Pantai Kelingking, Satu Lagi Keindahan Bali

No comment 136 views

Berikut artikel Pantai Kelingking, Satu Lagi Keindahan Bali, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Bagi yg sedang liburan ke Bali, datangilah Pantai Kelingking di Nusa Penida. Keindahannya akn bikin kamu nggak mau pulang!

Subhanallah.. segala kalimat pujian seakan keluar dari mulut saat kita melihat apa yg ada dihadapan kami. Sebuah tebing curam segera berhadapan dengan samudra yg sangat luas, dan tepat di ujung tebing muncul sebuah tebing yg lebih rendah menjorok indah. Inilah Pantai Kelingking yg sukses memukau kita semua.

Saatnya melupakan perasaan takut mulai ketinggian dengan berdiri tepat di bibir tebing di tempat yg juga kadang disebut Kelingking secret point ini. Surga seakan lebih dekat saat hamparan pantai nan indah memukai kalian tepat di depan mata.

Duh gusti, seandainya dunia saja engkau untuk seindah ini apalagi yg Engkau namakan Surga, pasti berkali lipat keindahan yg ada di dunia ini. Perasaan seketika berkecamuk, apakah saya mampu menuju surga yg sesungguhnya?Â

Tapi memang saat berkunjung ke tempat tempat indah di berbagai pelosok negeri ini saya rasa semakin mampu mendekatkan diri ke pada sang pencipta, karena seberapa kecil kalian di antara megah alam semesta ini.

Diatas bibir tebing yg sempit ini kaki kaki kita akan menjelajah bagi menikmati keindahan yg ada dari berbagai sudut. Kepala kalian menengok ke kanan dan ke kiri dan tangan pun tidak mampu berhenti buat tidak memegang kamera dan mengabadikan segala yg ada.

Pantai kelingking cuma punya kalian berlima, tidak ada pengunjung yang lain yg datang. Maka dari itu kalian seakan lebih puas menikmati semua. Dan datang datang muncul kepala Mas Fauzan dari balik rerimbunan semak semak dengan nafas yg tersengal.

“Dari mana mas?” tanyaku padanya.

“Dari bawah sana, saya ingin tahu apa dapat turun ke bawah pantai,” sahut Mas Fauzan bersemangat.

“Pantesan dari tadi udah ilang aja, kirain kecebur kebawah,”sahutku kembali.

“Jalurnya curam banget, dan kanan kiri segera jurang tetapi ada jalan setapak kecil menuju pantai di bawah, suatu ketika saya harus balik lagi ke sini bro,”.

Wah jiwa petualang Mas Fauzan besar juga pikirku, namun memang untuk para pecinta petualangan alam tempat ini begitu menggoda, dari atas sini kelihatan di kejauhan ada sebuah pantai tersembunyi dengan pasirnya yg begitu putih. Seakan melambai-lambai mengajak kita segala bagi berkunjung.

Namun tampaknya tidak mudah, dengan sudut kemiringan tebing yg lebih dari 45 derajat ditambah cerita dari mas Fauzan tadi telah terbayang betapa beratnya bagi turun kebawah apalagi nanti waktu perjalanan pulang kalian pasti mulai kembali mendaki tebing tinggi ini.

Dan saya kembali termenung, memang buat mencapai surga itu tidak mudah. Harus ada perjuangan bagi menggapainya. Begitupun manusia hidup di dunia ini segala harus berjuang bagi dapat masuk ke pintu surga yg telah disediakan, namun itu tergantung tekad dan keinginan kami bagi mampu mencapainya.

Setelah dirasa cukup puas Fajar mengajak kalian seluruh bagi langsung berbalik arah meninggalkan tebing pantai Kelingking. Sekali saya memandang luas sambil berkata dalam hati bahwa kakiku sudah sahih menginjakkan kaki di salah surga indah di pelosok Indonesia.

Mesin motor meraung keras seakan ingin berkata kepada kita “beban kita terlalu berat, saya tidak sanggup. Mendengar suara parau mesin ini saya meminta mbak okta buat turun dan berjalan, tidak begitu jauh memang namun sangat curam.

Tepat setelah jalan menanjak tadi saya melihat ada seorang ibu ibu yg telah renta duduk dibawah pohon yg cukup rindang sambil menjajakan dua kelapa muda yg ia tumpuk di sampingnya.

Duduk termenung menunggu para pengunjung tiba bagi mencicipi dagangannya. Namun tak buat hari ini, Pantai Klingking nampaknya sepi cuma ada kita berlima yg datang. Aku pun inisiatif mengajak yg yang lain buat istirahat lalu sambil menikmati kelapa muda.

“Berapa kelapanya sesuatu bu?” tanyaku padanya.

“15 ribu nak” sahut sang ibu dengan logat khas Balinya.

Mahal juga pikirku.. namun setelah berdiskusi dengan yg yang lain kita akhirnya memesan 4 biji kelapa. Sekedar buat berbagi rezeki bagi warga sekitar, kalian jangan cuma menikmati keindahannya saja namun seandainya kami dapat tengoklah warga warga pelosok seperti ibu ini. Tak perlu muluk muluk cuma dengan hal kecil membeli apa yg mereka jajakan telah sangat menolong perekenomian berjalan dengan baik.Â

Sambil menyedot air kelapa yg segar ini saya sedikit membuka obrolan dengan sang ibu.

“Sudah berapa lama bu jualan kelapa disini?” tanyaku.

“Mungkin hampir sesuatu tahun saat pantai klingking ini akan rame nak, sabtu pekan saja kalau hari biasanya cuma berladang disana (sambil menunjuk ladang berbatu tandus yg mungkin cuma dapat ditanami ubi ubian saja),” katanya.

Dalam usianya yg renta sang ibu masih mempunya sorot mata semangat bagi menjalani hari hari. Tiba datang tiba sesosok pria paruh baya ke tempat kita bersantai.

“Foto disana bagus lho ma” sambil menunjuk arah pohon tidak berdaun yg menyisakan batang pohon menancap di atas tanah.

“Saya putu anak ibu itu mas” sahutnya sebelum saya sempat bertanya padanya.

“Saya ada tangga seandainya mau naik mas, aman kok,” katanya.

Tanpa banyak dikomando Si Lintang dan Fajar telah berlarian menuju pohon eksotis ini buat bergantian foto diatas. Bli putu pun mengambil tangga dari bambu dan menolong Lintang bagi naik ke atas pohon. Fajar pun mengkomando dari bawah gaya yg tepat buat mendapatkan hasil foto yg maksimal.

Tapi memang pohon ini memiliki keunikan tersendiri dimana dia sesuatu satunya pohon mati diantara pohon berwarna kehijauan disekitarnya. Tak ada daun sama sekali, cuma batang pohon berlatar birunya air laut dibelakang. Satu kata eksotis. Aku dan fajar pun merekam dua momen yg kalian bekukan dalam bingkai kamera. Sebuah hal kecil dan terkesan biasa namun menyiratkan kenangan yg mulai membekas dari hari ke hari.

Matahari semakin lama pun nampak semakin condong ke barat menandakan kalian langsung harus bergegas buat kembali ke Toyapakeh tempat dimana penginapan kalian berada. Setelah membayar kelapa muda dari sang ibu dan memberikan tips bagi Bli Putu kita pun siap bagi berpamitan. Aku menyedot air kelapa yg tersisa di dalam batok dan saya sadar betapa hari ini adalah hari yg menakjubkan setelah bisa melihat Pasih Uug dan Angels Billabong dari dekat kini saya dapat menikmati salah sesuatu lagi surga yg ditawarkan di Nusa Penida.

“Kami pamit dahulu ya Bu, Bli Putu..,”.

“Ati ati ya nak dijalan, kapan kapan mampir kesini lagi,” sahut sang ibu sambil tersenyum ramah.

“Hati hati ya mas, terima kasih,” Bli Putu pun tersenyum lebar.

Melihat senyum senyum lebar nan tulus dari mereka, kehangatan yg hampir kita dapatkan saat tiba ke pelosok. Yaa inilah Indonesia dengan keramah tamahan penduduknya membuat kenyamanan tersendiri untuk kita para pelancong.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2016/12/12/090300/3366124/1025/pantai-kelingking-satu-lagi-keindahan-bali
Terima kasih sudah membaca berita Pantai Kelingking, Satu Lagi Keindahan Bali. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Pantai Kelingking, Satu Lagi Keindahan Bali"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.