Pengalaman Menyelami Alam Bawah Laut Tobelo, Morotai, Dan Jailolo

Berikut artikel Pengalaman Menyelami Alam Bawah Laut Tobelo, Morotai, dan Jailolo, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Diving di Indonesia memang tak mulai ada habisnya. 3 Titik yg direkomedasikan buat dijelajahi adalah Tobelo, Morotai dan Jailolo yg cantik jelita.

Tobelo, Morotai, Jailolo, trio pulau ini terdengar eksotik bagi dilafalkan. Tapi ternyata, sebagian besar anggota rombongan perlu  bantuan mesin pencari menemukan titik persisnya di atas peta. Itu terjadi sebelum, bahkan ketika perjalanan sudah dimulai. Sedikit memalukan, begitu minimnya pengetahuan kita tentang Indonesia.  

Aroma asin air laut, udara bersih, langit biru cemerlang, petualangan baru menjelajah pulau rempah penuh di kepala. Perjalanan seminggu  dimulai. Rutenya berurut dimulai dari Tobelo, ditempuh dari Jakarta melalui perhentian di Kota Manado.

Berganti pesawat berbadan lebih kecil yg cuma terbang sekali dalam sehari. Menuju Bandara Kuabang di Kao, kota kecamatan di pesisir pantai. Perlu waktu sekitar beberapa jam menyusur pantai Timur buat sampai di resort pantai tujuan kita di Tobelo.

Meskipun tujuan utamanya ekplorasi titik  penyelaman, kemolekan bentang alamnya tak mampu diabaikan. Hampir segala hari dihabiskan mengitari lautan. Di atas dek kapal kayu kecil yg selalu membelah ombak mengantar kita berpindah dari sesuatu titik ke titik lain.

Matahari terbit dan tenggelam, beberapa momen yg paling ditunggu. Latarnya, langit maha luas bertampalan dengan awan. Di atas air laut yg tidak nampak dasarnya menciptakan efek dramatik yg terus disuka.

Hamparan coral  padat nan sehat adalah keunggulan penting lokasi penyelaman di sini. Berwarna cerah, kontur dasarnya banyak berupa taman coral, sebagian tebing dengan lekuk yg unik.

Seperti tebing yg puncaknya membentuk lengkung. Beberapa bersisian dengan tubir laut dalam. Jarak pandang di kedalaman bergantung pada keberuntungan keadaan laut. Di dasar berpasir putih yg halus, butirannya rentan terbawa arus. Biotanya khas ekosistem laut tropis.

Beberapa titik penyelaman menyisakan kesan mendalam lebih dari yg lain. Pertama, adalah ketika melalui pengalaman melakukan cave dive-penelusuran goa bawah laut. Di spot yg dinamai Loleba, seluruh antusias menyiapkan diri. Goa yg posisinya di sekitar kedalaman 20 meter ini  cukup luas bagi menampung tubuh manusia.

Semua penyelam masuk ke dalam goa yg gelap. Cahaya senter dan lampu kamera sedikit menolong mengatasi gelap. Jika  pernah milik pengalaman menjelajah goa di perbukitan, pengalaman menjelajah goa di dasar laut  berlipat mencekamnya.

Untungnya, kegirangan bercampur kepercayaan mulai kehandalan rekan penyelam bagi saling menjaga mampu meminimalkan ketegangan. Goa ini tak terlalu panjang, cuma perlu dua menit melintasi buat keluar di sisi goa yg lain.

Kemudian, di titik yang lain menawarkan suasana bawah laut dari gunung api.  Merasakan fenomena termocline–pertemuan air laut berbeda suhu menimbulkan sensasi berbeda di tubuh. Fenomena ini ditandai dengan ribuan gelembung gas yg keluar dari dasar.

Selanjutnya, dikerjakan pencarian hiu macam black tip. Meskipun  hiu yg ditemukan berukuran kecil dan melintas cepat sehingga sulit didokumentasikan. Namun pengalaman ‘berburu’ hiu itu menyimpan jejak manis di ingatan. Di kedalaman yg terbilang  dangkal, jarak pandang   sangat baik hamparan coral jadi hiburan mata di balik masker.  

Pengalaman sensasional di laut dalam mungkin juaranya. Ini terjadi di  penyelaman di sekitar Morotai. Penyelam sampai perlu diingatkan berkali-kali bagi berhati-hati. Menyelam di kedalaman lebih dari 40 meter  tak kadang dikerjakan dan butuh  keterampilan khusus.

Daya tahan tubuh manusia terhadap kompresi terbatas. Semakin dalam, tekanan yg dialami semakin besar. Kebutuhan udara semakin besar pula. Perlu cermat dengan ketersediaan gas dalam tabung. Juga ada risiko   penyakit dekompresi–kondisi ketika gelembung nitrogen memenuhi jaringan tubuh dan menimbulkan rasa sakit.

Tahapan turun ke kedalaman hingga naik perlahan, berhenti di kedalaman tertentu dalam kurun waktu yg ditentukan, memiliki kalkulasi matematis. Semuanya jadi prosedur yg wajib dipatuhi para penyelam.

Menjadi saksi mata puing Bristol Beaufort–pesawat pengebom punya Amerika teronggok damai adalah alasan di balik penyelaman laut dalam ini. Kejayaan Amerika di bawah komando Jenderal MacArthur dan sekutu tersimpan separuh sejarahnya di sini.

Wujud puing masih mampu dikenali dari sayap dan badan pesawat. Meskipun pesawat dalam posisi terbalik. Morotai memang pernah menjadi hub logistik Perang Pasifik. Dimulai tahun 1944, lokasinya strategis dekat Filipina dan bersisian dengan Samudra Pasifik.

Semua beruntung mampu sampai titik yg dituju. Mengarahkan mata pada puing pesawat. Rentang sayapnya diperkirakan sekitar belasan meter. Tidak mampu berlama-lama. Komputer selam di pergelangan tangan memberi sinyal bunyi, mengingatkan kedalaman dan sisa waktu aman yg mampu dipakai.

Suasana hening dengan intensitas cahaya yg semakin berkurang. Namun,  air laut jernih. Memungkinkan jarak pandang cukup jauh. Kemudian kalian kembali ke permukaan dengan selamat. Sungguh pengalaman yg mulai terus tersimpan.

Di antara interval waktu penyelaman, kapal bersandar di dua pulau-pulau kecil. Pesona Maluku Utara memang tak habis-habis. Sebagian yg aku ingat adalah Kupu-kupu, Kumo, Dodola dan Galo-Galo. Selalu ada energi baru setiap usai menapaki jejak di atas pasir putih lembutnya. Atau setelah bermain di pantai landai dekat dengan jetty di bawah cahaya matahari yg sempurna. Ada juga danau Galela yg menyejukkan.

Dua hari terakhir, penyelaman dikerjakan di sekitar Jailolo. Bersamaan ketika perhelatan bertajuk Jailolo Festival digelar. Eksplorasi alam bawah laut Jailolo disiapkan sebagai rangkaian dari agenda festival. Di luar kegiatan wisata budaya dan alam yang lain di Pulau Rempah ini. Kota kecil yg bersahaja ini langsung membuat jatuh cinta.

Sayang, aku harus kembali lebih awal. Namun dari gambar yg terkirim dari kawan-kawan yg meneruskan perjalanan, aku jadi tahu bahwa Jailolo tak kalah  elok parasnya. Oleh mereka, daftar tempat berkesan  mulai jadi lebih panjang.  

Bagian paling tak menyenangkan dari perjalanan adalah menyudahinya dan berurusan dengan sindrom paska liburan. Kapal kecil yg memuat belasan tubuh ditambah perlengkapan yang lain memang cukup sempit. Tapi rasa riang  hati berhasil membuatnya lapang.

Kami menanti waktu buat kembali melakukan perjalanan ke surga-surga kecil di pelosok negeri. Menjalaninya bersama kawan-kawan seminat yang  langsung menjadi keluarga baru, menyempurnakan petualangan di bumi Indonesia.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/07/28/154100/3238892/1025/pengalaman-menyelami-alam-bawah-laut-tobelo-morotai-dan-jailolo
Terima kasih sudah membaca berita Pengalaman Menyelami Alam Bawah Laut Tobelo, Morotai, dan Jailolo. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pengalaman Menyelami Alam Bawah Laut Tobelo, Morotai, Dan Jailolo"