Puncak Osmena, Pemandangan Cantik Filipina Dari Ketinggian

No comment 125 views

Berikut artikel Puncak Osmena, Pemandangan Cantik Filipina dari Ketinggian, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Cobalah destinasi yg beda ketika liburan ke Filipina. Kali ini Osmena Peak atau Puncak Osmena yg menawarkan pemandangan perbukitan dan lautan.

Ini adalah kali kedua aku menggapai Puncak Osmena yg terletak di pulau terbesar kesembilan di Filipina. Kali pertama aku sekitar sesuatu jam yg lalu. Hahaha.

Ya, aku memang sedang menikmati lari gunung di kawasan pegunungan yg disebut sebagai dataran tertinggi di Pulau Cebu. Menggemari olahraga lari di tempat-tempat tinggi seperti gunung, aku terus merindukan bagi menjelajahi gunung atau hutan di mana pun aku tinggal. Tempat aku tinggal kali ini tak memiliki gunung namun pantai yg indah dengan laut biru dan pasir putih.

Sudah lama aku mendengar tentang tempat ini dari relawan tempat aku bekerja maupun dari pencarian “hiking in Cebu” di mesin pencari internet. Namun, selama enam bulan terakhir, pekerjaan aku tak memungkinkan bagi bepergian ke tempat ini. Baru kali ini kesampaian menyambangi kawasan yg tidak jarang dipergunakan oleh para pengunjung buat berkemah menikmati malam di alam terbuka. Butuh sekitar enam jam perjalanan dengan bis dari tempat aku tinggal.

Berjarak sekitar kurang lebih 85 kilometer dari pusat Kota Cebu, Osmena Peak masuk ke dalam wilayah Kabupaten Dalaguete. Dapat dijangkau dengan gampang oleh transportasi umum.

Dari Terminal Bus Jalur Selatan, atau South Bus Terminal, Kota Cebu, kalian mampu memakai bus jurusan Oslob dulu minta turun di Perempatan Dalaguette. Bilang saja, “skena Dalaguette”. Skena berarti pojokan atau perempatan.

Lama perjalanan sekitar 2.5 jam dengan biaya sekitar 105 peso, setara Rp 30 ribu. Lalu dari pertigaan tersebut,ada beberapa pilihan tujuan. Kedua pilihan tersebut sama memakai ojek atau disebut habal-habal.

Pilihannya adalah kalau ingin merasakan trail running atau hiking, cukup minta diantar sampai Pasar Mantalongon dengan biaya sekitar 100 peso dan lama perjalanan sekitar 30-40 menit. Dari pasar ini menuju puncak Osmena kira-kira empat kilometer lagi dengan jalan menanjak melewati kawasan pedesaan, ladang sayur mayur dan perumahan warga.

Namun, kalau tak sedang ingin berjalan jauh, bilang ke abang habal-habalnya buat diantar tepat di pos pendakian yg terletak tepat di bawah kaki Puncak Osmena, melewati Pasar Mantalongon. Biasanya pengungjung memilih ini, karena tak ingin jalan kaki terlalu lama. Dari sini kira-kira sekitar kurang dari 1 km bagi datang di kawasan puncak Osmena, tentunya dengan masih menanjak.    

“Osmena Peak, sir? Guide, sir?” ujar anak-anak kecil yg menawarkan jasa mereka bagi mengantarkan para turis menuju ke puncak tertinggi di pulau ini. Saya baru saja turun dari habal-habal yg menurunkan aku di Pasar Mantalongon, titik awal lari.

Saya cuma tersenyum kepada mereka yg akan mengikutiku dari belakang dan berjalan di samping, mengikuti setiap langkahku menuju ke warung buat membeli air sebelum berlari menuju ke puncak tertinggi pulau kesembilan terbesar di negara ini.

Pasar Mantalongon, sejatinya mirip seperti pasar di Indonesia, tepatnya di kawasan pegunungan seperti Wonosobo atau Kopeng. Bahkan, keseluruhan negara ini mirip dengan negara saya, kecuali arah dahulu lintas mereka yg berkebalikan. Saya ingat saat pertama kali mendaratkan kaki di bandara Ninoy Aquino International Airport. Seperti Jakarta

Jalan dari Pasar Mantalongon menuju ke kawasan puncak Osmena cukup melelahkan. Jalan yg mendaki, disertai cuaca yg panas adalah kombinasi maut. Beruntung karena berada di tempat tinggi, udara dan angin cukup menyejukkan.

Pemandangan kiri kanan adalah ladang sayur mayur serta perumahan. Beragam macam sayur seperti kol, gambas dan sawi, gampang ditemukan disini. Beberapa anak kecil kelihatan sedang bermain di lapangan basket.

Oh iya, orang Filipina sangat gemar berolahraga, terutama bola basket dan lari. Kemanapun pergi di negara ini, bahkan hingga ke desa-desa yg jauh dari ibukota, memiliki lapangan bola basket. Tidak perlu lapangan khusus, cukup diatas lahan terbuka dari tanah dengan tiang buat keranjang bola.  

Tiba di pos pendakian, pengunjung harus melaporkan diri, tanpa dipungut bayaran. Saya segera ingat kawasan wisata di negara aku tercinta. Tak mungkin melewatkan membayar retribusi.

Pagi itu, dua orang pengunjung bersiap bagi menikmati Osmena Peak. Sekitar 10-an habal-habal sedang bersantai menunggu penumpang yg mereka bawa dari Pertigaan Dalaguette. Beberapa dari mereka coba mengobrol denganku dengan bahasa Vesaya, mungkin karena kemiripan fisik orang Filipina dan Indonesia. Lalu, bahasa tarzan pun muncul.

“Dilik na Visaya, brad, Indonesia, brad, Indonesia,” balasku. Nggak dapat bahasa Vesaya, bos. Kira-kira seperti itulah terjemahannya.

Dari posko pendakian ini, jalan menanjak curam dimulai. Bebatuan dan tanah dengan sisi kanan kiri adalah ladang sayur petani. Namun tak terlalu curam dan sangat dapat dilalui bahkan dengan sandal jepit atau sepatu sejenies sneakers. Terlihat tiga orang petani sedang bekerja di ladang.  

Dari Pasar Mantalongon, butuh sekitar 32 menit buat aku mampu mencapai puncak paling populer di kawasan Osmena Peak. Dari literatur yg aku baca, dengan jarak serupa, biasanya membutuhkan 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Di atas, banyak orang yg sedang menikmati pemandangan menawan, entah cuma sekedar duduk ngobrol ataupun memotret atau swafoto.  

Kawasan Osmena Peak mampu dikatakan cukup unik. Ada banyak perbukitan dari bebatuan keras seperti karang yg kelihatan runcing seperti tumpeng. Lebih dari 10 “tumpeng raksasa” di sini. Jarak antara tumpeng tersebut tak begitu jauh. Cukup berlari sekitar lima menit. Tidak banyak tanaman atau pepohonan disini. Rerumputan hijau kelihatan segar. Tampak laut dan Pulau Bohol di seberang.

Berdasarkan GPS yg aku bawa, titik tertinggi terletak di ketinggian 1045 meter diatas permukaan laut. Kira-kira sama dengan ketinggian Obyek Wisata Umbul Sidomukti di kaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Titik tersebut dari jauh seperti ujung tumpeng yg runcing dan dari dekat, ternyata tersusun dari bebatuan karang yg membentuk dinding karang berbatasan dengan jurang. Rasanya persis seperti sedang merayap menuju Puncak Merapi di Jawa Tengah.

Nama Osmena sebenarnya berasal dari nama sebuah trah keluarga terpandang dan berjasa, yg berasal dari Cebu. Klan mereka ada yg menjadi Gubernur Cebu, bahkan ada yg menjadi presiden Filipina di era tahun 40an.

Setelah menikmati Puncak Osmena, aku dulu bergegas turun kembali ke Pasar Mantalongon. 30 menit waktu yg aku butuhkan bagi lari kembali. Setelah duduk-duduk sekitar 10 menit, menikmati minuman energi dan sebatang coklat, entah karena sedang bersemangat atau karena sedang balas dendam akibat lama tidak bersenang-senang di gunung, aku putuskan bagi lari kembali ke puncak.

Abang-abang tukang ojek yg kemudian aku temui dulu bersorak sorai karena aku kembali lagi. Kali ini aku menghabiskan waktu sedikit lebih lama buat mengambil gambar sebanyak-banyaknya.     

Satu hal yg terus menjadi perhatian aku saat berada di gunung hutan yg kerap dikunjungi, adalah kebersihan dari sampah yg dibawa oleh pengunjung.

Di Osmena Peak ini, tidak kelihatan sampah yg berserakan maupun ditampung di sesuatu tempat. Bahkan di sekitar lokasi kemah pun tampak bersih. Terlihat sesuatu atau beberapa bekas api unggun namun tidak ada potongan plastik sampah tidak terbakar sempurna ataupun sampah botol plastik juga bungkusan makanan. Asumsi aku adalah entah dibakar habis atau dibawa pulang kembali.

Lalu aku bandingkan dengan sampah di kawasan puncak Gunung Ungaran. Di kawasan puncak, bahkan di jalur pendakian, mampu dengan gampang ditemukan sampah plastik entah dari pembungkus permen, coklat atau madu sachet. Belum lagi bungkus rokok dan botol air mineral. Tulisan-tulisan di batu besar entah dari cat semprot atau tipe-ex.

Bahkan di dua kali pendakian di dua gunung di Jawa, kawan-kawan aku seringkali berkelakar tentang sampah ini. Menurut mereka, bila menemukan sampah di gunung, berarti jangan khawatir kami mulai tersesat. Sampah berarti bukti jalur pendakian yg benar.

Segera setelah menikmati Puncak Osmena, aku kembali lari turun menuju Pasar Mantalongon. Beberapa orang tampak menikmati jalan kaki dari pasar menuju Osmena. Kami saling melempar senyum dan bertegur sapa.

Sudah hampir tengah hari. Matahari telah akan membakar dengan terik sinarnya. Beberapa orang yg tadi aku lihat di puncak akan lewat sesuatu persatu dengan ojek nya. Meninggalkan debu jalanan di sela-sela nafas terengah-engah aku berlari.

Di pasar, aku berhenti sejenak melemaskan otot-otot, menikmati minuman dingin dan akan mencari habal-habal bagi turun ke Pertigaan Dalaguete. Saya puas. Setidaknya aku telah lari sekitar kurang lebih 17 Km pagi ini.

Mungkin, buat penggemar olahraga lari gunung di Indonesia, Puncak Osmena tak terlalu memberikan tantangan berarti dibandingkan dengan jalur-jalur lari gunung biasanya.

Namun, pemandangan yg disuguhkan sungguh sangat berbeda dan tak kalah menakjubkannya. “tumpeng raksasa” berjejer seperti sedang menunggu raksasa tiba buat menyantapnya. Dan para pengunjung seperti hidangan penghias tumpeng-tumpeng itu.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/08/22/103500/3275187/1025/puncak-osmena-pemandangan-cantik-filipina-dari-ketinggian
Terima kasih sudah membaca berita Puncak Osmena, Pemandangan Cantik Filipina dari Ketinggian. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Puncak Osmena, Pemandangan Cantik Filipina Dari Ketinggian"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.