Mudik Pakai Kereta Api, Apa Cerita Yang Baru?

No comment 89 views

Berikut artikel Mudik Pakai Kereta Api, Apa Cerita yang Baru?, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Apa yg baru bila sekarang bepergian menggunakan kereta api, termasuk untuk mudik? 
 
Setelah lama tidak menumpang kuda besi ini, Kompas.com mencoba membandingkan pengalaman pada masa dahulu dengan yg terkini. Mudik jadi momentumnya. Berikut ini sejumlah catatan yg didapat:
 
1. Tiket
 
Karena jadwal libur dan deadline pekerjaan, dahulu aku terus pakai jurus tiba segera ke stasiun, mengejar jadwal kereta terakhir. Go show, istilah kerennya.
 
Sampai stasiun, beli tiket, mampu kursi atau tak yg utama terangkut. Sekarang, jurus itu tidak lagi terus ampuh, apalagi untuk mudik. 
 
Pemesanan yg dibuka sejak tiga bulan sebelum keberangkatan, jadi dilema. Terlebih lagi, sekarang tak mampu lagi ada “penumpang berdiri” alias penumpang yg sekalipun milik tiket tapi tidak mendapatkan kursi.
 
Di sesuatu sisi, ketentuan itu bikin orang harus milik perencanaan. Keteraturan adalah dasar pemikiran dan tujuan dari ketentuan itu.
 
Buat saya, di sisi lain, ketentuan itu berimplikasi sesuatu hal: tiket telah ludes dijual pada hari libur Lebaran telah dapat ditentukan.
 
Solusinya? Gerilya memburu tiket yg batal dipakai. Situs resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI) atau situs web layanan pemesanan tiket dari pihak ketiga, mendadak jadi laman favorit. Sokur-sokur mampu mampu tiket yg harganya bukan banderol maksimal.
 
Untuk kepastian perburuan dadakan, disarankan pemesanan online ini dikerjakan lewat browser laptop atau komputer dekstop. Aplikasi di ponsel, dari pengalaman saya, masih memunculkan sejumlah tantangan yg ujung-ujungnya tiket hasil gerilya pun telah keduluan diambil orang lain.
 
2. Lembar tiket
 
Kalau telah beli tiket online, sekalian saja cetak tiketnya juga dikerjakan sendiri. Di dua stasiun telah ada peralatan buat mencetak tiket mandiri, berbekal enam digit kode pembayaran yg didapat ketika membayar tiket lewat jalur yg disediakan PT KAI.
 
Setidaknya, yg jelas ada, di Stasiun Gambir dan Stasiun Tawang. Dua tahun lalu, ketika beberapa stasiun ini juga telah melayani cetak tiket mandiri, Stasiun Pasar Senen masih mengharuskan antre di loket bagi bisa cetakan tiket. 
 
Bisa jadi, pada tahun ini masih ada dua stasiun yg belum memakai sistem pencetakan tiket mandiri. Pastikan saja menggunakan layanan pencetakan ini kalau memang tersedia, buat mempersingkat waktu mendapatkan lembaran tiket.
 
Pencetakan mandiri mampu dikerjakan 12 jam sampai 10 menit sebelum jadwal keberangkatan kereta api. Sistem terbaru yg dipakai PT KAI adalah check-in mandiri (CIM) yg lebih cepat daripada cetak tiket mandiri (CTM), berlaku bahkan buat pembelian tiket segera di stasiun bila masih tersedia.
 
Prinsipnya sama antara CIM dan CTM, cuma lembar cetakan dan teknis pencetakan yg berbeda. Bahkan mesin CIM pun dapat jadi ditempeli penanda CTM, cuma berbeda warna mesinnya. 
 
CIM lebih cepat karena memakai teknologi pencetakan berbasis panas yg jamak dipakai antara yang lain bagi struk ATM, sementara CTM memakai printer dot matrik. Kalau pakai CIM, tiketnya berwarna dasar oranye seperti juga warna mesinnya, tidak lagi dominasi putih biru seperti di CTM dan tiket jaman baheula.
 
3. Gerbong
 
Mau kereta ekonomi atau bisnis apalagi eksekutif, segala gerbong pakai AC. Selamat tinggal kipas angin besar di tengah gerbong, walau naik kereta api kelas bisnis dan ekonomi. 
 
Tak ada lagi juga penumpang tak milik kursi, sebagai ikutan ketentuan dalam penjualan tiket. Kalau lalu jamak dilihat orang tidur di bawah bangku atau di selasar gerbong, terutama di kelas bisnis dan ekonomi, sekarang telah tak ada. 
 
Di dinding gerbong kereta, ada tempelan imbauan tak tidur di lantai gerbong, buat kenyamanan bersama.
 
Nah, catatannya, masih ada kereta api yg tiketnya seharga kelas eksekutif tapi bangkunya tegak 90 derajat yg dahulu identik dengan kelas ekonomi. Kereta Api Bangunkarta, misalnya. 
 
Sekalipun telah ada tuas bagi mengubah posisi kursi ini, tapi bahan dasarnya jangan dibayangkan senyaman kereta api berlabel “Argo” yg berhenti sampai Semarang atau Yogyakarta saja dari Jakarta.
 
4. Sambungan gerbong
 
Dulu, apa pun kereta apinya, ada ruang terbuka di sambungan gerbong.  Sekarang, jarak antar gerbong telah lebih rapat. Pintu-pintu di ruang kecil di ujung gerbong, biasanya juga di depan toilet, tertutup rapi dan ruangan itu bersih.
 
5. Colokan listrik
 
Sekarang, di setiap deretan kursi, ada colokan listrik di dindingnya. Tak perlu lagi khawatir kehabisan daya baterai ponsel di tengah perjalanan. Tinggal colok.
 
6. Pengumuman ala di pesawat
 
Dulu, orang naik kereta api tak mulai pernah tahu kenapa kereta berhenti di tengah sawah. Bagi yg tidak jarang melaju, paling banter telah hafal bahwa keretanya harus bergantian rel dengan kereta yang lain yg berlawanan arah.
 
Sekarang, peristiwa yg sama mulai didahului pengumuman dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bedanya dengan pengumuman di pesawat hanyalah tidak ada perintah memasang sabuk pengaman.
 
Pengumuman bahwa kereta mulai langsung berangkat, meninggalkan stasiun, memasuki stasiun, dan datang di stasiun tujuan juga tertib disampaikan dalam beberapa bahasa. Satu lagi, ada pengumuman bagi pemesanan makanan.
 
7. Jadwal
 
Setidaknya bagi Kereta Api Bangunkarta yg aku tumpangi buat mudik kali ini, jadwal keberangkatan dan kedatangan boleh diacungi jempol.
 
Dari Stasiun Gambir, kereta api akan bergerak perlahan pada pukul 14.59 WIB, dari jadwal keberangkatan pukul 15.00 WIB. Dijadwalkan datang di Stasiun Tawang pada pukul 21.21 WIB, kereta api telah memasuki stasiun di Semarang, Jawa Tengah ini pada pukul 21.11 WIB.
 
Jadwal itu telah termasuk berhenti dua menit bagi memberi kesempatan kereta dari arah timur melintas lalu di rel tunggal, tepatnya di Stasiun Telagasari, Indramayu, Jawa Barat. Kereta ini bertujuan akhir di Stasiun Gubeng, Surabaya, Jawa Timur.
 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/06/090800927/Mudik.Pakai.Kereta.Api.Apa.Cerita.yang.Baru.
Terima kasih sudah membaca berita Mudik Pakai Kereta Api, Apa Cerita yang Baru?. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mudik Pakai Kereta Api, Apa Cerita Yang Baru?"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.