Museum Di Tengah Kepungan Sampah Pasar Tangerang

No comment 164 views

Berikut artikel Museum di Tengah Kepungan Sampah Pasar Tangerang, Semoga bermanfaat

DI sela tumpukan sampah sayur, meja pedagang, dan jalanan becek di Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten, berdiri sebuah ikon baru, Museum Benteng Heritage, yg berdiri tahun 2011. Museum itu menempati bangunan bersejarah yg diperkirakan berasal dari akhir 1700-an, awal 1800 Masehi.

Museum itu menampilkan sejarah panjang peranakan Tionghoa dan percampuran budaya lokal Betawi-Sunda yg diwariskan sejak muhibah Cheng Ho ke pesisir Tangerang akhir 1400-an Masehi.

Hiruk-pikuk pedagang sayur, daging, dan pecah belah di pasar basah itu menyisakan sampah menjelang siang hari. Adapun Museum Benteng Heritage buka pada Selasa-Minggu di tengah kesibukan pasar.

Rumah yg menjadi museum tersebut dihiasi ornamen pecahan keramik dan berbagai bahan yg membentuk relief tiga dimensi menggambarkan berbagai kisah Tionghoa klasik. Pendiri Museum Benteng Heritage, Udaya Halim, memamerkan relief cerita Kwan Kong di bagian lantai beberapa rumah.

”Kemungkinan besar dulunya ini rumah kongsi atau perkumpulan. Kwan Kong itu simbol persatuan dan persaudaraan perantau,” kata Udaya yg menghabiskan dana sangat besar buat membeli rumah tua di Pasar Lama yg kemudian direvitalisasi menjadi museum.

Secara keseluruhan terdapat tiga rumah kuno gandeng yg menjadi Museum Benteng Heritage. Museum itu juga menjadi saksi berbagai perhelatan internasional, seperti seminar dan Peranakan Street Festival 2014 yg dihadiri perwakilan komunitas peranakan Tionghoa dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia.

Ketika itu, akhir tahun 2014, Gubernur Banten Rano Karno mengatakan, semangat pelestarian dan membangun obyek wisata dari situs sejarah di Banten itu harus dijaga dan selalu dikembangkan.

”Saya juga menulis novel The Last Barongsai karena prihatin melihat situasi di Tangerang serta berharap adanya upaya melestarikan budaya peranakan Tionghoa yg menjadi bagian budaya Banten. Festival Peh Cun atau perahu naga di Cisadane juga menjadi sesuatu bagian dari komunitas di sekitar Museum Benteng Heritage ini harus dijaga,” kata Rano Karno dua waktu silam.

Museum dan komunitas

Museum Benteng Heritage menunjukkan beragam artefak budaya peranakan Tionghoa yg melebur dengan kebudayaan lokal Betawi dan Sunda. Batik peranakan, perlengkapan rumah sehari-hari yg berasal dari Tiongkok, seni budaya yg berbaur dalam orkes gambang kromong, hingga rekaman asli lagu ”Indonesia Raya” yg direkam pertama kali oleh keluarga peranakan Tionghoa dari WR Supratman juga dipamerkan di museum tersebut.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/26/062200227/Museum.di.Tengah.Kepungan.Sampah.Pasar.Tangerang
Terima kasih sudah membaca berita Museum di Tengah Kepungan Sampah Pasar Tangerang. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Museum Di Tengah Kepungan Sampah Pasar Tangerang"