Perjuangan Menuju Situ Cisanti Di Sungai Citarum

No comment 88 views

Berikut artikel Perjuangan Menuju Situ Cisanti di Sungai Citarum, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Hulu Sungai Citarum di Situ Cisanti memang terkenal indah. Tapi buat menuju ke sana, butuh perjuangan di jalan yg tak mudah.

Pada hari Jumat (16/09/2016) kami melakukan perjalanan yg penuh dengan perjuangan berlar-lari mengejar bus dari pol Jakarta ke Bandung. Tadinya kalian berniat mengunakan jasa kereta api, tetapi kami beralih ke angkutan bus karena mengejar waktu agar tak kemalaman sampai bandung.

Perjalanan kalian di akan dari pukul 04.30 sore sampai di Bandung pukul 08.00 malam. Karena sepanjang perjalanan macet di mana-mana. Setibanya di Bandung, kita disambut dengan hujan rintik-tintik setelah itu harus memakai angkot menuju rumah paman atau nenek kita yg berada di Pagarsih.

Sampainya di rumah hujan akan turun agak deras. Tak apa-apalah biar hujan ini menjadi berkah. Saya kalian hujan mulai turun sebentar saja saat kita bangun pagi bagi melaksanakan sholat subuh, ternyata hujan masih turun.

Kami agak sedikit cemas apakah hujan ini mulai turun selalu hingga siang harinya. Gimana nanti pas camping di sana? Jam telah menunjukan pukul 07.00 pagi, hujan masih turun juga.

Akhirnya aku minta paman tolong didrop sekitar jalan Asia-Afrika. Sesampainya di sana hujan masih rintik-rintik dan akhirnya kita jalan kaki menuju Hotel (point pertemuan) dengan badan sedkit agak basah.

Di sana kalian disambut dengan ramah dari team detikTravel. Kita menunggu di dalam lobby sambil mengeringkan baju kami yg tadi terkena sedikit hujan. Berselang waktu kami diajak bagi menuju lantai 9.

Di sana ada dua orang yang  telah tiba buat ikutan acara detikTravel goes to Citarum. Kami dikumpulkan dalam ruangan itu berkenalan sesuatu dengan yg lainnya serta berbagi cerita tiba dari mana, mengunakan apa dan berangkat jam berapa.

Di dalam ruangan itu kalian bersunda gurau (Bercanda-canda). Apalagi aku pertama kali ikut dalam acara ini. Sungguh menyenangkan sekali. Tak berapa lama dari pihak detikTravel membuka acara dan mereka memulai pembicaraan sedikit tentang Situ Cisanti – Citarum.

Serta apa saja kegitan yg mulai kami lakukan di sana dari hari Sabtu Siang hingga Minggu siangnya. Tak berapa lama orang-orang tersebut sampai juga, kalian siap-siap menuju bus yg suda menunggu kita di depan Ibis Budget Hotel.

Alhamdulilah hujan telah reda, matahari pun bersinar. Kita memulai perjalanan kurang lebih 2,5 jam dari jalan Asia-Afrika menuju Citarum. Setibanya di sana, kita akan memasuki daerah Pegunungan Citarum.

Kita melihat pemandangan dan ladang sayur-mayur yg sangat menakjubkan. Tapi kita samua jangan salah paham dulu. Dahulu kala itu banyak pohon-pohon yg tumbuh dan karena ketidaktahuan masyarakat tersebut guna pepohonan adalah agar tak terjadinya longsor.

Tapi masyarakat tesebut tak memperdulikan peringatan itu, dan akhirnya kalian sampai juga di tempat Situ Cisanti – Citarum. Kita dibagi dua team/kelompok, ada yg 1 kelompok 4-5 orang, ada juga kelompok khusus bagi wanita.

Setelah dibagi kelompok, kami memulai gotong royong membangunkan tenda. Jujur ini pertama kali aku membuat tenda dan camping di alam terbuka. Akhirya tenda kalian pun jadi juga, barang-barang kita akan dimasukkan ke dalam tenda.

Tak lama kemudian makanan bagi makan siang telah datang. Kami makan bersama berlasakan daun pisang yg biasa disebut Botram. Kami seluruh makan makanan tersebut dengan lahapnya sambil bercanda-canda.

Tak berapa lama setelah makan kami diajak sedikit bercerita tentang Citarum zaman lalu oleh bapak Dudung. Setelah itu kalian akan beranjak menuju Citu cisanti sambil membawa kantong plastik buat mengambil sampah-sampah yg berada di sekitar Situ Cisanti.

Pas kami menelusuri sekitar danau aku sungguh terkejut mulai banyaknya sampah berserakan dimana-mana hingga di dalam danau tersebut. Dalam perjalanan menuju mata air kalian di dampingi dengan kang Agus.

Banyak pengetahuan yg di berikan oleh kang Agus. Kita pun diajak ke 7 mata air (Citarum,cikahuripan,cikoleberes,cihaniwung,cisadane,cikawudukan dan cisanti).

Setelah kami sampai di salah sesuatu mata air, para d’Traveler akan mencuci muka dan membasuh ke tanggan. Tapi jangan sampai terbalik, ternyata mata air itu di pisah. Ada yg khusus buat wanita dan ada pula yg khusus pria.

Saya sendiri menikmati air tersebut, betapa bening dan segarnya mata air tersebut. Kata kang Agus mata air ini mampu diminum segera karena kandungan mineralnya lebih bagus dari kemasan air botolan yg dijual di pasar, supermartket dan lainnya.

Kang Agus bilang tiap tahunnya ada ritual pertukan air, contohnya air yg dari Hulu di bawa memakai bambu panjang yg di lubangi dalamnya. Dibawa ke hilir, begitu juga sebaliknya dari hilir ke hulu.

Kang agus juga bilang, banyak orang-oarang dari luar negeri membawa sample mata air tersebut bagi diteliti kandungan air tersebut. Sambil kami meninggalkan mata air tersebut kalian beranjak ke makam Dipati Ukur yg tak jauh dari mata air tersebut.

Perjalanan kurang lebih 5-10 menit. Di sana kalian disambut dengan seorang ibu-ibu paruh baya yg menjelaskan area makam tersebut, akan dari petilasan Dipati Ukur hingga batu-batu yg terletak di area makam.

Setelah dari makam tersebut kami melanjutkan perjalanan hingga titik Nol citarum. Tapi kami tak lupa, tetap mengambil sampah-sampah yg ada d sekitar danau tersebut.

Waktu telah memamerkan malam hari. Tak lama kalian melihat sebuah dermaga kayu. Banyak dari penduduk sana yg tiap hari mancing di danau tersebut. Banyak ikan-ikannya yg berkembang biak dan tumbuh besar secara alami.

Malam harinya kalian santap malam dan mengikuti acara tanya jawab dengan kang Agus berserta teman-teman nya. Setelah acara tanya-jawab kami mengadakan acara api unggun sekaligus acara perkenalan team dan pesertanya masing-masing.

Acaranya sangat lucu, dan gelak tawa pun pecah. Tak terasa waktu telah malam dan kalian beristiraht di tenda masing-masing kelompok. Kita pun tertidur dengan nikmat (biar pun banyak yg ngorok dari tenda-tenda yg lain)

Tak terasa telah pagi hari. Sebagian orang telah berburu foto mengejar sunrise dan ada pula yg akan mandi dan ada pula sebagian yg menunaikan ibadah sholat subuh. 

Sebelum kami menuju perternakan sapi dan tata cara pengolahan limbah kotoran sapi, kalian makan pagi dahulu dan briefing membuat trending topic di Twiter dengan #selamatkan citarum.

Walhasil kami dapat ada di urutan no 2 setelah PersibDay di topic tranding Twiter. Kita akhirnya menuju perkampungan perternakan sapi dan pembuatan biogas.

Selama dalam perjalanan kaki kami disuguhkan dengan pemandangan yg begitu indah dari luar, tetapi siapa sangka di luar Situ Cisanti begitu indah tetapi di dalam situ cisanti banyak sampah yg berserakan.

Sesampainya di pemukiman penduduk kami ditunjukkan segera cara pembuatan biogas (kalau tak salah 1:3 maksudnya 1 scope kotoran sapi yg di masukan ke dalam lubang pembutan biogas di tambahkan 3 ember air setelah itu diputar memakai alat yg di dalam lubang tersebut) Gas tersebut masuk ke dalam pipa-pipa yg segera menuju tungku gas itu.
Kunjungan kita tersebut sekitar 1-1,5 jam, dan kalian melanjutkan perjalan menuju kandang sapi komunal yg terletak agak sedikit jauh dari dari perternakan sapi tersebut.

Dari komunitas d’Traveler menelusuri perkebunan sayur mayur. Sesampainya kami melewati rumah warga masih ada 15% penduduk sekitar yg segera membuang limbah kotoran sapi dalam aliran air (got) yg ujungnya segera menuju aliran Citarum. Sungguh-sunguh mengejutkan.

Tak berapa lama kami sampai di kandang sapi komunal yg kotoran tersebut tak segera dibuang ke kali tapi kotoran sapi tersebut diolah menjadi pupuk kandang dan berguna buat warga sekitar.

Hari telah siang dan kalian bergegas meninggalkan kandang tersebut menuju bus yg mulai menghantarkan kami ke point meeting di hotel yg pertama kali kalian kumpul.

Itulah sebagian cerita kalian akan dari Jakarta hingga sampai di Citarum tersebut. Semoga cerita ini mulai menjadi isnpirasi bagi d’Trveler yg yang lain ya.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/09/24/114300/3305019/1025/perjuangan-menuju-situ-cisanti-di-sungai-citarum
Terima kasih sudah membaca berita Perjuangan Menuju Situ Cisanti di Sungai Citarum. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Perjuangan Menuju Situ Cisanti Di Sungai Citarum"