Menyibak Kampung Monyet Hingga Keramik Di Purwakarta

No comment 140 views

Berikut artikel Menyibak Kampung Monyet hingga Keramik di Purwakarta, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Gerombolan monyet liar dari hutan di kawasan perbukitan Jatiluhur dan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, turun gunung. Mereka diperkirakan mencari makanan akibat habisnya cadangan makanan di hutan. Hutan memang makin “bondol” terutama lantaran alih fungsi lahan menjadi perkebunan warga.

“Macam-macam Pak, akan dari yg kecil sampai yg besar. Kami sebenarnya takut, apalagi seandainya telah menyerang perempuan. Solusinya rumah kita dipasang teralis besi saja,” ujar Indra (32), seorang warga, Senin (5/12/2016).

Menanggapi hal itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa perubahan fungsi daerah yg menjadi habitat monyet menjadi penyebab penting turunnya kawanan hewan liar itu ke permukiman penduduk. Untuk itu, dirinya mulai menjadikan hutan tersebut sebagai kawasan konservasi.

“Peraturannya dibuat hari ini. Ke depan, hutan ini menjadi kawasan konservasi dan disiapkan menjadi salah sesuatu destinasi wisata. Jadi, kampung monyet,” tuturnya.

Untuk itu, pihaknya mulai mengembalikan perkebunan menjadi hutan. Nantinya, hutan seluas 18 hektare itu mulai membuat monyet betah dan tak mengganggu atau diganggu manusia.

Sebagai kompensasi terhadap warga, Dedi mulai mengirim 20 orang bagi ikut pelatihan ke daerah yg memiliki ikon wisata serupa, seperti Monkey Forest di Bali.

“Seperti di Uluwatu, Bali. Nantinya, warga sekitar mulai dilibatkan dan dilatih cara mengelola lingkungan dan menjadi daerah wisata,” kata Dedi.

Infrastruktur berupa saung bambu dan penanaman tanaman buah pun langsung dikerjakan Pemkab Purwakarta. Itu bertujuan bagi menciptakan habitat yg sesuai dengan karakter dan kebutuhan monyet.

RENI SUSANTI/KOMPAS.com Bukan cuma kampung monyet. Pemkab purwakarta telah lebih lalu memiliki dua kampung wisata di daerahnya.

Kampung wisata

Bukan cuma kampung monyet. Pemkab Purwakarta telah lebih dahulu memiliki dua kampung wisata di daerahnya.

Sebut saja Kampung Keramik di kawasan Plered atau kampung wisata pertanian yg dikenal dengan ‘Kampung Tajur Purwakata’. Atau, dua kampung wisata yg tengah disiapkan infrastrukturnya.

“Ada Kampung Gula di Cikeris, Kampung Peuyeum (tape) di Sukatani, Kampung Nelayan di Cikao Bandung,” ujarnya.

Kampung-kampung tersebut mulai diluncurkan bertahap hingga Maret 2017. Anggaran yg disiapkan buat membangun infrastruktur sebesar Rp5 miliar.

“Seperti Kampung Monyet ini, nantinya sebagai pintu masuk dari lokasi wisata Sukasari yg telah disiapkan jauh-jauh hari,” tuturnya.

RENI SUSANTI/KOMPAS.com Wisata yg kebanyakan berbasis lingkungan, budaya, dan karakteristik Purwakarta dijamin menggaet pelancong dalam dan luar negeri.

Di Sukasari itu misalnya, lanjut Dedi, pihaknya menyediakan berbagai wisata akan dari ikan tangkapan, danau, hutan, wisata tebing, rumah-rumah alam berarsitektur Sunda, dan lainnya.

“Setelah fokus di bidang pertanian dan infrastruktur dua tahun ini, sekarang kita lebih serius menggarap pariwisatanya,” ucap lelaki yg berhasil membangun Air Mancur Sri Baduga tersebut. 

Dedi meyakinkan, dua lokasi wisata yg langsung diluncurkannya mulai memberikan kejutan luar biasa dan dinantikan banyak orang. Wisata yg kebanyakan berbasis lingkungan, budaya, dan karakteristik daerah setempat ini dijamin menggaet pelancong dalam dan luar negeri.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/12/06/140135227/menyibak.kampung.monyet.hingga.keramik.di.purwakarta
Terima kasih sudah membaca berita Menyibak Kampung Monyet hingga Keramik di Purwakarta. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menyibak Kampung Monyet Hingga Keramik Di Purwakarta"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.