Pesan Moral Di Balik Kisah Cinta Burung Rangkong

No comment 35 views

Berikut artikel Pesan Moral di Balik Kisah Cinta Burung Rangkong, Semoga bermanfaat

Timika – Kisah cinta burung rangkong menarik juga diceritakan kepada anak. Hal ini dapat menjadi salah sesuatu cara buat mengajarkan anak-anak ikut melestarikan hewan.

Mengajari anak buat melestarikan hewan mampu dengan menceritakan kisah cinta burung rangkong pada mereka. Bagaimana bisa?

Ya, di Kota Timika, anak-anak TK sampai SMA dapat mendapat pengetahuan soal alam salah satunya dengan berkunjung ke Pusat Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia. Di sana, anak-anak dapat tahu lebih banyak tentang flora dan fauna termasuk burung rangkong.

Burung rangkong yaitu burung yg cukup banyak ditemukan di Indonesia, termasuk Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Ada diorama ekosistem yg memamerkan bagaimana kehidupan burung rangkong di Pusat Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia.

Dalam diorama terdapat burung rangkong jantan yg sedang mematuk-matuk dahan pohon yg jadi sarang rangkong betina ketika mengerami telurnya. Yang digunakan adalah burung rangkong asli tapi telah diawetkan dengan air keras.

Salah sesuatu pegawai Pusat Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia, Kukuh Indra menyampaikan diorama kehidupan burung rangkong jadi salah sesuatu andalan bagi memberi edukasi anak-anak sekolah.

“Kita ajari ke anak sekolah bahwa burung rangkong ini sangat setia. Dia cuma milik sesuatu pasangan,” kata Kukuh.

Pesan Moral di Balik Kisah Cinta Burung RangkongFoto: (Radian/detikTravel)

Ketika si betina bertelur, maka ia mulai masuk ke dahan dan si burung jantan mulai menutupi lubang di dahan itu. Hingga akhirnya tersisa lubang kecil yg jadi pintu si jantan memberi makanan ke burung betina. Sarang rangkong betina memang sengaja ‘didesain’ seperti itu dan cuma dapat dibuka dari luar saja.

Selama si betina mengerami telurnya kurang lebih 3 sampai 4 bulan, tugas rangkong jantanlah buat mencari makan. Nah, lewat penjelasan itu, Kukuh dapat memberi tahu anak-anak saat salah sesuatu burung rangkong diganggu, maka mulai ada sesuatu ekor rangkong beserta anak-anaknya yg terbengkalai di hutan.

Setelah telur menetas, rangkong betina mulai keluar lubang dan menunggui si anak. Sampai anak-anak burung rangkong berbulu dan bersiap terbang, barulah si betina berani meninggalkan lubang tersebut. Kira-kira, dalam waktu 3 pekan setelah menetas anak burung rangkong telah dapat terbang.

“Lalu, rangkong itu kalau sesuatu mati, dia mulai menunggu terus. Setia sekali kan. Itu yg kalian tekankan ke anak-anak. Diharapkan supaya mereka dapat mengedukasi keluarga atau orang di sekitar agar nggak memburu burung rangkong lagi,” kata Kukuh.

Maklum, di Timika sendiri, burung rangkong kerap beterbangan dari dan ke hutan secara berkelompok. Nah, ketika itu pula ada warga yg menembaknya dengan senapan angin bagi dijadikan santapan. Misalnya digoreng atau dibakar.

“Kadang ada anak yg sadar dan bilang ‘Aduh kemarin aku milik paman baru tembak burung ini’. Kalau begitu kalian tekankan besok-besok jangan boleh paman atau orang di sekitarnya nembak burung itu,” kata Kukuh.

Di diorama ekosistem, selain menyaksikan kisah cinta burung rangkong, pengunjung juga mampu melihat berbagai spesies ular dan kupu-kupu yg diawetkan. Kemudian, ada pula berbagai macam hewan yang lain seperti tikus hutan dan burung cendrawasih.

Pesan Moral di Balik Kisah Cinta Burung RangkongFoto: (Radian/detikTravel)

(rdn/krn)

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/03/29/092356/3458979/1519/pesan-moral-di-balik-kisah-cinta-burung-rangkong
Terima kasih sudah membaca berita Pesan Moral di Balik Kisah Cinta Burung Rangkong. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pesan Moral Di Balik Kisah Cinta Burung Rangkong"