banyaknya jumlah cangkir kopi yg dimilki masyarakat Kemiren yg menjadi inspirasi nama dari Festival Ngopi Sepuluh Ewu atau sepuluh ribu.

Untuk festival yg digelar rutin setahun sekali sejak tahun 2013 tersebut, Karsi mengaku sengaja menyiapkan sebungkus besar bubuk kopi yg dia olah sendiri. “Ada bubuk kopi dari panitia tetapi tidak jarang nggak cukup,” kata Karsi.

Dia mengeluarkan kursi dan meja dan diletakkan di pinggir jalan penting desa. Beberapa kerabatnya yg berasal dari luar desa juga hadir bagi meramaikan. “Kalau di sini telah jadi tradisi ngopi kalau medayo (bertamu),” ujarnya.

Bukan cuma kopi, dua camilan seperti kacang rebus, singkong, bolu serta tape gadung juga disiapkan di atas meja. “Kalau mau bawa pulang kue-kuenya kita menyiapkan. Paling mahal harganya Rp 5.000. Tapi yg di meja ya gratis plus kopi,” katanya sambil tertawa.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Masyarakat Kemiren sedang menyangrai kopi di Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/11/2016).

Selain menikmati kopi yg disajikan gratis, pengunjung dapat memborong produk kopi Banyuwangi di stand pameran. Selain itu mereka juga mampu ikut menyangrai kopi di perapian yg ada di dua titik sepanjang jalut penting desa bersama dengan masyarakat Desa Kemiren.

Tradisi “sak corot dadi seduluran”

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yg membuka acara menyampaikan Festival Ngopi Sepuluh Sewu yaitu salah satu event dari 53 rangkaian festival di Banyuwangi.

Dengan adanya festival tersebut Bupati Anas berharap mulai semakin banyak wisatawan yg berkunjung ke Desa Kemiren.

“Pemerintah daerah memberikan apresiasi atas swadaya masyarakat hingga terselenggaranya festival ini. Kegiatan ini mulai menjadi bagian yg mulai mendorong perekonomian masyarakat desa. Saya tadi lihat banyak home stay-home stay baru di Kemiren,” kata Bupati Anas.

Dia juga berharap agar kegiatan serupa dapat muncul di desa desa lainnya dengan mengandalkan potensi desa yg ada.

Sedangkan Ketua lembaga adat Desa Kemiren, Suhaili menjelaskan bahwa menyuguhkan kopi sudah menjadi tradisi warga setempat dalam menyambut tamu.

Tradisi ini diperkuat dengan filosofi warga “sak corot dadi seduluran” yg artinya “sekali seduh kalian bersaudara”, merupakan dengan meminum kopi yg disuguhkan sebagai simbol menyambung silaturahmi dan tidak mengurangi persaudaraan.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Bik Sari memakai kebaya motif bunga berwarna nerah muda di depan meja kayunya. Dia menyiapkan kopi bagi pengunjung di Festival Ngopi Sepuluh Ewu, di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/11/2016).

“Ngopi sudah menjadi tradisi warga Kemiren. Kalau belum minum kopi pasti mulai pusing apalagi kalau ada tamu yg datang. Nantinya walaupun festival ini telah selesai kita berharap seluruh yg tiba ketika ini nantinya mulai rindu buat kembali ke Desa Kemiren buat menikmati suguhan kopi dari kami. Kedatangan mereka, sudah kita anggap sebagai saudara kami,” jelas Suhaili.

Kopi sudah menjadi salah sesuatu produk perkebunan yg menjadi andalan Banyuwangi. Data mencatat produksi kopi di Banyuwangi mencapai 8.047 ton pada 2015, meningkat dari tahun 2014 yg 7.992 ton. Angka produktivitasnya mencapai 19,49 kuintal per hektar pada 2015. 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/07/112426327/sejarah.cangkir.kuno.di.festival.ngopi.sepuluh.ewu.
Terima kasih sudah membaca berita Sejarah Cangkir Kuno di Festival Ngopi Sepuluh Ewu . Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sejarah Cangkir Kuno Di Festival Ngopi Sepuluh Ewu"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.