Salju Pertama Tahun Ini Di Murodo

No comment 127 views

Berikut artikel Salju Pertama Tahun Ini di Murodo, Semoga bermanfaat

Di Murodo saya menemukan puisi, pada salju yg turun di hari pertama tahun ini. Maka kubiarkan wajah tropisku dilumat oleh angin beku yg memecahkan garis-garis di bibir.

Aku memang sedang merasai ketabahan orang jepang, teguh menghadapi musim yg berganti, dan pintar bersiasat atas cuaca.

Di Murodo saya menikmati kopi hitam dan cerita panjang tentang negeri yg timbul tenggelam oleh badai tetapi tetap gagah.

Di Murodo saya juga membaca kisah tentang gunung, laut, ladang, sandang, makanan, teknologi, juga tradisi yg mengalir jadi bait-bait puisi dengan rima dan diksi yg terjaga. Lantas dihembuskan ke delapan penjuru mata angin, agar dunia berpaling ke timur, tempat matahari merekah dengan indah, tempat mukim sebuah bangsa yg tidak gampang menyerah.

Di Murodo saya memang menggigil, tetapi seperti Sam Gomisawa, saya tetap tersenyum bahkan saat hujan salju mengamuk di tepian kolam Mikuri

Kubiarkan diriku menjelma burung gagak yg melintasi angkasa Toyama dan sesekali hinggap di atap rumah-rumah penduduk. Kemudian tubuhku berubah menjadi bebek yg merenangi bendungan Kurobe. Kunikmati hidupku seperti Yoko Takebe menikmati sake, onsen, sushi dan sashimi….
segar dan penuh kejutan

Murodo, 1 November 2016

Puisi, itulah jawabannya ketika aku ditanya oleh penyanyi balada Ully Sigar Rusady, oleh-oleh apa yg aku bawa dari Jepang.

Bagi saya, Jepang adalah puisi. Gunung-gunung, hutan, laut, musim dingin, musim semi, adalah keindahan yg lebih terjelaskan melalui puisi.

Pagi ini aku mulai memulai membaca bait-bait puisi tentang panorama alam di sekitar Gunung Tateyama. Pukul 07.10, kita telah berangkat dari hotel menuju Tateyama Kurobe Alpine Route. Sebuah tujuan wisata andalan di Toyama.

Menggunakan minibus jumbo, kalian melaju menyusuri bukit menuju Stasiun Tateyama. Di kanan dan kiri jalan berjajar pohon-pohon tinggi denggan daun aneka warna yg didominasi daunan warna merah dan kuning.

Sekira 40 menit, kita datang di Tateyama cable car station, bagi selanjutnya naik kereta listrik menuju Bijodaira. Di kendaraan ini kita cuma butuh waktu tujuh menit bagi sampai stasiun tujuan dengan ketinggian 977 mdpl. Inilah terminal buat naik menuju Murodo yg memiliki ketinggian 2450 mdpl. Dari Bijodaira kalian naik bus menuju Murodo.

Sama dengan pemandangan antara Toyama – Bijodaira, di samping kanan-kiri jalan juga tampak hutan asri dengan pohonan aneka warna. Di tengah perjalanan bus sempat melambat dan berhenti sejenak bagi memberi kesempatan penumpang memotret air terjun di kejauhan.

Saya jadi terkenang kisah Mushashi, sebuah novel fiksi karya Eiji Yoshikawa yg bercerita mengenai Miyamoto Musashi, pendekar pedang (samurai) Jepang paling terkenal yg pernah hidup. Saya membayangkan Musashi berkelebatan di hutan-hutan yg menghampar di lembah sambil berlatih pedang. Sementara Otsu, wanita yg mengaguminya mencarinya ke segenap penjuru.

Lamunan aku buyar ketika bus melambat. Kami datang di Murodo. Surprise, kalian warga dari negeri tropis seperti menerima anugerah tidak terperi ketika menyaksikan salju telah menummpuk di tepian jalan. Ya, inilah salju pertama yg turun
di Murodo tahun ini.

Segera jas aku kancing rapat-rapat dan mengenakan sarung tangan serta syal. Saya terabas udara beku minus 2 derajat celcius dari bus menuju stasiun Murodo. Awalnya kita cuma melihat-lihat salju yg turun di sekitar stasiun. Batin saya, kurang menantang kalau cuma di sekitar stasiun. Oleh karena itu, ketika kawan Yoko menawari utk pergi ke kolam Mikurigaike, aku terima dengan senang hati, meskipun aku tidak berbekal persiapan yg cukup buat menahan hawa dingin.

Brrrr… Salju yg deras segera menyabet muka. Lantaran tidak menggunakan masker, kulit wajah terasa ditusuk jarum-jarum alit, sementara bibir berasa beku dan susah digerakkan bagi berkata-kata.

Setelah berjalan seratusan meter, kita sampai tujuan. Tapi olala… Danau Mikurigaike pun telah beku. Sudah kepalang beku, kalian pun sesaat berfoto di antara bangku-bangku taman yg juga sudah diselimuti salju.

Sekujur tubuh sudah basah oleh salju. Kami pun bergegas kembali ke stasiun buat menghangatkan badan dan melanjutkan perjalanan ke Daikanbo (2316 mdpl).

Selain Murodo, Daikanbo juga yaitu cek poin yg menarik di Tateyama Kurobe Alpine Route. Di tempat ini terdapat tempat pengamatan dengan view point yg bagus. Daikanbo berjarak 10 menit perjalanan dengan memakai Trolley Bus yg digerakkan dengan listrik melalui terowongan. Kami sempat makan di sini, seraya menikmati lengkung pelangi di lembah Daikanbo. Selanjutnya kita menuju Kurobedaira.

Kurobedaira dicapai dengan memakai kendaraan ropeway atau kereta gantung. Jalur kereta gantung ini panjangnya 1,7 km. Tentu saja, naik kereta gantung lebih menyenangkan dibanding naik trolley bus atau cable car. Di dalam kereta gantung kalian mampu melihat pucuk-pucuk pohon, lengkung cakrawala, dan juga danau di bawah sana. Tidak seperti saat naik trolley bus atau cable car yg melewati terowongan gelap.

Kurobedaira sendiri mirip seperti Daikanbo, yg juga memiliki view point indah. Tapi kita tidak lama di sini. Sebab, selain hari telah sore, kalian harus melanjutkan perjalanan ke Nagano bagi menginap di sana.

Perjalanan dilanjutkan memakai kereta listrik yg menurun curam di dalam terowongan, sebelum akhirnya sampai di Kurobe dam. Bendungan ini menampung 200j juta m3 dan difungsikan buat menggerakkan pembangkit listrik yg menyuplai listrik buat daerah Kansai, Jepang Barat.

Lumayan lama kalian di sini. Selain berjalan-jalan di sekitar bendungan, kita juga sempat mengitari waduk dengan kapal mesin selama setengah jam. Ongkos naik kapal 1080 yen atau setara dengan seratus ribu rupiah.

Sempat aku bertanya-tanya, kenapakah pembangkit listrik tak nampak di skeitar bendungan. Petugas bendungan bilang,
pembangkit listrik berada di bawah tanah sedalam 200 meter.

Lalu petugas itu pun bercerita, seandainya musim salju tetap ada air buat menggerakkan turbin. “Permukaannya saja yg beku,” kata Yoko menerjemahkan kalimat petugas bendungan. Luas bendungan 160 x tokyo dome. Yoko pun menambahkan,
bendungan ini dibuka 16 April sampai 30 November. Di luar itu ditutup karena salju menutupi wilayah ini.

Proses pembangunan bendungan ini selama tujuh tahun, dari tahun 1956 hingga 1863. Melibatkan 10 juta pekerja, dan yg meninggal sebanyak 171 orang.

Hari telah akan petang ketika kita meninggalkan bendungan Kurobe menuju Ogizawa, stasiun kereta terakhir bagi kita melanjutkan perjalanan memakai bus menuju Nagano. Pkl 17.09 kalian datang di kota Nagano. Perjalanan dari stasiun Ogizawa sekira 1,5 jam tak kita nikmati dengan baik. Penat dan kantuk jadi satu. Oahemmmmm…. Tidur adalah pilihan yg tepat buat menghemat tenaga bagi dua acara lagi di muka.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/17/080011527/salju.pertama.tahun.ini.di.murodo
Terima kasih sudah membaca berita Salju Pertama Tahun Ini di Murodo. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Salju Pertama Tahun Ini Di Murodo"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.