Pulau Capitansillo, ‘Malin Kundang’ Versi Filipina

No comment 119 views

Berikut artikel Pulau Capitansillo, ‘Malin Kundang’ versi Filipina, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Traveler tentu pernah mendengar legenda Malin Kundang yg dikutuk ibunya karena durhaka. Filipina juga milik kisah serupa di Pulau Capitansillo.

Besok ada agenda apa Xav? Tanyaku pada kawan serumah sore itu saat kita sedang menunggu becak motor buat pulang ke rumah.

Belum ada recana, memang kenapa? Kamu milik ide? Balasnya sembari bertanya.

Ayo kalian pergi ke Capitansillo. Aku pengen lihat seperti apa pulaunya, ujarku kepadanya.

Ayolah. Agak pagi ya berangkatnya biar tak terlalu sore pulangnya, ujar Xav.

Salah sesuatu becak motor yg dahulu lalang pun berhenti. Kami naik dulu duduk bersebelahan dengan penumpang lainnya.

Keesokan harinya sekitar pukul 05.30, kalian akan berjalan meuju ke pertigaan di mana becak motor biasa mangkal. Di kota ini, satu-satunya alat transportasi umum adalah becak motor. Ongkos menuju ke Odlot sebuah barangay (setingkat desa) yg salah sesuatu pantainya menjadi lokasi perahu-perahu nelayan bertambat dan menyediakan jasa penyeberangan adalah sekitar 10 Peso (sekitar 3.000 rupiah).

Namun karena pagi itu penumpangnya cuma kita berdua, biasanya sesuatu becak motor diisi enam orang penumpang. Kami membayar 100 Peso buat berdua. Dan pagi itu kalian menikmati perjalanan melintasi perbukitan dan sejuknya udara pagi selama 30 menit.

Tiba di Odlot, kalian menyusuri pantai yg terletak di belakang balai desa atau balai barangay. Mencoba mencari nelayan yg bersedia mengantarkan kalian ke Capitansillo yg sesungguhnya tampak samar-samar dari tepi pantai ini. Tidak ada harga yg pasti, tinggal kemampuan tawar menawar yg diperlukan.

Karena kita berdua adalah orang asing di tempat ini, termasuk tidak mampu berbahasa setempat, modal senyum, ramah tamah serta bahasa tubuh yg kita pergunakan.

Tidak lama kemudian, seorang bapak kira-kira berumur 55-60an sedang berjalan ke arah kami. Dan kita pun bertanya tentang perahu yg mampu membawa kalian ke pulau seberang.

Di luar dugaan, bapak tersebut malah menawarkan jasanya sendiri. 1.400 Peso bagi perjalanan pergi pulang sesuatu hari ini. Setelah coba menawar, dia dahulu menjelaskan bahwa dia pun harus memberikan uang 3.000 Peso ke penjaga mercusuar di sana.

Setelah berpikir, ini kan liburan. Sedikit uang kebih tidak ada salahnya. Karena menurut kami, aku sih lebih tepatnya, sedikit terlalu mahal.

Si bapak bersama dengan seorang pemuda dulu menurunkan jaring tangkapnya. Beberapa orang nelayan yg sedang asyik bercengkerama dulu menolong kalian bagi menarik dan sebagian orang mendiring serta mengangkat kapal masuk ke air.

Capitansillo Islet adalah sebuah pulau kecil yg terletak sekitar 10 Km dari pusat Kota Bogo, Cebu, Filipina. Pulau yg daratannya kira-kira kurang dari setengah lapangan sepak bola ini menjadi salah sesuatu tujuan wisata pendatang di kota yg terletak di Utara Pulau Cebu.

Menurut cerita yg aku baca dari laman resmi Kota Bogo, konon katanya pulau ini adalah kapal laut punya salah sesuatu kapten dari Spanyol yg menghina Raja Bogo dan saat hendak kabur, dikutuk dan menjadi pulau yg kini menjadi lokasi mercusuar pemandu buat kapal di perairan Bogo.

Saya dulu tersenyum melihat cerita rakyat Malin Kundang dari tanah Sumatera. Selain cerita rakyat tersebut, sesungguhnya tak banyak keterangan tentang pulau kecil ini.

Sesungguhnya tak banyak hal yg mampu dikerjakan di daratan ini. Tentu saja, karena tujuan penting tiba ke pulau ini adalah buat bermain-main di dalam air yg sangat jernih.

Namun, dari melihat foto-foto di internet, lalu pulau ini memiliki dua tempat beristirahat seperti gazebo. Di mana pengunjung mampu dduk santai berlindung dari terik panas yg menyengat atau sekedar meletakkan barang-barang selama menikmati perairan di sekitar pulau karang ini.

Setelah menggunakan seluruh peralatan masker snorkel dan finnya, Xav dan aku dulu menceburkan diri ke dalam air. Berbagai jenis macam ikan bisa kelihatan dengan jelas, warna-warni.

Dasar perairan penuh dengan pasir putih dan bongkahan karang yg telah mati. Mungkin, dulunya di sini ada praktek penangkapan ikan secara ilegal. Seperti penggunaan bom atau hancur karena ombak. Entahlah, tampak jelas sekali potongan karang – karang bertebaran.

Namun, semakin ke arah dalam menjauhi pulau, karang – karang masih bagus dan ikan makin beragam. Lalu, tampaklah perbatasan laut dalam biru gelap tanpa dasar.

Beberapa ikan berukuran besar berwarna-warni tampak di sini. Ribuan ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari dalam sati gerakan seperti dalam film dokumenter National Geographic. Dari jauh, Xav menyelam ke sana ke mari. Mengganggu rombongan ikan tersebut.

Setelah puas menikmati berenang ke sana ke mari melihat ikan dan bermain-main dengan ombak, kita dulu keluar dari air dan berjalan-jalan di atas pasir dan bebatuan. Saya dulu menghabiskan waktu mencari-cari obyek foto, sedangkan Xav menikmati berbaring di atas tembok bangunan yg telah rusak.

Ada sebuah bangunan yg berdiri berkeliling menara mercusuar. Ada beberapa buah ruang yg tampaknya dipergunakan oleh penjaga mercusuar buat tidur dan memasak. Saya tak sempat bercengkerama dan ngorol dengan penjaga yg sedang asyik berbincang-bincang dengan nelayan yg membawa kami. Kendala bahasa menjadi salah satunya.

Saya cuma dapat membayangkan betapa sabarnya orang yg mau (terpaksa) bertugas di tempat kecil ini. Berada di tempat kecil ini, kita merasakan kedamaian dari suara-suara peradaban. Hanya suara debur ombak yg menabrak dinding karang. Bilah-bilah daun pepohonan yg bergesekan.

Sesekali terdengar suara dari telepon pintar, saat ibu jariku menekan tombol pengambil gambar. Xaz asyik melempar bebatuan ke laut, berharap mampu berjalan di atas permukaan air.

Langit dan airnya biru, buih-buih ombak yg menabrak karang meemrcikkan air yg membasahi pasir yg dahulu menelan air tanpa menyiskaan bekas. Bangku-bangku dari semen dan batu diam membisu, menatap laut lepas, menghitung waktu menunggu rapuh. Kami pun duduk di atas pasir dalam diam, melemparkan pandangan ke arah laut lepas.

Tidak berapa lama kita dulu bergegas bagi pulang. Kapal nelayan tumpangan kita bergerak naik membelah ombak yg kian besar. Sedikit rasa khawatir, tetapi banyak senangnya. Semoga tak lepas mengumpat dan dikutuk menjadi pulau baru seperti Capitansillo.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2016/12/17/095500/3274985/1025/pulau-capitansillo-malin-kundang-versi-filipina
Terima kasih sudah membaca berita Pulau Capitansillo, ‘Malin Kundang’ versi Filipina. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pulau Capitansillo, ‘Malin Kundang’ Versi Filipina"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.