Pengalaman Melintasi Selat Sape Di Sumbawa Dengan Kapal Phinisi

No comment 125 views

Berikut artikel Pengalaman Melintasi Selat Sape di Sumbawa Dengan Kapal Phinisi, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Kapal phinisi menjadi salah sesuatu moda transportasi menuju Sumba dari Sumbawa. Namun bagi mencapainya, traveler harus mengarungi ganasnya Selat Sape.

Sore itu kita baru saja datang di Pelabuhan Sape. Sebuah pelabuhan paling ujung di Pulau Sumbawa yg menjadi gerbang penting buat menuju Indonesia Timur. Terlihat ada beberapa kapal ferry RORO yg sedang sandar di dermaga.

Informasi sementara, sesuatu buah kapal mulai menuju Labuan Bajo, dan sesuatu lagi mulai menuju Waikelo, Sumba. Itu kapal yg mulai kita pilih. Tak butuh waktu lama buat kalian mendapat kepastian, bahwa Kapal RORO yg menuju Waikelo hari itu tak berangkat karena cuaca buruk. Berita ini cukup membuat kita was-was.

Tak lama, kalian didekati seseorang yg menanyakan identitas team, dan bertanya tentang apa yg kita lakukan di sini. Pak Zaenal. Ternyata beliau seorang anggota Kepolisian KP3, sebuah satuan yg bertugas di setiap pelabuhan.

Beliau menyampaikan, bahwa ombak di Selat Sape sedang ganas. Tidak ada kapal yg berani menyeberang, terutama setelah peringatan itu dirilis secara resmi oleh BMKG Kupang, Nusa Tenggara Barat.

Kami tak dapat menunggu. Mencoba mencari alternatif yang lain dengan bertanya kepada nelayan setempat, yg dulu mengarahkan kalian ke sebuah kapal Phinisi berwarna putih yg kelihatan sandar di dermaga paling ujung.

Beberapa kru kelihatan sedang mencari penumpang, dan tidak butuh waktu lama buat mereka menawarkan kepada kalian buat menyeberang menuju Waikelo dengan memakai kapal yg sama.

Kami berpikir sejenak. Tiga orang personil dalam team belum terbiasa, bahkan belum pernah naik kapal Phinisi ini. Sebuah kapal dengan Tonase 40 Ton dan kapasitas angkut penumpang hingga 80 orang.

Komunikasi singkat dengan rekan di Jakarta menyiratkan keraguan, tetapi keputusan ada di kami, Team lapangan. Tidak ada kata mundur, dan ini adalah pilihan.

Pukul 21.00, empat unit motor Team Indonesia Eastcapade akan dinaikkan, dan kalian pun ikut naik setelah seluruh barang selesai dimuat ke lambung kapal. Kapal ini dinakhodai oleh Bapak Fulan, seorang pelaut asli Bajo.

Suku Bajo adalah nama sebuah suku yg handal dalam mengarungi samudera yg sudah ribuan tahun menjelajah laut nusantara, bahkan dunia. Pertanyaan singkat kepada beliau mengenai ganasnya ombak di selat Sape, cuma disambut oleh beliau dengan senyuman. Dan jawaban yg sangat menenangkan.

“Kapal Ferry besi itu baru dua tahun ada. Kapal kayu kita ini sudah ratusan tahun mengangkut penumpang dan barang di lautan. Namanya laut, pasti berombak, dan kalian selalu belajar bagi bagaimana caranya, bukan melawan ombak,tapi menaklukkannya tanpa membuat celaka. Insya allah, ombak ketika ini bukan yg paling buruk dari yg pernah kita lintasi, dan besok pagi kami mulai datang di Waikelo”

Kami mengambil tempat di atas atap kapal yg bergerak cepat dengan tiga mesin, meninggalkan dermaga Pelabuhan Sape, menuju Pelabuhan Waikelo, Pulau Sumba.

Sebuah tiang layar yg berdiri kokoh di haluan, dengan lampu di ujungnya menjadi penanda satu-satunya, bahwa kapal sedang bergerak maju dengan kecepatan lebih kurang 23 Knot. Cukup cepat.

Bintang bertaburan di langit Selat Sape. Awan gelap kelihatan menggelayut didepan sana, yg entah berapa kilometer ke depan. Kapal akan bergoyang ke kiri dan kanan. Haluan kapal pun kelihatan mengangkat cukup tinggi, dulu kemudian terhempas kembali dan menyisakan deburan ombak yg membasahi segala bagian kapal.

Di atas atap kapal, kita cuma 7 orang. 4 orang personil team, 2 orang penumpang dan 1 orang kru kapal yg mengatur navigasi kapal. Belasan orang penumpang yang lain berjejalan di geladak bawah.

Enam jam di ayun ombak, segala personil Team nyaris tidak dapat memejamkan mata. Ayunan kapal dan kuatnya hempasan ombak yg menggempur kapal membuat seluruh ketenangan hilang. Hingga akhirnya ketika fajar menjelang, kita melihat cahaya terang di ujung sana. Pulau Sumba.

Dan itu Waikelo, dermaga di sisi barat daya pulau Sumba yg mulai menjadi pintu masuk kita buat menuju Anakalang, Sumba Tengah. Enam Jam yg sungguh takkan terlupakan di tengah laut Selat Sape yg terkenal ganas.

 

 

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/08/09/143500/3267843/1025/pengalaman-melintasi-selat-sape-di-sumbawa-dengan-kapal-phinisi
Terima kasih sudah membaca berita Pengalaman Melintasi Selat Sape di Sumbawa Dengan Kapal Phinisi. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pengalaman Melintasi Selat Sape Di Sumbawa Dengan Kapal Phinisi"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.