Menyelisik Misi Rahasia Soekarno Di Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan

Berikut artikel Menyelisik Misi Rahasia Soekarno di Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan, Semoga bermanfaat

KUNINGAN, KOMPAS.com – Berlibur ke daerah Kuningan, Jawa Barat tidak lengkap rasanya seandainya Anda tak mengunjungi salah sesuatu landmark yg yaitu bagian dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, merupakan Gedung Perundingan Linggarjati.

Wilayah gedung perundingan seluas 2,4 hektar ini berada di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Dapat ditempuh selama 40 menit dari gerbang tol Ciperna, melewati Jalan Raya Beber dan Cilimus.

Menuju Gedung Perundingan Linggarjati, wisatawan mulai disuguhkan pemandangan hijaunya kaki Gunung Ciremai. Hamparan persawahan, lahan hijau masih mendominasi di desa yg kerap dipadati wisatawan ketika libur Lebaran tersebut.

Wisatawan pun bisa singgah di berbagai destinasi wisata alam sebelum sampai ke gedung perundingan. Selain gedung perundingan, di desa ini banyak tersedia wisata alam akan pemancingan, waterboom, hingga vila-vila yg menyuguhkan pemandangan alam yg ciamik.

Udara sejuk pegunungan pun menyapu Anda sesampainya di depan bangunan bersejarah tersebut, sore itu, Jumat (8/7/2016). Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000, diorama besar menggambarkan detik-detik terjadinya perundingan tersebut menyambut KompasTravel beserta wisatawan lain.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Ruangan pertama ialah ruang tempat perundingan, terdapat empat meja hijau panjang lengkap dengan nama-nama sang kuasa dari setiap kursinya.

“Ini gambaran kejadian aslinya dulu, sebelah barat tempat delegasi Indonesia, sebelah timur delegasi Belanda,” ujar Iwan Setiawan, salah sesuatu pemandu wisata di museum tersebut kepada belasan wisatawan yg memadati ruang pertama, Jumat (8/7/2016).

Ruangan pertama ialah ruang tempat perundingan, terdapat empat meja hijau panjang lengkap dengan nama-nama sang kuasa dari setiap kursinya. Di tempat itulah Perdana Menteri Indonesia kala itu, Sultan Syahrir dan delegasi yg yang lain memperjuangkan nasib bangsa di depan Willem Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda.

Puluhan foto hitam-putih berpigura kayu, masih terawat dengan apik menghiasi sebagian besar dinding gedung. Iwan menceritakan dengan gamblang dua foto yg terpajang di ruangan. Puluhan foto didominasi aktivitas perundingan, akan perdebatan, penandatanganan, pidato, hingga coffee break.

Hampir segala foto didapat dari arsip Belanda. Sebab juru foto dan jurnalis yg meliput kala itu cuma dari media asing. Iwan mengatakan, bebrapa kali gedung tersebut dikunjungi tamu dari pemerintahan Belanda. Selain dokumen, mereka memberikan souvenir buat menghias ruangan gedung tersebut.

“Ini foto Mr. Maria Ulfah Santoso, yg menginisiasi tempat perundingan di Linggarjati. Gelar Mr itu bukan mister tetapi sarjana hukum di luar negeri ketika itu, dia sarjana hukum pertama Indonesia, anak Bupati Kuningan, dan ketika itu Menteri Sosial Indonesia,” ujar Iwan.

Selain foto yg yg membuat bangunan ini bernilai sejarah tinggi ialah berbagai ornamen dan bendanya yg masih asli dan terjaga. Hampir setiap ruangan umum memiliki benda asli sejak zaman perundingan.

Benda-benda asli tersebut di antaranya piano, jam besar yg dipakai buat menentukan waktu ketika perundingan, sofa bagi coffee break, lemari-lemari di dua kamar, dan masih banyak lagi.

Salah sesuatu ruangan yg menyimpan banyak benda asli ialah ruang makan delegasi, terhitung meja makan dan kursi-kursi serta lemari masih dalam keadaan asli. Tentu saja utama untuk pengunjung bagi menjaganya dengan tak menyentuh aset sejarah tersebut.

Beranjak ke bagian belakang, inilah ruangan terakhir, tempat Presiden Soekarno kala itu singgah dan menjalankan misi rahasianya. Di sana terdapat ruang tidur Lord Killearn, seorang mediator perundingan yang berasal Inggris yg dikirim oleh pemerintah Inggris, dan ruang tamu kecil tempat Soekarno dan Lord berbicara empat mata.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Di bagian belakang gedung, terdapat ruangan terakhir, dimana tempat Presiden Soekarno kala itu singgah dan menjalankan misi rahasianya, berbicara empat mata dengan Lord Killearn.

Menurut Iwan, bersumber dari berbagai saksi sejarah Indonesia kala itu, Presiden Soekarno sempat singgah di gedung ini pada 10 Nevenmer 1946, sebelum perundingan berlangsung. Ia cuma singah sebentar dan bertemu sang mediator bagi melakukan perbincangan empat mata.

“Gak ada yg tahu apa yg dibicarakan Presidan dulu, banyak yg bilang itu intervensi agar perundingan menghasilkan keputusan. Supaya gak kaya perundingan sebelumnya di Belanda yg buntu,” jelas Iwan.

Walaupun tak ada yg mengetahui isi perbincangan, dua orang melihat rapat tersebut, salah satunya Gubernur DKI Jakarta kala itu, Henk Ngantung. Henk melukiskannya di atas kertas dan dipajang rapi di ruangan terseut.

Di akhir sesi pemandu pun menjelaskan dua foto perjalanan gedung tersebut. Mulai dari tahun 1918, berdiri gubuk punya Ibu Jasitem di lokasi tersebut. Sempat dimiliki oleh saudagar gula dari Belanda bernama Mergen, ditahun 1921, ia merombak gubuk menjadi bangunan semipermanen. Foto seorang Belanda, Jacobus Van Os yg membangun gedung tersebut secara permanen pun terpampang di dinding bangunan.

Wisatawan mampu membeli buku-buku informasi sejarah perundingan Linggarjati sebagai cinderamata, seharga Rp 5.000. Did alamnya tertulis lengkap sejarah, kronologis, profil, dan masih banyak lagi. Tak lupa foto-foto saat perjanjian tersebut berlangsung pun bisa Anda nikmati buku tersebut.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/09/180500827/Menyelisik.Misi.Rahasia.Soekarno.di.Gedung.Perundingan.Linggarjati.Kuningan
Terima kasih sudah membaca berita Menyelisik Misi Rahasia Soekarno di Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menyelisik Misi Rahasia Soekarno Di Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan"