Sate Kere, Lambang Kreativitas Di Zaman Penjajahan

No comment 89 views

Berikut artikel Sate Kere, Lambang Kreativitas di Zaman Penjajahan, Semoga bermanfaat

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi serba sulit di zaman penjajahan sebelum merdeka tidak membuat masyarakat Indonesia kehabisan akal. Contohnya masyarakat Solo, yg dengan kreativitasnya mengolah limbah makanan menjadi makanan lezat hingga di masa kini menjadi kuliner khas daerah.

“Zaman lalu saat negara dijajah oleh Belanda, mereka yg makan daging, sedangkan jeroan diberi ke orang Indonesia,” kata Swandani Kumarga, pemilik restoran Dapur Solo di acara kelas memasak yg berlangsung di Almond Zucchini, Jakarta, Rabu (17/8/2016).

Swandani bercerita karena zaman penjajahan tersebut, akhirnya masyarakat Solo pintar mengolah limbah makanan. “Contohnya sate kere, sate kere itu pakai usus, jeroan, dan tempe gambus, tempe yg dari ampas kedelai,” kata Swandani.

Diolah dengan bumbu yg tepat, ternyata sate kere ini memiliki rasa dan tekstur yg menyerupai daging. “Dulu sate ini disebut sate kere karena yg makan kere-kere (miskin). Tetapi sekarang semua, mau kaya atau tak suka makan sate kere,” kata Swandani.

Tapi sayang, menurut perempuan yg merintis restoran dari garasi rumah hingga memiliki 16 cabang restoran, sate kere kini semakin langka, karena tidak banyak yg mau membuatnya.

Sate kere adalah salah sesuatu ikon kuliner khas Solo. Diketahui, presiden Joko Widodo yg berasal dari Solo gemar menyantap sate kere ini. Tak sulit buat mendapati sate kere di daerah Jawa Tengah, khususnya di Solo dan Yogyakarta. 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/18/201200327/sate.kere.lambang.kreativitas.di.zaman.penjajahan
Terima kasih sudah membaca berita Sate Kere, Lambang Kreativitas di Zaman Penjajahan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Sate Kere, Lambang Kreativitas Di Zaman Penjajahan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.