Perjalanan Menembus Hutan Kopi

No comment 122 views

Berikut artikel Perjalanan Menembus Hutan Kopi, Semoga bermanfaat

Toraja Hari Ketiga

Ini hari ketiga kalian di Toraja. Penanggalan menunjuk angka 28 April 2016. Sisa-sisa capek masih terasa di betis setelah kemarin berjalan selama lima jam dengan medan yg licin penuh lumpur. Maka tidak heran seandainya celana dan sepatu kita juga belepotan penuh lumpur.

Hari ini kita berencana pergi ke perkebunan kopi Sulotco yg terletak di Bittuang, tepatnya di Bolokan, Kabupaten Tana Toraja. Bolokan artinya ingusan. Sebab tiap tiba kemari terus ingusan lantaran tempat ini berada di ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut.

Melewati jalan berkelok dan mendaki, salah sesuatu mobil dalam rombongan kita mengalami gangguan mesin. Jadilah kita harus berimpitan dan sebagian duduk di bak belakang.

Saat akan memasuki hutan kopi, aku teringat Bupati Toraja Utara Kalatiku yg bercerita, bahwa Kopi Toraja sebetulnya telah dikenal sejak lama. Kopi di Toraja ada yg disebut tipika, kopi asli Toraja. “Pohonnya dapat dipeluk beberapa orang. Kopi ini aromanya lain. Tapi sekarang termarjinalkan. Tipika toraja lima tahun baru berbuah. Tetapi ahli kopi menjamin mampu mempercepat keluarnya buah,” tutur Bupati Kalatiku.

Angin dingin akan menyergap kulit kami. Jalan berbatu membuat goncangan mobil kian terasa. Setelah melintas sekira sesuatu jam, kalian pun sampai di Perkebunan Sulotco dan disambut oleh pimpinan dan staf perkebunan. Hari belum kelewat siang, itulah soalnya setelah mendengar kisah tentang perkebunan ini, kalian langsung mengelilingi kebun.

Dari Pimpinan kebun kopi PT Sulotco, Samuel Karundeng, kalian pun beroleh cerita riwayat perkebunan Sulotco.  Awalnya, perkebunan ini punya seorang Belanda bernama H.J. Stock van Dykk yg dimakamkan di Rantepao. Pernah dikuasai Jepang ketika bangsa Matahari Terbit itu menjajah Indonesia, kemudian menjadi punya negara dan selanjutnya dikelola oleh PT. Sulotco Jaya Abadi yg berkantor di Surabaya.

Pembukaan lahan perkebunan dimulai tanggal 7 Maret 1987 dengan luas lahan operasi seluruhnya 1.199,364 Ha dengan status hak guna usaha (HGU) berlaku selama 30 tahun yg bisa diperpanjang. Dari luas lahan tersebut, 800 ha buat tanaman kopi, 200 dijadikan hutan konservasi, dan sisanya bagi cadangan.

Perkebunan ini memiliki visi mulai mengembangkan dan meningkatkan produksi kopi Arabica Spesialty Toraja di pasaran dunia melalui kegiatan ekspor.

Seiring dengan meningkatnya permintaan mulai kopi luwak, maka Sulotco kini juga menyediakan lahan seluas 2 ha yg digunakan buat memproduksi kopi luwak yg dihasilkan dari 250 ekor luwak atau musang yg dilepas di kebun yg dipagar tersebut.

“Sejak tahun 2009 lalu, kalian akan merintis pembuatan kopi luwak di Toraja. Saat ini, kopi luwak Toraja yg kita bagi telah memiliki pangsa pasar yg tetap,” ujar Samuel Karundeng.

Dia mengatakan, dalam membuat kopi luwak, pihaknya memakai biji kopi arabika yg yaitu macam kopi unggulan daerah Toraja yg telah terkenal hingga ke mancanegara. Dalam sehari, PT Sulotco dapat memproduksi kopi luwak arabika Toraja rata-rata 50 gram.

“Proses pengolahan kopi luwak tak sesederhana dengan pengolahan kopi biasa karena butuh waktu yg cukup panjang,” ujarnya.

Samuel menambahkan, pihaknya sedang menjajaki kerja sama dengan pemerintah kabupaten (Pemkab) Tana Toraja dalam mengembangkan kopi luwak arabika di Toraja. Kerjasama tersebut dalam bentuk pemberdayaan kelompok-kelompok tani bagi mengolah kopi luwak bagi tidak mengurangi pendapatan keluarga.

Dirinya optimistis, kopi luwak arabika Toraja memiliki pasar yg sangat bagus sehingga tak sulit bagi dipasarkan. Dalam mengolah kopi luwak arabika, pihaknya juga mengutamakan mutu dan kualitas kopi. Kopi arabika Toraja yg memiliki aroma yg sangat unik mulai semakin baik seandainya dipermentasikan dengan luwak sehingga memiliki nilai tambah.

Perkebunan ini berada di beberapa kabupaten, Tana Toraja dan Toraja Utara. Seluas 800 ha berada di Toraja Utara dan berada di 3 kecamatan dan 5 lembang (desa). Sisanya berada di Tana Toraja. Memperkerjakan 400 karyawan; sebanyak 80 persen tinggal di kebun, dan selebihnya meninggali rumah pribadi. Mereka sebanyak 210 orang, yg semula karyawan, kemudian dijadikan mitra perusahaan sejak 2009. Masing-masing orang mendapat lahan garapan seluas 2 ha. Menurut Pimpinan kebun kopi PT Sulotco, Samuel Karundeng, untuk mereka yg rajin, setiap tahun dapat menyisihkan uang sebanyak Rp50 juta.

Hujan deras mencegat kita ketika puas mengelilingi kebun. Jalanan licin memaksa mobil yg kalian tumpangi bagi lebih berhati-hati. Setelah mengitari kebun, kalian sampai kembali di kantor kebun. Pak Samuel dan staf telah menyambut kalian dengan makan siang yg menggugah selera.

Hujan kini tinggal gerimis. Makan siang di meja sudah tandas, staf Pak Samuel menyempurnakannya dengan secangkir kopi luwak Toraja yg harum dan menyegarkan. Hmmm… glk glk.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/05/30/195547027/perjalanan.menembus.hutan.kopi
Terima kasih sudah membaca berita Perjalanan Menembus Hutan Kopi. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Perjalanan Menembus Hutan Kopi"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.