Saat Lemang Wak Leh Selalu Dikenang…

No comment 135 views

Berikut artikel Saat Lemang Wak Leh Selalu Dikenang…, Semoga bermanfaat

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Ramadhan sudah tiba. Saatnya kembali mengenang kelezatan lemang made in Wak Saleh, warga di Dusun Blang Rayeuk, Desa Tempok Tengeuh, Kecamata Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Aceh.

Pagi itu, Jumat (10/6/2016) empat pekerja sibuk di belakang rumah Wak Saleh atau Wak Leh. Sebuah pondok berukuran 2 x 2 meter berada di belakang rumah. Sementara dapur pembakaran lemang dibangun sepanjang 6 x 2,5 meter.

Almarhum Wak Leh memulai bisnis lemang itu sejak tahun 1968. Dia mengajarkan segala putra-putrinya buat membuat lemang. Hasilnya, lemang Wak Leh pun kian berkembang dan terjaga hingga kini.

Samsul Bahri, salah seorang putra Wak Leh, menyatakan proses pembuatan lemang itu dimulai pukul 10.00. Sebagian memotong lemang, membersihkannya, dulu mengeringkannya. Sebagian lagi menyiapkan mencuci ketan.

Dari salah sesuatu sudut belakang rumah itu menderu mesin kukur kelapa. Sebagian mengukur kelapa, memerasnya menjadi santan. Jika bambu telah bersiap dibersihkan dan dicuci sekali lagi agar bersih total, maka daun pisang dimasukkan ke dalam bambu itu.

Setelah itu, tangan terampil Samsul Bahri memasukkan ketan ke dalam bambu. Lalu santan dimasukkan sedikit demi sedikit. Di bawah tungku, sabut kepala akan mengeluarkan asap. Hangatnya digunakan sebagai pembakar bambu lemang.

KOMPAS.COM/MASRIADI Pekerja sedang memasak lemang yg dikenal Lemang Wak Leh di Dusun Blang Rayeuk, Desa Tempok Tengeuh, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (10/6/2016).

Jika api makin membesar, maka harus dikurangi. Api sedapat mungkin dibuat agar tak membesar, sehingga lemang masak secara merata dan lembut.

Dari tangan Samsul dan keluarganya lah lemang renyah dan nikmat itu mampu dicicipi. “Pemanggangan lemang sekitar sesuatu jam setengah, dengan membalikkan agar merata masaknya,” sebut Samsul.

KompasTravel melayani wawancara sembari bekerja. Saban bulan Ramadhan, sejumlah jurnalis berbagai media lokal dan nasional mendatangi rumahnya. Mengabadikan detik demi detik proses pembuatan lemang yg tersohor dari tahun ke tahun itu.

“Lemang ini dimakan dengan selai. Kami menyiapkan selainya juga,” ujar Samsul.

Untuk harga jual, jangan khawatir. Samsul mematok Rp 60.000 bagi lemang ukuran bambu sesuatu meter. Sedangkan yg lebih pendek dari itu dipatok harga Rp 30.000 per bambu.

“Kenapa kita mampu bertahan menjual lemang? Karena kualitas rasanya sama seperti almarhum ayah dulu. Jadi, pelanggan tetap setia dengan lemang kami,” sebut Samsul.

Nah, bagi Ramadhan kali ini, saban hari, Samsul memproduksi 100-200 batang lemang. Pedagang eceran segera tiba ke rumah itu bagi membeli lemang.

KOMPAS.COM/MASRIADI Pekerja memasukkan beras ketan ke dalam bambu bagi membuat lemang yg dikenal Lemang Wak Leh di Dusun Blang Rayeuk, Desa Tempok Tengeuh, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (10/6/2016).

Nah, sepanjang lintas Jalan Merdeka Barat Lhokseumawe hingga pusat kota, lemang itu dipajang di pinggir jalan. Lengkap dengan embel-embel Lemang Wak Leh.

“Kami bersyukur, pelanggan masih mengenang ayah kalian dengan cita rasa lemangnya yg mampu kita pertahankan,” terang Samsul.

Nah, seandainya Anda ke Lhokseumawe ketika Ramadhan ini, jangan lupa cicipi Lemang Wak Leh yg tersohor itu. Selamat mencoba…

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/10/174741127/saat.lemang.wak.leh.selalu.dikenang.
Terima kasih sudah membaca berita Saat Lemang Wak Leh Selalu Dikenang…. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Saat Lemang Wak Leh Selalu Dikenang…"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.