Satu Lagi Gunung Yang Cantik Di Kabupaten Bandung

No comment 95 views

Berikut artikel Satu Lagi Gunung yang Cantik di Kabupaten Bandung, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Kawasan Kabupaten Bandung diberkahi alam yg cantik. Salah satunya Gunung Artapela, yg milik panorama indah dari ketinggian dan udara yg sejuk.

Mungkin masih sedikit asing memang ditelinga para pendaki tentang keberadaan gunung yg sesuatu ini. Artapela yaitu Gunung tropis yg tak aktif yg berada di daerah Kertasari yg berbatasan dengan Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dengan ketinggian sekitar 2.194 mdpl, Gunung Artapela kini menjadi salah sesuatu gunung baru yg akan popular dan akan banyak didaki oleh para pendaki Indonesia.

Sebenarnya telah dua bulan terakhir ini kami telah merencakanan bagi pergi ketempat ini, tetapi karena terhambat waktu akhirnya tanggal 1 Oktober 2016 kemarinlah kami dapat ke sana, maklum salah sesuatu dari kami seorang pekerja yg cuma mempunyai 2 hari libur dalam 1 minggu, maka dari itu gunung ini cocok bagi liburan akhir minggu dan tanpa harus mengambil cuti.

Perjalanan dimulai pukul 07.00 dari Kopo Bandung Selatan, kalian memakai motor melalui Balaendah-Ciparay, dari situ kalian lanjutkan ke arah Pacet Sukapura jaraknya kurang lebih 17 km dari Ciparay. Setelah sampai di Desa Sukapura, ada pertigaan menuju kampong Argasari, di sanalah pos pendakian Artapela berada.

Sesampai di pos pendakian kurang lebih pukul 09:00 ternyata di sana juga ada rombongan dari Jakarta, dan kami pun mengisi formulir registrasi & perijinan, dengan Retribusi jasa lingkungan Rp 5.000 /orang, parkir motor Rp. 10.000 per motor/malam. Setelah istirahat sebentar di Pos sekitar jam 09:30 kitapun akan berangkat, sebelum pergi kalian pun di beri pengarahan seperti persoalan sampah, api unggun dan yang lain sebagainya. Oh ya bagi jalur yg mampu kami lalui ini ada 2, melalui jalur Seven Field (kebun 7) dan melalui Datar Jamuju, bedanya jalur seven field ini lumayan menanjak hampir tak ada bonus (kata seorang petugas), dan jalur Jamuju relatif lebih landai, kitapun menetapkan naik lewat Datar Jamuju dan turun lewat Seven Field

Jangan khawatir persoalan arah, meskipun minim patok/tanda petunjuk, kami dapat menanyakan kepada petani sekitar di sepanjang perjalanan, karena jalur pendakian ini hampir sepenuhnya melewati bukit-bukit perkebunan sayuran, baru kali ini kami mendaki tetapi hampir tak memasuki hutan.

Kalau masih takut tersesat / atau ngedaki nya malam dapat sewa porter/guide, katanya telah tersedia jasa porter. Di sepanjang perjalanan kalian disuguhkan oleh pemandangan perkebunan Petani yg menggarap lahan PTPN VIII Para Petani yg biasa mengangkut hasil kebun memakai motor. Di jalan kami pun melewati rombongan dari Jakarta tadi yg sedang beristirahat, dan yg kami temuin cuma 1-2 pendaki saja yg sedang turun.

Hampir disepanjang perjalanan tak ada pohon bagi berteduh dari teriknya matahari atau hujan, yg ada cuma saung-saung petani yg dapat kami jadikan tempat peristirahatan sejenak. Oh iya di sini banyak sekali wortel dan kentang baik yg dikebun atau yg berserakan di jalan, mungkin berjatuhan dari motor pengangkut hasil kebun. Karena tergiur kalian pun  meminta sedikit kentang dan wortel yg bersekaran di jalan itu kepada salah seorang petani, dan mereka sangat baik bahkan menawarkan yg lainnya. Ingat jangan memetik sembarangan dan tanpa izin!

Soalnya pas diatas puncak lumayan banyak juga sisa-sisa kentang & wortel. Ketika rasa lelah ketika berjalan di tengah hujan dan kebun yg berada di ketinggian sembari ngemil wortel yg rasanya manis, nikmatnya seperti makan buah-buahan yg dari kulkas, seolah memberi kesegaran kembali.

Ketika terdiam sesaat terjatuh dalam rasa lelah setelah naik turun melewati dua bukit perkebunan, dengan cuaca yang mendung hujan reda silih berganti dan menyaksikan kabut tipis diikuti kabut pekat dari kejauhan, tiba-tiba seekor burung elang terbang di pohon yg ia hinggapi yg tak terlalu jauh dari tempat kalian terdiam, tidak ingin ku sia-siakan buat mengabadikan moment ini dengan alat ala kadarnya, meskipun burung itu hampir masuk ke dalam kabut.

Moment itu cukup membuat kami kembali bersemangat bagi menanti apa yang mulai alam dan sang pencipta suguhkan. Sebelum sampai di puncak kalian sedikit memasuki area hutan, meskipun pepohonan di sana telah hampir rata di tebang oleh warga sekitar, kelihatan juga tempat pemotongan kayu, menurut info kerusakan kawasan hutan lindung petak 39 sudah mencapai puncaknya sejak 2015, berawal dari kebakaran hutan yg terjadi pada musim kemarau kala itu bulan September 2015. Entah terbakar atau di bakar kondisinya semakin memprihatinkan.

Sekitar jam 13:00 kalian pun sampai puncak dan disuguhkan kabut tebal, hujan dan badai angin, memaksa kalian harus sesegara mungkin mendirikan tempat berlindung di dekat pepohonan, ketika itu hampir tak kelihatan orang atau tenda lain, seolah-olah puncak itu cuma punya kalian berdua. Setelah itu kitapun mengisi perut dengan oatmeal, memasak mie instan dan tak lupa membuat kopi buat dinikmati di tengah cuaca seperti itu.

Setelah 30-60 menitan badai itu berlalu, orang-orang akan kelihatan berdatangan, tidak dikira mulai sebanyak itu yg datang, mengingat perkataan petugas di pos yg menyampaikan kalau kemarin itu yg mendaki cuma beberapa orang. Tidak mau ketinggalan tempat yg strategis bagi melihat sunrise & citylights, kitapun bergegas pindah tempat.

Sore menjelang malam, berhubung cuaca tak mendukung dengan kabut yg tiba dan pergi hampir tiap dua menit sekali, ketika itu kami habiskan di tenda, memasakpun cuma di vestibule saja. Oatmeal pun dilahap, dan Kentang yg tadi dalam perjalanan minta ke petani kalian goreng dengan sosis & cireng yg kami beli dipasar bawah, tentunya saos & mayonnaise sebagai pelengkap menjadi santapan kami dikala malam itu, sungguh nikmat rasanya.

Setelah itu kitapun bersantai sejenak didepan tenda menggelar matras, ditemani secangkir kopi dan susu menikmati keheningan malam dan memandang citylights yg terus tertutup kabut yg membuat kami tak puas dengan cuaca kala itu, akhirnya setelah dua menit tepat jam 21:00 kami pun bergegas tidur.

Jam 02:00 subuh aku terbangun dan melihat keluar, ternyata kabut telah tak ada, pemandangan citylights pun kelihatan jelas dan cuma ada sesuatu rombongan tenda di atas belakang tenda kami yg sedang asik pada bernyanyi diiringi suara gitar, Gila men bawa-bawa gitar ke atas gunung!   Karena ketika malam kurang puas dengan cuaca, akhirnya sayapun menggelar matrass di depan tenda sembari menunggu matahari terbit.

Saat menikmati citylights dengan secangkir kopi dari kejauhan salah sesuatu gunung tampak menyala, terpancar warna merah seperti bara api yg mengepulkan cahaya ke atas, dalam hatiku bertanya-tanya, apakah itu?

Menurut salah sesuatu warga sekitar, kepulan cahaya merah seperti bara api itu berasal dari kawah Gunung Papandayan. Benarkah? entahlah…

Tidak lama kemudian ada 2 orang yg seperti sedang berpatroli melewati tenda kami, berhubung persediaan air yg kami bawa makin menipis cuma cukup buat sarapan pagi saja, kami pun menanyakan pada mereka, ternyata mereka bukan petugas tetapi warga sekitar yg berasal dari Pangalengan. Kata mereka ada sumber air di jalur via {angalengan yg tak begitu jauh dari puncak. Saya pun menanyakan persoalan jalur via Pangalengan yg masih sangat minim info, orang-orang yg mendaki lewat Pangalengan pun katanya mereka cuma menitipkan kendaraannya di Pos Satpam, tanpa ada perijinan yg legal.

Memang kemarin kami cuma membawa air cuman 3 liter karena menurut petugas pos di sini tersedia air, memang agak sedikit bau karena air yg tak terkena sinar matahari, tapi kalau dipasak masih aman katanya.

Sekitar jam 05:00 pagi, langit akan membiru diiringi sedikit demi sedikit cahaya matahari yg masih tersipu malu bagi menampakan dirinya, sebelum menikmati itu segala kitapun bergegas bagi sholat terlebih dahulu, setelah itu kalian pun keluar tenda, ternyata diluar telah banyak orang yg sedang mengabadikan moment dengan berfoto ria, kalian pun bergegas mencari spot bagi menikmatinya.

Setelah cukup puas berjalan-jalan menikmati pagi yg lumayan cerah ketika itu kitapun kembali ke tenda buat membuat sarapan, dan aku mencari air ke jalur Pangalengan. Saat berjalan sedikit ke bawah ternyata jalur pangalengan masih kelihatan rimbun pepohonannya, saat aku sedikit memasuki hutan ternyata ada orang di sana memberi tahu kalau mau ngambil air ke belakang puncak saja tinggal ikutin jalur itu selalu ke bawah.

Saya pun kembali bagi ke arah itu. Setelah itu aku kembali ke tenda ternyata Nasi goreng, sosis + saos dan mayonnaise nya telah bersiap disantap buat sarapan kala itu. Tak terasa waktu menunjukan pukul 10:00 dan kitapun akan beres-beres buat pulang, tidak lama kemudian tiba-tiba kabut pekat tiba diikuti hujan, yg memaksa kami menunda kepulangan dan berteduh di dalam tenda.

Sekitar jam 11:30-an hujan pun akan reda dan kitapun kembali beres-beres packing, setelah seluruh beres sekitar jam 12-an kitapun turun meskipun kabut masih menyelimuti, dua lama kemudian hujan kembali turun dan kalian pun meneruskan perjalanan menggunakan jas hujan, diperjalanan kalian bertanya ke salah sesuatu petani yg mulai langsung pulang, kalau jalur Seven Field (kebun 7) itu kemana, ternyata mereka tak tahu dengan nama itu. Katanya ada juga jalur yg muter agak landai (mungkin yg dimaksud yg kemarin kami lewati jalur datar jamuju) dan jalur yg segera turun selalu tetapi agak curam (mungkin yg dimaksud jalur Seven field) itu

Kita pun bergegas ke jalur yg segera turun agak curam itu. Hampir di sepanjang perjalanan kalian di guyur hujan, dengan cuaca yg sedikit berkabut mendung hujan reda silih berganti membuat jalur sangat berbahaya, berjalan menurun di tengah-tengah ketinggian perkebunan dengan tanah merah/tanah gembur yg basah membuat jalur menjadi sangat licin aku pun hampir 4 kali terjatuh dibuatnya, kalian pun tidak jarang merayap saat melewati turunan yg curam karena hampir tak ada pegangan ditengah-tengah perkebunan seperti itu, tak seperti di hutan meskipun licin banyak tepian dahan atau akar yg dapat dijadikan pegangan.

Kala itu kalian berjalan hampir sangat lambat, menguras tenaga, memang segala gunung mempunyai rintangan yg berbeda-beda, masing-masing mempunyai ciri khas nya tersendiri. Dipertengahan jalan ada seorang petani memakai motor berhenti seperti sedang menunggu seseorang, saat kalian hampiri dan menanyakan arah jalan, petani itu berkata, biar cepat ikuti saja pertengahan tiang listrik sutet itu yg berada di tengah-tengah perkebunan, jangan ikuti jalur motor ini, karena berputar jauh. Setelah itu petani itu, kalian pun mengikuti petunjuk petani itu, dua ketika kemudian ada lagi petani yg sedang duduk di saung seperti sedang menunggu seseorang, belum kalian hampiri petani itu pergi, berhubung keadaan agak lelah kalian pun meminta izin bagi berteduh dan beristirahat di saungnya.

Ternyata disaung itu ada beberapa ikat pisang. Dapet rezeki nomplok entah karena lelah, dingin atau apalah itu tetapi saat melahap pisang itu. Rasanya nikmat, kalau dibandingin nih sama pisang yg paling enak di supermarket, wah jauh lebih enak pisang alami ini! Dan tampaknya petani/warga sekitar kelihatan sangat welcome, dengan sengaja mereka menunggu kami cuma buat memberi petunjuk, mengingat saat itu hampir segala petani telah pulang.

Setelah dua ketika beristirahat, kalian pun melanjutkan perjalanan meskipun hujan rintik-rintik, sayangnya bagi perjalanan pulang kami tak sempat bagi mengabadikan moment (foto) bahkan tak sempat buat memikirkannya, karena hampir sepanjang perjalanan kami diguyur hujan. Setelah dua ketika akhirnya kitapun sampai di basecamp Sekitar pukul 15:30,menghabiskan 3,5jam perjalanan, itu sama halnya saat pergi kemarin (gubrag) ternyata sama saja.

Beres laporan, kalian pun beristirahat sebentar menelonjorkan kaki di sebuah Sekolahan tempat diparkirnya kendaraan kita, tepat di belakang basecamp itu, sambil jajan baso tahu dan ternyata si mang baso nya itu yg kemarin nongkrong di basecamp nunjukin arah jalur, dan kalian pun ngobrol ternyata Artapela ini akan ramai didaki sejak 6 bulan yg lalu, bahkan surat perizinan resmi dari Perhutaninya pun baru 3 bulan yg lalu.

Jam menunjukan pukul 16:00 hujan pun semakin deras, tak mau berlama-lama di sini, setelah berpamitan kalian pun menetapkan buat pulang ditengah dinginnya cuaca itu. Beberapa ketika menjelang masuk ke Baleendah ternyata disana telah banjir ketika kami mencoba melewatinya ternyata banjir itu cukup dalam, diperkirakan hampir sepaha lebih orang dewasa, motor kalian pun tenggelam hampir setengahnya, untung saja banjirnya tak terlalu jauh dan kalau kalian teruskan melewati jalan itu banyak daerah banjir yg lebih parah dari sini, kata warga sekitar. Kita pun menetapkan buat kembali dan lewat jalur banjaran, meskipun cukup jauh memutar buat sampai di Kopo, gara-gara itupun kalian pulang kerumah kemaleman yg tadinya ingin cepat sampai dirumah, ehh malah kemalaman. Tapi Alhamdulillah masih dapat diberi keselamatan sampai rumah.

Sebenarnya sih disini terdapat juga Danau Aul yg melegenda, tetapi sayang dikarenakan cuaca yg tak mendukung dan entah dimana keberadaan Danau itu kurang jelas infonya, jadi kami tak pergi ke sana. Untuk rincian biaya pengeluarannya, bensin motor Rp. 15.000, Retribusi Jasa Lingkungan Rp 5.000 per orang.

 
Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/16/104500/3315990/1025/satu-lagi-gunung-yang-cantik-di-kabupaten-bandung
Terima kasih sudah membaca berita Satu Lagi Gunung yang Cantik di Kabupaten Bandung. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Satu Lagi Gunung Yang Cantik Di Kabupaten Bandung"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.