Menyepi Dari Keramaian Di Togean, Sulteng

No comment 104 views

Berikut artikel Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Siapa yg tak tahu Wakatobia tau Bunaken? Semua tahu dimana kedua tempat itu. Tapi Togean di Teluk Tomini, Sulteng, mungkin sedikit asing. Tapi tidak kalah soal keindahan.

Teluk Tomini ternyata menyimpan keindahan alam yg luar biasa terutama keindahan dan kekayaan alam lautnya. Terletak di Sulawesi yg bersinggungan dengan 3 provinsi sekaligus, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Kepulauan Togean sendiri adalah kepulauan yg tepat berada di tengah-tengah Teluk Tomini yg mampu diakses melalui Palu – Poso – Ampana atau Gorontalo – Wakai. Kami sendiri memilih Ampana sebagai gerbang masuk menuju surga tsb.

Dari Ampana kalian menaiki kapal perahu menuju Wakai. Pulau terbesar di Kepulauan Togean di mana menara sinyal (BTS) terpancang tegak. Lokasi terakhir bagi kita menghidupkan gadget. Setelah itu, bye bye kantor. Saatnya berlibur.

Butuh waktu sekitar 4 jam dari Ampana ke Wakai bagi selanjutnya kalian dijemput oleh pihak cottage menuju “rumah” kalian selama di Pulau Kadidiri, Togean.

Matahari hampir tenggelam ketika kita datang di Kadidiri. Sebuah pulau yg diatasnya terdapat 3 cottages. Tidak perlu waktu lama untuk kalian buat dapat jatuh hati dengan segala yg Tuhan ciptakan di sini.

Kadidiri memiliki pantai pasir putih yg bersih. Tidak perlu jauh-jauh bagi mampu menemukan clown fish. Jernihnya air, membuat hewan tersebut gampang kelihatan bahkan tanpa perlu membasahi segala badan dengan snorkeling.

Hari pertama di Togean, seluruh letih terbayarkan. Mimpi indahnya Togean, semakin nyata. Berbagai keterangan kita dapatkan dari sesama penghuni cottages yg pada umumnya justru wisatawan mancanegara. Hanya kalian berlimalah penghuni asli Indonesia di tempat tersebut

Banyak dari wisatawan yg telah berkunjung ke Togean berkali-kali. Mereka pun telah terpikat terutama dengan keindahan bawah lautnya. Ya, diving menjadi aktivitas harian mereka. Bergerak menyelam, dari sesuatu spot ke spot lainnya. Dan bukan dalam waktu singkat.

Ada yg tinggal di pulau Kadidiri lebih dari sesuatu pekan. Bagi mereka, Togean adalah tempat yg tepat bagi berlibur dan menikmati alam tanpa perlu terusik dengan kehidupan lain.

Listrik pun mati pada pukul 10 malam. Layaknya kehidupan di pulau terasing, tanpa listrik artinya gelap. Tapi ini lah cerita yg justru ingin kita sampaikan ke anak cucu kita kelak. Sesuatu yg indah, memang perlu pengorbanan.

Sehari, beberapa hari bahkan seminggu menjauh dari teknologi, toh tak mulai membuat kalian mati atau sengsara. Nikmatilah, kawan.

Matahari pagi muncul dengan cerahnya. Menu sarapan kalian nikmati di depan ‘lobby’ cottage dengan pemandangan pasir putih dan pantainya. Hari ini itinerary kalian adalah menuju Pulau Papan. Pulau paling jauh yg memakan waktu sekitar beberapa jam perjalanan memakai kapal katingting, sebutan bagi kapal perahu kecil bermuatan 5-7 org berbahan bakar solar.

Pulau Papan sendiri menjadi icon Kepulauan Togean karena di sini terdapat bukit yg mampu digunakan buat melihat pemandangan sekitar pulau dan jembatan yg menghubungkan beberapa pulau dengan panjang yg cukup fantastis.

Bagi yg ingin berkunjung ke pulau ini atau ke Kepulauan Togean, ada baiknya kami membawa buku-buku bekas bagi diberikan ke adik-adik penguhuni pulau. Tentu mulai menjadi sedkit oase untuk mereka ketika buku tersebut mereka baca. Mereka yg jauh dari hiruk pikuk kota dengan segala fasilitasnya.

Menuju bukit, kita harus trekking sekitar 15 menit. Jalurnya tak terlalu terjal buat kita yg pemula. Panas yg menyengat dan membakar kulit, tak membuat kita menyerah. Keringat memang bercucuran, tetapi angin yg menyegarkan menghapuskan itu seluruh setibanya kalian di atas bukit di Pulau Papan.

Dari atas, kita dapat melihat indahnya laut dengan warna yg berdegradasi. Puas berfoto dengan berbagai gaya, kita pun turun menuju jembatan. Menurut warga, jembatan telah mengalami penggantian dari yg sebelumnya cuma dibuat dari papan dan kayu, sekarang telah berubah menjadi lebih kokoh karena disemen.  Aman berarti kita buat menginjakkan kaki diatasnya.

Panjang jembatan ini sekitar 800 meter. Tapi entahlah, aku terlalu larut hingga lupa menanyakannya. Panas memang, namun belum liburan kalau belum hitam. Bahasa lainnya sih eksotis.

Sebelum siang benar-benar membakar kami, Pulau Papan pun kita tinggalkan menuju ke spot yg bernama Hotel California. Awalnya kalian tak peduli karena masih kagum dengan Pulau Papan. Lama-lama, kalian saling bertanya, “Kita ke hotel?”

45 menit berlalu, pemilik kapal menginfokan kalau kita telah datang di Hotel California yg ternyata cuma berupa bangunan kokoh di tengah laut yg biasa digunakan nelayan bagi beristirahat.

Makan siang kalian habiskan diatas bangunan ini. Nasi bungkus yg telah disiapkan sebelumnya dari Kadidiri. Nikmat, apapun itu lauknya. Berteman dengan pemandangan laut sejauh mata memandang. Indah.

Di spot ini, kalian harus berhati-hati karena arus dapat tiba-tiba berubah dan membawa kita ke laut dalam tanpa alat diving. Namun, keindahan tetap dapat kita nikmati tidak jauh dari kapal ditambatkan. Satu jam berlalu dengan cepat. Perjalanan pun kita lanjutkan menuju Pulau Katupat.

Pulau Katupat bertetangga dengan Pulau Tom Ken yg terdapat cottage punya WNA kalau tak salah dengar. Rencana ingin nikmati siang menuju sore dengan minum kelapa muda, namun apa daya kelapanya belum ada.

Ya sudah, kami cari air putih saja kalau begitu. Kami pun pulang kembali ke Kadidiri setelah puas tidak mengurangi koleksi foto di pulau Tom Ken.

Hari kedua berakhir dengan indah. Tidak ada yg mengecewakan dari aktivitas kita hari itu. Semua panca indera merasakannya. Jiwa & raga kalian pun menikmatinya. Ini baru yg namanya liburan. Dan kalian masih hidup, bahkan tanpa bunyi handphone.

 

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/07/25/145900/3259683/1025/menyepi-dari-keramaian-di-togean-sulteng
Terima kasih sudah membaca berita Menyepi Dari Keramaian di Togean, Sulteng. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menyepi Dari Keramaian Di Togean, Sulteng"