Rahasia Rasa Setelah Berbatik-batik

No comment 118 views

Berikut artikel Rahasia Rasa Setelah Berbatik-batik, Semoga bermanfaat

KABUPATEN Batang, Jawa Tengah, yg relatif sepi itu, menyimpan rahasia kuliner yg cita rasanya susah dilupakan. Adalah warung Turipah, nyempil di kampung, tapi menawarkan cita rasa luar biasa.

Selepas ”berburu” batik yg yaitu salah sesuatu produk incaran di kawasan Batang, Jawa Tengah, datang saatnya mengisi perut. Warung Turipah dengan sajian khasnya menjadi tujuan.

Warung Turipah berada di tepi jalan di Desa Pandansari, Kecamatan Warung Asem, sekitar 38 kilometer dari pusat Kota Batang. Malam itu, pukul 18.30 kalian meluncur dari pusat kota Batang menyusuri jalan aspal sempit yg banyak berlubang. Hujan membuat kita harus lebih hati-hati mengemudikan mobil.

Tak jauh dari areal persawahan, Nurul Qomar, pemandu kami, meminta mobil ditepikan dan parkir di lahan kosong. Tanah becek dan tidak banyak penerangan berarti. Hanya dua lampu warung menerangi. Kami berjalan setengah mengendap menjaga kaki agar tidak terperosok di kubangan becek.

Di seberang jalan, kelihatan bangunan mirip gubuk. Berdinding anyaman bambu setinggi 1 meter. Tiang-tiang bambu menyangga atap genteng. Antara dinding dan atap itu dibiarkan terbuka sehingga angin malam bebas keluar masuk.

Beberapa pelanggan duduk bersila menyantap pepes ikan campur sambal dan petai. Aroma gurih dan wangi makanan langsung menyambut kami. ”Waduh, telah pada habis. Tinggal ini saja,” kata Turipah ketika melihat kami.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Aneka menu makanan di Warung Makan Mbak Turipah, Batang, Jawa Tengah.

Saat itu yg tersisa cuma tahu, telur dadar, dan dua potong ayam kampung. Kami lantas makan seadanya. Meski begitu, kelezatan sambal terasi Turipah membuat kita makan lahap.

Maklum, setelah seharian menjelajah Batang mencari pembatik, kalian perlu banyak mengonsumsi makanan bergizi buat pemulihan tenaga. Ayam goreng kampung dicolek sambal terasi dan nasi panas disantap di tengah derai hujan, sungguh nikmat.

”Besok ke sini lagi agak sore, Mas. Bisa mencicipi welut serundeng dan ikan pepes,” kata Turipah yg kita turuti.

Turipah menjelaskan, warungnya akan buka pukul 17.00 dan biasanya pada pukul 19.00 sebagian dagangan telah habis. Sisanya baru benar-benar ludes pada pukul 24.00. Kerap kali pelanggan mengantre, padahal warung belum buka. Mereka khawatir menu kesukaannya keburu ludes.

Dua kali ke sana, kalian kurang beruntung karena menu andalan welut serundeng tidak hadir di meja akibat pasokan belut sedang seret. Makanan ini sebenarnya berupa belut yg digoreng kering lantas dimasukkan ke dalam serundeng atau kelapa parut yg disangrai dengan bumbu.

Bagi penggemar jangan atau sayur ndeso, jangan lupa cicipi tumis kulit melinjo, kluban atau urap daun bayam, sawi, dan tauge, serta makanan khas setempat, yakni megono.

Megono yg dikenal di Pekalongan dan Batang berupa cincangan gori atau nangka muda yg diberi parutan kelapa, ulekan bumbu, lantas dikukus. Racikan bumbunya berupa ketumbar, kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, salam, dan serai.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Melayani pembeli di Warung Makan Mbak Turipah, Batang, Jawa Tengah.

Lauknya tinggal pilih, seluruh terhidang di meja panjang yg dibuat rendah. Sambil lesehan, kalian bebas mengambil lauk yg menggoda. Mulai dari wader goreng, sate rempelo ati, teri kacang, sate telur puyuh, pepes pindang udang, sotong santan, pepes tahu, ayam bakar, ayam goreng kampung, telur kecap, telur dadar, rendang, kembung dan bawal kecap, hingga aneka gorengan dan petai.

Berkah ibu

Turipah (45) menjelaskan, dia dahulu merantau ke Jakarta berjualan nasi. Kebetulan di dekat warungnya ada rumah makan padang. Dari pemilik rumah makan padang itulah, Turipah belajar masak masakan minang. Mulai dari cara membuat rendang, gulai kepala ikan, sampai sambal balado.

Delapan tahun lalu, dia harus balik kampung lantaran ibunya, Aliyah, sakit-sakitan. Setelah ibunya meninggal, Turipah berinisiatif membuka warung. Dia dan suaminya, Sugiyanto (47), dahulu menyewa lahan seluas sekitar 45 meter persegi di tepi tegalan.

Tempat ini terbilang sepi karena berada di perbatasan desa. ”Waktu itu banyak juga yg bilang dagangan aku tak mulai laku. Sepi dan tak ada pabrik. Siapa yg mau beli,” cerita Turipah.

Namun, dia berkeyakinan bahwa kalau memang rezekinya di sana, pasti ada yg beli. Dibantu suami dan anaknya, Deviyanti (17), Turipah merintis warung makan.

Insting dagang Turipah benar. Makin hari makin banyak pembeli datang. Mereka rata-rata adalah pekerja yg malas memasak karena kecapekan. ”Maunya pulang kerja segera makan, ga perlu masak lagi,” kata Marni, pelanggan.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Warung makan Mbak Turipah di Batang, Jawa Tengah, yg baru buka ketika menjelang senja.

Turipah memaknai kesuksesan dia buka warung itu sebagai berkah dari ibunya yg dia rawat selama sakit. Keikhlasan dia menjaga dan memenuhi kebutuhan ibunya berbuah manis. ”Mungkin juga karena doa ibu aku yg tak ingin aku hidup susah,” katanya.

Melihat jumlah pelanggan yg setiap hari mengular, Turipah tidak ingin balik lagi ke Jakarta. ”Saya ingin di sini saja. Ayem.”

Turipah mengambil jalan yg benar. Suasana tenang Desa Pandansari serta udara yg relatif sejuk tak mulai ditemukan di Jakarta yg semrawut. Apalagi seandainya telah bertemu dengan menu masakan kampung yg sensasi gurihnya sulit dilupakan itu. (SRI REJEKI dan M HILMI FAIQ)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/23/134200427/Rahasia.Rasa.Setelah.Berbatik-batik
Terima kasih sudah membaca berita Rahasia Rasa Setelah Berbatik-batik. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Rahasia Rasa Setelah Berbatik-batik"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.