Sebuah Kisah Dari Papua, “Itu Dia Kakak Gigi Kalung!”…

No comment 67 views

Berikut artikel Sebuah Kisah dari Papua, “Itu Dia Kakak Gigi Kalung!”…, Semoga bermanfaat

PAPUA, KOMPAS.com – Ketika sinyal telepon selular Anda hilang sama sekali, bukan berarti bencana. Sebaliknya, justru ada hikmah di baliknya. Seperti aku yg selama beberapa pekan ikut serta dalam Ekspedisi Saireri bersama WWF Indonesia, berkeliling Kabupaten Kepulauan Yapen dan Biak di Papua. Banyak lokasi, di mana menara pemancar telepon seluler tidak bisa ditemui di wilayah ekspedisi.

Pada hari pertama aku cemas. Saya berpikir keras cara mengirim berita seandainya keadaan sinyal provider telepon seluler dua hari kedepan masih lemah. Tapi aku justru jadi bersyukur hilang dari peredaran komunikasi khususnya di media sosial.

Betapa tidak, kehilangan sinyal membuat aku harus fokus dengan apa yg ada di hadapan saya. Hal yg jarang terjadi pada masyarakat di kota besar. Juga membuat aku lebih berusaha bagi menjalin komunikasi dengan orang di sekitar saya, termasuk rekan perjalanan dan masyarakat lokal.

Pengalaman tidak terlupakan yg aku dapatkan adalah ketika berkomunikasi dengan anak anak di kampung. Menjalin komunikasi dengan anak-anak di kampung Papua agaknya ‘susah-susah gampang’. Anak-anak di kampung Papua cenderung pemalu tetapi penuh rasa ingin tahu. 

Melihat aku yg berambut lurus, anak-anak selalu menatap aku sembari tertawa cekikikan. Ketika aku hampiri, mereka lari. Anehnya sehabis lari mereka kembali mengikuti aku di belakang. Momen ini membuat aku tertawa geli. 

Senjata penting aku buat berkomunikasi dengan anak-anak di Papua adalah kamera. Anak-anak di kampung Papua sangat suka difoto. Maklum di kampung mereka jangankan kamera, listrik saja belum ada. Jadi mereka begitu tertarik dengan hasil foto yg kelihatan di kamera digital. 

Di Kampung Barawai misalnya, ada sekelompok anak yg malu bicara. Jadilah aku coba memotret mereka, mereka akan mau diajak berbicara, Hingga terakhir aku minta dihadiahi sebuah lagu sembari aku rekam.

Minta ampun, anak-anak ini begitu bersemangat menyanyikan banyak lagu dengan suara lantang. Saking banyaknya, aku mampu membuat sebuah album kompilasi.

Lain lagi ketika aku berada di Kampung Asai. Pagi hari aku berkunjung ke Sekolah Dasar setempat. Seluruh anak-anak berada di halaman sekolah, sedang beristirahat karena sesuatu satunya guru mereka sedang diwawancara oleh WWF Indonesia terkait pendidikan setempat. 

Kira-kira ada 30 orang anak yg selalu membuntuti saya, berebut ingin masuk frame kamera. Siangnya, aku bermain ular naga dengan anak-anak ini. Bagi mereka permainan ini begitu baru dan sangat mengasyikkan. Bagi aku permainan ini bagai nostalgia di masa kecil yg tentu tidak sibuk dengan permainan di gadget. 

Lucunya ketika siang hari aku sedang berada di atas kapal Gurano Bintang punya WWF, anak-anak yg tadi aku ajak bermain menghampiri aku dengan perahu dayung mereka. Tiba-tiba saja mereka berteriak, “Kak, Kakak!”

Silvita Agmasari Anak anak dari Desa Asai, Papua.

“Ingin menonton televisi!” mereka bilang.

Saya sebut TV, mereka tertawa-tawa

“Tipis-tipis” kata mereka.

Ada yg heran ketika melihat laptop di depan saya, dan ada juga yg bertanya gambar ikan apa yg begitu besar poster di kapal, yakni poster cara bersosialisasi dengan hiu paus.

Salah sesuatu anak, Ronal begitu kegirangan ketika aku ajarkan cara mengoperasikan laptop atau yg aku sebut juga komputer kecil yg pintar pada mereka. “Di kampung kita Pak Guru tidak pakai ini,” ujar Ronal.

Sampai Ronal begitu terkejut dari tekanan jarinya muncul tampilan jendela baru di layar laptop, apalagi ketika laptop mampu menghitung dengan cepat dan tepat.

Silvita Agmasari Anak anak desa Samberpasi, Papua.

Di Kampung Samberpasi, aku justru menjadi artis dadakan. Semua anak tiba-tiba menghampiri aku dan mengamati aku dengan seksama sembari tertawa-tawa.

Tak lama aku akan mendengar salah seorang anak berkata, “Itu dia kakak gigi kalung!”.

Saya yg mendengarnya tertawa. Melihat aku tertawa, mereka tambah takjub. Ternyata buat anak-anak Papua, kawat gigi adalah hal istimewa yg tidak pernah mereka temui. Habislah hari itu dengan seluruh anak ingin melihat aku tersenyum memperlihatkan ‘gigi berkalung’ saya.

Tak memiliki sinyal provider handphone adalah suatu hal yg aku syukuri ketika itu. Tapi aku tetap berharap pembangunan infrastruktur di kampung anak-anak ini. Agar mereka mampu tahu dunia luar, tidak tertinggal dari teman-teman lainnya di kota besar se-Indonesia.  

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/22/120700327/sebuah.kisah.dari.papua.itu.dia.kakak.gigi.kalung.
Terima kasih sudah membaca berita Sebuah Kisah dari Papua, “Itu Dia Kakak Gigi Kalung!”…. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sebuah Kisah Dari Papua, “Itu Dia Kakak Gigi Kalung!”…"