Perlawanan Dari Tanah Blambangan

No comment 79 views

Berikut artikel Perlawanan dari Tanah Blambangan, Semoga bermanfaat

SEPANJANG sejarah, tanah Blambangan yg kini disebut Banyuwangi tidak pernah dianggap wangi. Pemberontakan, keterasingan, dan bahaya melekat di belakang namanya. Namun, kini stigma tersebut dilawan.

Palangkan adalah sebuah desa yg berada sesuatu league ke pedalaman, pada sisi kanan mulut Teluk Belambangan. Ia dibelah oleh sungai kecil yg alur masuknya berseberangan dengannya. Pada 13 Februari 1805, Jenderal Tombe dan pasukannya dikunjungi oleh Joudo-Negoro (Yudhonegoro), perdana menteri wilayah itu”.

Paragraf itu membuka tulisan tentang Blambangan di zaman kependudukan Inggris. John Joseph Stockdale, penulis dari Inggris, membukukan tulisan itu dalam sebuah karya berjudul Eksotisme Jawa: Ragam Kehidupan dan Kebudayaan Masyarakat Jawa. Di beberapa bab terakhir, Stockdale menulis bahwa pendaratan rombongan Jenderal Tombe ke Blambangan adalah perjalanan yg sulit dan berbahaya.

Di Banyuwangi kala itu ditemukan banyak penyakit lingkungan yg timbul akibat debu gunung berapi. Jalur menuju kota itu harus ditempuh dengan menyeberangi sungai beracun dan padang rumput yg penuh binatang buas. Stockdale bahkan menyebut kawasan itu sebagai kawasan buangan tempat para pelaku kriminal.

Namun, di sisi lain, cerita perjalanan itu menuliskan keramahan dan kekayaan budaya lokal warga setempat. Rombongan tersebut disambut dengan komedi melayu, gamelan, dan biola. Makanan yg disajikan melimpah, akan dari kopi, teh, sirih, makanan eropa, hingga makanan lokal.

Saat berkunjung ke desa kecil, warga lokal yg menyebut diri sebagai orang gunung menyajikan berbagai makanan lezat, seperti jagung, ayam panggang, dan sejenis gin (minuman beralkohol).

Tulisan Stockdale tentang Blambangan kala itu menggambarkan betapa warga lokal Banyuwangi sangat terbuka kepada pendatang. Stigma negeri inferior dengan tokoh-tokoh antagonis yg populer dalam epik Damarwulan yg telanjur populer tidak tergambar.

Keterbukaan dan keramahan itu hingga kini masih ditemukan. Juli lalu, seusai perayaan Barong Ider Bumi, warga Desa Kemiren, salah sesuatu kampung yg masih dihuni warga Using yg asli Banyuwangi, mengundang segala pengunjung buat duduk dan menikmati makanan bersama dengan mereka. Meski cuma beralas tikar, ada kehangatan dan keakraban di dalamnya.

Kehangatan juga ditemukan di pelosok-pelosok desa. Saat berkunjung ke Desa Kabat, Kecamatan Kabat, misalnya, warga mulai menyambut hangat kedatangan tamunya meskipun belum pernah kenal sebelumnya.

Pengamat adat Using, Ayu Sutarto, ketika masih hidup (Ayu Sutarto meninggal pada Maret lalu), pernah mengatakan, warga Using mempunyai kultur budaya yg terbuka, cair, dan dinamis. Mereka dapat menerima siapa saja dan apa saja. Mereka bahkan dapat meleburkan budaya mereka dengan budaya pendatang sehingga melahirkan budaya baru khas mereka.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/17/143900627/Perlawanan.dari.Tanah.Blambangan
Terima kasih sudah membaca berita Perlawanan dari Tanah Blambangan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Perlawanan Dari Tanah Blambangan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.