Saya Kira Wakatobi Ada Di Jepang…

No comment 119 views

Berikut artikel Saya Kira Wakatobi Ada di Jepang…, Semoga bermanfaat

Wakatobi, KOMPAS.com – Kendati telah ditetapkan sebagai sesuatu di antara 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016, namun Wakatobi belum begitu populer.

Nama Kabupaten di Sulawesi Tenggara yg terdiri dari gugusan Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko tersebut masih dianggap asing.

Bahkan, dua wisatawan yg diwawancarai Kompas.com mengira Wakatobi yaitu destinasi wisata di negeri Matahari Terbit, Jepang.

“Saya kira Wakatobi ada di Jepang. Karena namanya ‘berbau’ Jepang. Tak tahunya di Sulawesi Tenggara,” ujar Patricia Herjanto mengungkapkan ketidaktahuannya mengenai Wakatobi kepada Kompas.com saat mengikuti perjalanan Ekowisata yg digagas Synthesis Development bersama WWF Indonesia pada 31 Oktober-4 November 2016.

Wajar seandainya Patricia belum akrab dengan Wakatobi. Selama ini, turis domestik seperti Patricia yg yang berasal Jakarta lebih mengenal Bali, Singapura, Jepang, atau kota-kota romantis di belahan benua Eropa.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Perkampungan Suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (8/8/2015).

Wakatobi, kata dia, jarang ditawarkan oleh agen-agen perjalanan sebagai pilihan destinasi wisata selama masa liburan. Tempat ini juga tak ditemukan dalam kampanye iklan-iklan pariwisata Indonesia.

(Baca: Festival Wakatobi 2016 Digelar 18 Desember)

Selain itu, Patricia menambahkan, Wakatobi dan destinasi-destinasi wisata Indonesia di luar Bali sangat sulit dijangkau karena aksesibilitas yg terbatas. 

“Untuk mencapai Wakatobi, atau pulau-pulau yg disebut surga bahari, kami harus menempuh perjalanan 7 jam. Tiga jam di udara, dan empat jam di laut,” tutur perempuan berkulit terang itu.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Jejak yg ditinggalkan ketika surut air laut pada pasir pantai di Pantai Patuno, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (20/6/2016).

Tak mengherankan, sulitnya akses dan keterbatasan infrastruktur transportasi itu membuat harga perjalanan wisata ke Wakatobi jauh lebih mahal ketimbang ke Singapura atau Jepang.

Ayu Diyan Hapsari, wisatawan yg juga yang berasal Jakarta, menghitung biaya perjalanannya dari ibu kota ke Wakatobi lebih dari Rp 20 juta pergi-pulang.

“Itu cuma buat tiket pesawat saja,” cetusnya.

Belum lagi biaya menumpang kapal antar-pulau, akomodasi, makan dan minum serta menyaksikan berbagai atraksi budaya dan kegiatan menikmati keindahan bawah laut atau menyelam berikut sewa peralatan selamnya.

Sementara ke Singapura, cuma dengan Rp 5 juta, pelancong Indonesia dapat bermalam selama tiga hari di hotel representatif, keliling Universal Studio, dan belanja suvenir di Orchard Road.

Aljefri Febrizarli Patricia tengah berpose di salah sesuatu destinasi wisata, Mata Air Seratus, di Puau Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Namun begitu, kendati mahal dan lama di perjalanan, “surga bawah laut” dan pengalaman hidup di Wakatobi yg berbeda dari Jakarta bisa menjadi obat penawar buat Patricia, Ayu Diyan, dan turis-turis lainnya.

Kembali lagi

“Luar biasa indah,” ungkap wisatawan yang berasal Banjarmasin, Muhammad Zakaria Anshori, usai menikmati panorama terumbu karang di Pulau Hoga.

Selain menyelam, Zakaria yg karib disapa Zack ini juga mengikuti serangkaian agenda ekowisata lainnya.

(Baca: “Surga” Wakatobi Tak Melulu Bahari)

Seperti menanam mangrove di kawasan Parapo, Sombano, menanam rumput laut di Desa Derawa, menyaksikan tarian tradisional Lariangi, serta coba menenun kain ikat khas Desa Pajam, Ragi dan Liga.

Tak lupa pula, lajang yg hobi makan ini coba kuliner tradisional berupa soami atau singkong yg dikukus, parende atau ikan kuah kuning asam manis, ikan asap, kosea no-kaudafa atau sayur daun kelor serta bulu babi.

Seluruh sajian kudapan tersebut didapat melalui cara-cara tradisional sebagai sebagai bagian dari warisan kearifan lokal yg dijaga kelestariannya.

Hilda B Alexander/Kompas.com Tarian Lariangi dibawakan kelompok anak muda Desa Pajam, Kaledupa, Wakatobi.

Wakatobi, menurut Zack, Patricia, dan juga Ayu Diyan memang menawarkan pengalaman berbeda buat tak dikatakan istimewa.

Tak ada pasokan listrik yg selalu menerus menerangi selama 24 jam, minim koneksi internet, serta air baku bersih layak minum yg terbatas.

Mereka merasa berada di “dunia lain”. Dunia yg bertolak belakang, ibarat langit dan bumi antara kehidupan masyarakat lokal Wakatobi dan kehidupan mereka sehari-hari.

Merasakan hidup selaras dengan alam seperti yg dilakoni warga Wakatobi adalah satu yg mengejutkan, sulit diterima namun nyata.

“Dan kita mulai kembali lagi ke Wakatobi,” serentak mereka bersuara.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/07/082200727/saya.kira.wakatobi.ada.di.jepang.
Terima kasih sudah membaca berita Saya Kira Wakatobi Ada di Jepang…. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Saya Kira Wakatobi Ada Di Jepang…"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.