“Ngubek Leuwi” Di Muara Cipasarangan

No comment 108 views

Berikut artikel “Ngubek Leuwi” di Muara Cipasarangan, Semoga bermanfaat

TIGA ribu orang, termasuk Bupati Garut Rudi Gunawan dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, berbasah-basah mengubek “leuwi” (lubuk) Sungai Cipasarangan. Di atas panggung, musik tradisional Sunda selalu menggema. Itulah puncak tradisi tahunan ngubek leuwi, yakni mencari ikan dengan tangan kosong di muara Cipasarangan Desa Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (9/7/2016).

Tradisi ngubek leuwi yaitu ungkapan rasa syukur warga Cikelet atas berbagai nikmat yg sudah diberikan Allah SWT, terutama kesehatan, setelah melaksanakan ibadah puasa sesuatu bulan Ramadhan. Kebahagiaan itu mereka sempurnakan dengan berkumpul bersama sanak keluarga ketika Lebaran.

Menurut budayawan yg juga warga Cikelet, Iip Sarip Hidayana, kegiatan itu sekaligus ditujukan buat menggugah kesadaran terhadap pelestarian daerah aliran sungai (DAS) yg selama ini menopang kehidupan warga.

Apalagi, kesadaran masyarakat memelihara lingkungan, termasuk hulu Sungai Cipasarangan, semakin mengendur. Ada sekelompok orang yg justru berperilaku merusak sumber air di hulu sungai.

Padahal, Desa Cikelet yaitu salah sesuatu daerah potensial pariwisata di Jawa Barat yg terletak di ujung selatan Kabupaten Garut. Pantainya bersih. Kecamatan Cikelet memiliki kekayaan budaya sangat khas, merupakan Kampung Adat Dukuh, yg teguh mempertahankan identitas tradisi kampung Sunda lama.

Kampung adat itu terletak di kaki Gunung Dukuh sekitar 10 kilometer dari pusat Kecamatan Cikelet. Salah sesuatu falsafah hidupnya di bidang pelestarian alam adalah ulah coba-coba motong iwung bitung di tonggoh sabab dapat edan salelembur, yakni melarang setiap pengambilan pohon di lereng gunung karena dapat mengakibatkan orang sekampung tak waras.

Falsafah itu telah dijalankan sejak beratus-ratus tahun dulu sehingga tak ada yg berani melanggarnya karena takut gila. “Kalaupun ada pohon yg tumbang di atas, tak boleh diambil dan harus dibiarkan busuk,” kata Rosyid (66), tokoh masyarakat Cikelet.

Mengapa hutan di atas kampung itu dikeramatkan? Kawasan ini yaitu lereng pegunungan yg curam. Luasnya 10 hektar dan yaitu daerah tangkapan air, termasuk mata air Sungai Cipasarangan. Jika hutan ini terganggu, selain warga kampung di bawahnya mulai kesulitan air, bahaya longsor juga mengancam mereka.

Membabat hutan

Namun, reformasi 1998 sudah mengembuskan angin buruk untuk kawasan hutan di hulu Sungai Cipasarangan. Sejak itu, sekelompok orang tak bertanggung jawab mencuri kayu dengan membabat hutan yg selama ini menjadi sumber air. Akibatnya, pada akhir 2010, banjir bandang menghantam Cikelet.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/09/04/141000227/.Ngubek.Leuwi.di.Muara.Cipasarangan
Terima kasih sudah membaca berita “Ngubek Leuwi” di Muara Cipasarangan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "“Ngubek Leuwi” Di Muara Cipasarangan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.