Menyusuri Jejak-Jejak Letusan Vulkanik Gunung Talang

No comment 94 views

Berikut artikel Menyusuri Jejak-Jejak Letusan Vulkanik Gunung Talang, Semoga bermanfaat

SOLOK, KOMPAS.com – Asap belerang dari kawah Gunung Talang kelihatan selalu mengepul pada Rabu (1/6/2016) pagi. Aromanya menyengat menusuk hidung. Saya terpaksa  menutup hidung demi terhindar dari resiko sesak nafas akibat menghirup gas sulfur dioxide.

Di sebelah kiri jalur menuju puncak, pemandu pendakian Gunung Talang, Emon Rialdy memamerkan kepada saya, bentangan kawah yang lain yg ada di Gunung Talang. Kawah itu adalah jejak letusan Gunung Talang pada masa silam. Asap-asap yg keluar dari badan Gunung Talang hingga ketika ini masih selalu keluar.

“Dulu tahun 2005 Gunung Talang pernah meletus. Warga-warga mengungsi,” kenang Emon.

(Baca juga: Tips Mendaki Gunung Talang Via Jalur Ai Batumbuk)

Gunung Talang terletak melintasi tiga kecamatan yakni Gunung Talang, Danau Kembar dan Lembang Jaya di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Gunung dengan ketinggian 2.597 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini bertipe gunung api tipe A yg masih memamerkan kegiatan vulkanis yg aktif, pernah, dan masih mengeluarkan bahan-bahan vulkanis berupa gas, cair, dan padatan.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Pendaki melewati Kawah Utama Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat, Rabu (1/6/2/2016). Kawah Utama adalah salah sesuatu sumber aktivitas vulkanis Gunung Talang yg terbentuk akibat letusan pada 12 April 2005.

Peneliti dari Universitas Andalas Padang, Dian Fiantis (2006) dalam artikel penelitian tentang Gunung Talang menyebutkan letusan terjadi dari kawah yg berasal dari punggung Gunung Talang pada tanggal 12 April 2005. Peristiwa tersebut didahului oleh oleh gempa vulkanik berkekuatan sekitar 5.5 Skala Richter pukul 04.15 WIB.

“Letusan yg terjadi mengeluarkan asap hitam dan percikan api dari magma pijar yg mendesak keluar dari sumbatan pipa magma. Dari punggung Gunung Talang terlempar debu dan pasir vulkanis yg menutupi permukaan tanah dan tanaman yg berada pada lereng tengah dan bawah Gunung Talang,” tulis Fiantis.

Hal itu menyebabkan vegetasi-vegetasi di seputar Gunung Talang terbakar dan kelihatan seperti panorama Hutan Mati di Gunung Papandayan, Garut. Saya melihat vegetasi tersebut saat melintasi jalur dari puncak punggung gunung selepas Rambu 54 melewati Kawah Utama.

“Dulu terbakar segala pohonnya di sini. Makanya jadi mati pohon-pohonnya,” tukas Emon.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Pendaki melewati area hutan mati Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat, Rabu (1/6/2016). Letusan Gunung Talang mengakibatkan tumbuhan pohon terbakar dan kelihatan seperti hutan mati.

Peneliti geologi E. Kriswati, Y. E. Pamitro, dan A. Basuki (2010) dalam Jurnal Geologi Indonesia Vol. 5 mengutip Effendi (1990) menyebutkan sejarah aktivitas vulkanik Gunung Talang
menunjukkan bahwa gunung api tersebut mempunyai periode erupsi yg relatif panjang, dengan interval terpendek 2 tahun dan terpanjang 40 tahun.

Dalam catatan sejarah, diketahui bahwa erupsi besar bersifat magmatis terjadi pada tahun  1833, 1843, 1845, dan 1883. Peningkatan kegiatan yg tercatat setelah erupsi tahun 1883 adalah 1963, 1967, 1972, 1980–1981, 2001, 2003, 2005, 2006, dan 2007.

Jejak-jejak letusan Gunung Talang juga mampu kelihatan dari kawah-kawah yg ada. Di dekat puncak Gunung Talang, Emon memamerkan kawah-kawah yang lain yg ia tidak mampu sebutkan persis namanya.

(Baca juga: Mendaki Gunung Talang, Pesona Tiga Danau di Bumi Rendang)

Langkah kaki juga dipersulit oleh batuan-batuan sisa letusan Gunung Talang. Warna putih dari batuan-batuan aneka ukuran mewarnai sepatu saya. Debu-debu bertebangan tatkala aku melintasi jalur pendakian dekat kawah.

Peneliti geologi dalam jurnal menyebutkan, sekitar Gunung Talang, aktivitas vulkanis Gunung Talang dapat kelihatan di antaranya di Kawah Utama, Kawah Selatan, Kepundan Panjang, Gabuo Atas, Gabuo Bawah, dan Air Panas Batu Bajanjang. Dalam keadaan normal kegiatan di Kawah Utama dan Kawah Selatan menghembuskan asap berwarna tipis-tebal dengan tekanan lemah dan sedang.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Sisa pepohonan mati akibat letusan vulkanik Gunung Talang di sisi lembah dilihat dari puncak Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat, Rabu (1/6/2016). Letusan vulkanik Gunung Talang menyebabkan vegetasi di dua titik gunung mengalami kebakaran dan tidak dapat tumbuh kembali.

“Yakin mau menyeberang? Kita harus cepat melewati asap kawah. Ini juga lihat arah mata angin,” ujar Emon ketika berada di tepi Kawah Utama.

Saya segera menyeberang dengan cepat dan cuma memfokuskan pandangan ke arah depan. Sungguh asap belerang terasa tajam menusuk hidung.

Momen-momen matahari terbit adalah hal yg aku cari. Namun, jejak-jejak letusan Gunung Talang juga berhasil menyihir pandang. Ya, karena tidak cuma kawah belerang dan hutan mati yg menyambut sebelum puncak Gunung Talang.

Pemandangan jejak pohon-pohon yg terbakar karena letusan juga masih kelihatan saat aku berada di punggung puncak Gunung Talang. Di lembah yg terjal, dahan-dahan pohon kehitaman kelihatan jelas menghiasi rerumputan hijau. Selain itu, di sekitar Rambu 54 juga masih kelihatan pepohonan yg mati.

Foto-foto pendakian Gunung Talang mampu dilihat di Galeri Foto “Asyiknya Mendaki Gunung Talang di Sumbar”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/16/190100327/menyusuri.jejak-jejak.letusan.vulkanik.gunung.talang
Terima kasih sudah membaca berita Menyusuri Jejak-Jejak Letusan Vulkanik Gunung Talang. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menyusuri Jejak-Jejak Letusan Vulkanik Gunung Talang"