Pecak Cucut Di Tepi Pekalongan

No comment 171 views

Berikut artikel Pecak Cucut di Tepi Pekalongan, Semoga bermanfaat

BERKUNJUNG ke sebuah kota? Mari kami cicipi rahasia kuliner orang setempat, yakni tempat makan yg enak, tapi tak mencekik kantong. Tempat makan ini biasanya ”nyelip”, terletak di pinggiran, atau luput dari radar pantauan media massa.

Seorang juragan batik di Pekalongan, Wulan Utoyo, memperkenalkan kita pada Warung Makan Mak Seh. Terletak di Jalan Kusuma Bangsa, warung makan ini terus ramai ketika jam makan siang. Baru buka pukul 11.00, tapi menjelang pukul 15.00 biasanya segala makanan telah habis.

Menu yg paling khas dan dicari adalah pecak cucut dan sayur asam. Sebenarnya berbagai menu yang lain pun tidak kalah menarik dan nikmat, seperti ikan dan ayam goreng, gorengan, serta sayur lodeh. Sambil menunggu pesanan makan diantar, jangan lupa mencicipi pisang gorengnya yg manis dan gurih.

Ikan cucut yg digunakan adalah ikan cucut asap yg memberi aroma khas saat daging ikan kalian lumat. Potongan ikan cucut asap ini kemudian digoreng dan dipenyet dengan sambal mentah.

Potongan ikan ditaruh di atas cobek besar lantas diolesi sambal di bagian atas permukaan daging. Setelah itu, ikan dan sambal di atasnya ditekan dengan ulekan hingga penyet. Sambal yg merasuk, tidak mengurangi nikmat rasa ikan.

Sebenarnya, apa pun dapat dipecak sesuai permintaan. Tempe goreng atau bandeng goreng dapat dengan manis bersanding dengan olesan sambal di atasnya.

Sambal yg digunakan adalah sambal terasi mentah dengan cabai merah besar yg berwarna merah tua dan cabai rawit yg disebut rawit ”setan” karena pedasnya. Ada sedikit rasa langu yg tersisa dengan kesegaran yg dimunculkan dari kucuran air jeruk nipis ke atas ulekan sambal.

Sayur asam bikinan Mak Seh berpenampilan beda daripada biasanya. Kuahnya tampak kental seperti diberi santan. Ini karena pemakaian kemiri yg banyak.

Selain potongan labu siam, kacang tanah, kacang panjang, kubis, dan daun so muda, seperti jamaknya isi sayur asam, terselip pula sesuatu beberapa potong mentimun dalam sesuatu mangkok sayur. Rasa asamnya berasal dari asam jawa.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Warung Makan Mak Seh di Semarang, Jawa Tengah.

Selain sayur asam, juga tersedia sayur lodeh yg berisi irisan tipis labu siam dan tahu dengan kuah bersantan. Di samping ikan cucut, warung makan ini juga menyediakan berbagai ikan lain, seperti tenggiri, bandeng, udang, cumi, dorang, kakap, dan ikan yg oleh orang setempat disebut pihi dan blocok.

Variannya bergantung pada hasil tangkapan nelayan ketika itu. Rata-rata ikan digoreng. Agar tak amis, diberi jahe pada deretan bumbunya. Cumi-cumi atau sotong dimasak sekaligus dengan tintanya sehingga meninggalkan warna hitam yg memberi rasa gurih.

Warung makan ini diberi nama sesuai nama pemiliknya, Ningsih (55) yg kadang dipanggil Mak Seh. Warung Makan Mak Seh buka setiap hari, kecuali Jumat kliwon.

Menurut Mak Seh, ini tak ada maksud apa-apa, cuma buat mempermudah waktu libur. Selain libur Lebaran, warung ini juga mampu saja tiba-tiba tutup kalau pemiliknya harus berpergian ke tempat lain.

”Sebenarnya juga tak harus Jumat Kliwon, tidak jarang kalau pas ada acara, ya, libur. Cuma seringnya memang Jumat Kliwon kalian libur,” kata Mah Seh.

Setiap hari, Mak Seh menghabiskan 5 kilogram beras dengan pengunjung mencapai rata-rata 60 orang dalam waktu buka 3-4 jam. ”Makannya sedikit-sedikit. Jadi, 1 kilogram beras dapat buat 12 orang,” kata Mak Seh.

Berkembang

Mak Seh semula cuma berjualan jagung bakar, kolak, dan gorengan yg cuma melayani belasan orang. Lambat laun makin banyak pembeli dan Mak Seh tidak mengurangi menunya dengan menyediakan rujak buah dan soto.

Ketika jumlah pelanggan selalu meningkat, ia coba memasak berbagai masakan yg dia kuasai resepnya, seperti sayur lodeh dan pecak cucut tadi. Itu berjalan sekitar setahun.

Ketika halaman parkir tak bisa menampung lagi kendaraan pelanggan, Mak Seh menetapkan mencari tempat baru yg sekiranya lebih lapang. Pindahlah dia ke tepi Jalan Kusuma Bangsa yg cuma berjarak sekitar 400 meter dari tempat lama sejak enam tahun lalu.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Foto-foto di Warung Makan Mak Seh di Semarang, Jawa Tengah.

Warung ini cuma berukuran sekitar 20 meter persegi, beratap seng, dengan pintu yg cuma mampu dilewati sesuatu orang. Beberapa pelanggan bahkan berulang kali terantuk emperan atap lantaran terlampau rendahnya bangunan ini.

Pelanggan juga didera hawa panas pesisir Pekalongan sehingga mereka berkeringat deras. Namun, mereka tidak bosan tiba dan tiba lagi. ”Sayurnya segar dan masakannya gurih. Pas buat makan siang,” kata Wulan.

Mak Seh menjelaskan, warungnya itu mulai digusur pemerintah lantaran ada proyek pelebaran jalan. ”Kami nanti pindah ke sini,” kata Mak Seh menunjuk bangunan permanen berpola rumah toko dengan pintu lebar. Bangunan ini berdiri berkat sensasi gurih pecak cucut. (SRI REJEKI/M HILMI FAIQ)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/05/31/073900127/Pecak.Cucut.di.Tepi.Pekalongan
Terima kasih sudah membaca berita Pecak Cucut di Tepi Pekalongan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pecak Cucut Di Tepi Pekalongan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.