Mi Aceh Kosmopolitan

No comment 206 views

Berikut artikel Mi Aceh Kosmopolitan, Semoga bermanfaat

PENYUKA mi aceh garis keras mampu jadi mulai kaget dengan cita rasa baru yg muncul dari mie-gyu. Ini mi aceh dengan daging wagyu empuk berbumbu yg disajikan dalam sesuatu piring yg sama.

Namun, untuk lidah-lidah warga Jakarta yg kosmopolitan, mie-gyu adalah pengalaman rasa baru yg dengan pas memadukan cita rasa tradisional dan modern tanpa saling mendominasi.

Ingatan mulai mi aceh yg sederhana runtuh seketika ketika sepiring mie-gyu dengan potongan daging wagyu kecoklatan yg tampak menggunung disajikan di depan mata.

Taburan bawang goreng, acar bawang merah, kacang tanah goreng, potongan ketimun segar, dan taburan daun kari melengkapi penampilan mie-gyu yg cantik, menggoda buat langsung disantap hingga tandas.

Harapan buat mencicipi cita rasa mi aceh yg pekat dan kaya rempah pun lenyap kala potongan daging wagyu yg pertama dicomot lumat di dalam mulut.

Teksturnya yg lembut dengan cita rasa berbumbu terasa lamat-lamat mengantarkan pada gundukan mi aceh yg ajaibnya, saat disendokkan ke dalam mulut, tidak menghadirkan rasa bumbu yg pekat khas mi aceh tradisional kebanyakan. Ringan, namun tidak kehilangan cita rasa.

Ada rasa pedas yg menyeruak dari lada, tapi tidak terlalu menyiksa lidah. Berbeda dengan rasa pedas cabai yg kerap meninggalkan sensasi pedas berlebihan, yg tidak cocok buat orang-orang yg bukan penyuka pedas.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Bahan toping miegyu

Paduan mi dan daging wagyu marble 9+ itu memberi sensasi rasa baru yg lebih halus, tapi tetap dapat memberi jejak kesedapan yg dalam. Mie-gyu makin sempurna dengan tambahan kacang tanah goreng dan acar bawang merah yg segar, mengimbangi cita rasa mie-gyu yg gurih berbumbu.

Dua tahun

Mie-gyu jelas memberikan pengalaman rasa baru. Meski demikian, cita rasanya yg tradisional tetap terjaga dengan paduan cita rasa modern sebagai strategi agar lebih gampang diterima oleh lidah-lidah kosmopolitan warga Jakarta.

Bagi Zulkarnaini Dahlan, sosok di belakang kehadiran mie-gyu, bukan masalah gampang menyajikan mi aceh dengan racikan gaya dan cita rasa baru seperti itu. Zulkarnaini bahkan menghabiskan waktu selama beberapa tahun bagi meriset kelayakan rasanya sebelum memperkenalkan mie-gyu kepada khalayak Jakarta.

Ide awalnya muncul setelah Zulkarnaini mengikuti kompetisi memasak di salah sesuatu televisi swasta di Jakarta. Zulkarnaini, chef yang berasal Aceh yg selama 16 tahun malang-melintang di dunia kuliner khususnya Perancis ini, merasa tertantang buat mengeksplorasi kekayaan rempah Tanah Air.

Sebagai putra Aceh, dia tertantang buat mengangkat derajat mi aceh yg selama ini terus dianggap sebagai makanan kebanyakan dan tidak pernah naik kelas. Padahal, mi aceh yaitu salah sesuatu macam makanan yg sangat merepresentasikan Aceh.

”Sepuluh tahun dahulu mi aceh enggak ada di Jakarta. Tapi sekarang ada di mana-mana di Jakarta. Nah, aku ingin menaikkan mi aceh. Akhirnya aku sandingkan dengan wagyu,” tutur Zulkarnaini, Senin (7/11/2016), di markas mie-gyu di Dapur Blok M, kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Mie-gyu melambangkan paduan antara mi dan gyu (wagyu) yg berarti mi daging.

Tak tanggung-tanggung, Zulkarnaini sengaja memakai wagyu kualitas atas, merupakan marble 9+ buat disandingkan dalam mi aceh racikannya. Dengan begitu, lidah kosmopolitan warga Jakarta mendapatkan daging kualitas terbaik yg pantas mereka nikmati bersama mi aceh racikan baru tersebut.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Zulkarnain Dahlan, pemilik sekaligus chef mie-gyu memasak mie-gyu original (kuah).

Zulkarnaini mengadopsi versi asli mi aceh yg sebagian memakai daging sapi meski cuma dalam potongan-potongan kecil. Di tangannya, daging wagyu marble 9+ itu, sebelum dipanggang, diproses memakai alat khusus selama sekitar 4 jam dalam suhu tertentu sehingga tingkat kematangan yg dihasilkan sangat konsisten (teknik sous-vide). Bumbu-bumbunya meresap sempurna, dagingnya pun tetap bersari dengan warna kemerahan yg sempurna.

”Bumbunya kita bikin sendiri. Enggak dapat dibilang dikurangi atau ditambah karena ini our own mixer, mi aceh biasa enggak kayak begini. Bumbunya menjadi lebih simpel meski bumbu kering yg dipakai ada 27 jenis,” tutur Zulkarnaini.

Sebagaimana bahan baku penting mi dan daging wagyu yg digunakan, Zulkarnaini juga sangat memperhatikan kualitas bumbu yg digunakan. Dia memberi perlakuan khusus buat bumbu-bumbunya tersebut, seperti keluwek dan cabai kering yg terus dicuci bersih agar menghasilkan kualitas terbaik.

Dia juga mendatangkan bumbu khusus yg cuma mampu diperoleh di Aceh. Salah satunya adalah kaskas yg juga banyak digunakan di resep-resep masakan India.

”Karena ini spesial, wagyu-nya dari rasa dagingnya sendiri, maka mie-gyu ini dibuat enggak pedas. Wagyu yg telah bercita rasa kalau dihajar pedas kalah. Makanya, dibikin pedasnya pakai lada saja,” kata Zulkarnaini, yg bahu-membahu bersama sang istri, Dara, mengelola mie-gyu. Selain mie-gyu versi tumis dengan kuahnya ”nyemek-nyemek”, ada juga mie-gyu versi goreng.

Es timun serut

Sejauh ini, mie-gyu diterima warga Jakarta dengan baik. Begitu pula konsumen-konsumen asing seperti dari Korea, Jerman, Perancis, dan Tiongkok. ”Orang Jepang kebanyakan kaget dengan wagyunya. Namun, karena di menu mereka juga ada katsu yg disajikan dengan kari, mereka mampu menerima juga,” kata Zulkarnaini.

Sebagai penyeimbang, mie-gyu paling pas dinikmati bersama es timun serut raspberry yg juga yaitu salah sesuatu minuman Aceh yg sangat populer. Es timun serut ini biasa dinikmati warga Aceh sebagai minuman di kala buka puasa.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Dapur Blok M Jakarta, salah sesuatu outlet yg menyediakan masakan Aceh, mie-gyu.

”Saya kalau minum ini tutup mata karena rasa itu, kan, me-recall memori. Tapi ini juga aku dekonstruksi lagi supaya lebih menarik. Kalau biasanya dikasih gula putih, ini aku kasih sirup raspberry. Sirupnya pun sangat terkenal di Aceh, namanya sirup Kurnia,” kata Zulkarnaini.

Mie-gyu dan es timun serut menjadi duet rasa yg sempurna. Jejak kelezatan mie-gyu, digenapi kesegaran es timun serut yg legendaris, menghadirkan pengalaman rasa baru yg tidak terlupa.

Di tangan Zulkarnaini, menu asli Indonesia yg didekonstruksi nyatanya sanggup tampil dengan citranya yg baru agar makin diterima lidah-lidah warga Jakarta yg kosmopolitan. (DWI AS SETIANINGSIH)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2016, di halaman 31 dengan judul “Mi Aceh Kosmopolitan”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/25/071400027/mi.aceh.kosmopolitan
Terima kasih sudah membaca berita Mi Aceh Kosmopolitan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mi Aceh Kosmopolitan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.