Menjumpai Sisi Lain Bali Di Desa Adat Tenganan

No comment 116 views

Berikut artikel Menjumpai Sisi Lain Bali di Desa Adat Tenganan, Semoga bermanfaat

KARANGASEM, KOMPAS.com – Enam puluh kilometer dari arah timur Denpasar, ada sesuatu tempat di Bali yg menawarkan pengalaman wisata anti-mainstream. Berbeda 180 derajat dari Kuta atau Legian yg gemerlap. 

Tempat ini bagai membawa wisatawan mundur ke lorong waktu, ketika Bali masih tradisional, menuju sisi yang lain Bali yg jarang dilihat oleh wisatawan, Bali Aga atau Bali kuno di Desa Tenganan.

“Desa Tenganan ini adalah salah sesuatu desa tertua sekaligus modern. Di sini laki-laki dan perempuan sama, tidak ada sistem kasta seluruh sama,” kata Nyoman Suwita, pemandu sekaligus masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan ketika kunjungan familiarization trip The Anvaya Beach Resorts, Bali, Kamis (3/11/2016).

(BACA: Manisan, Teater Kuliner Nusantara di Kawasan Ubud Bali)

Nyoman menjelaskan tidak ada sumber tertulis resmi yg mencatat yang berasal usul maupun sejarah Desa Tenganan. Meski begitu leluhur Tenganan dipercaya berasal dari Kerajaan Majapahit

“Kalau menurut cerita yg dipercaya orang Tenganan, daerah Tenganan awal mulanya dari Raja Bali pertama di Gianyar kehilangan seekor kuda. Ia memerintahkan masyarakat bagi mencari kudanya, kalau ketemu mulai diberi hadiah,” tutur Nyoman.

(BACA: Kehidupan Perempuan Bali dan Upaya Pelestarian “Mejejaitan”)

Kisah kemudian berlanjut ketika leluhur orang Tenganan menemukan kuda tersebut dalam kondisi mati. Raja menepati janjinya dengan memberi hadiah yakni tanah seluas bau bangkai kuda tersebut tercium.

“Orang Tenganan dengan cerdas membagi-bagi bangkai kuda dan berjalan sejauh mungkin,” kata Nyoman. 

Kini Tenganan memiliki luas 917,2 hektar yg dihuni oleh sekitar 700 penduduk. “Para ahli memperkirakan Desa Tenganan telah ada sejak abad kedelapan,” kata Nyoman.  

Pengrajin lontar di Desa Tenganan. Lontar dahulu adalah media dokumentasi zaman lampau, Kini lontar beralih fungsi menjadi cendera mata.

Menurut Nyoman, tahun 1841 Desa Tenganan sempat terbakar, sesuatu tahun kemudian desa itu dibangun kembali. “Sejak itu, aturan adat berdasarkan ingatan, ada yg ditulis ada juga aturan yg tak tertulis,” kata Nyoman.

Masyarakat Desa Tenganan hingga ketika ini masih memegang teguh aturan adat dari leluhur. Beberapa aturan di antaranya mengatur sistem pemerintahan, hak tanah dan hak sumber daya alam, perkawinan, pendidikan, dan upacara adat.

(BACA: Menonton Perang Pandan di Desa Tenganan)

Beberapa aturan leluhur yg masih selalu ditaati hinggi kini adalah tidak boleh ada poligami ataupun perceraian di masyarakat Tenganan.

Ada pula sistem pemerintahan di desa yg terbagi menjadi dua, yakni sistem administratif yg dipimpin kepala desa dan sistem adat yg dipimpin oleh enam pasang suami-istri pemangku adat. Aturan adat juga mengatur denah rumah dan penggunaan sumber daya alam. 

“Banyak yg membandingkan Desa Tenganan dengan Baduy. Meski mirip tetapi berbeda,” kata Nyoman. Ya, di Desa Tenganan terbuka terhadap hal-hal modern seperti listrik, alat komunikasi dan transportasi, serta anak-anak didorong bagi menjunjung tinggi pendidikan. 

“Anak-anak boleh sekolah sampai tinggi. Hanya sesuatu tahun diwajibkan kembali buat belajar adat, mengenal wilayah-wilayah Tenganan. Selama itu anak harus tidur tidak beralas kasur dan bantal,” kata Nyoman.  

Berbagai hiasan dinding yg dijual sebagai cendera mata dari Desa Tenganan.

Hal yg pasti seandainya berkunjung ke Desa Tenganan, wisatawan mulai menemukan kehidupan masyarakat dengan kearifan lokal yg sederhana namun penuh makna.

Misal gotong royong yg masih sangat kental di tengah masyarakat. Terlihat dari berbagai persisapan upacara adat yg dikerjakan bersama, penggunaan hasil panen bumi bagi keperluan adat bersama, dan bangunan rumah sederhana yg terbuat dari bahan-bahan tradisional. Ada juga hasil kerajinan masyarakat Tenganan yakni tenun Gringsing yg memiliki tingkat kesulitan tinggi. 

“Kalau ke Tenganan bagusnya ketika upacara adat yg biasanya diadakan bulan Januari, Februari, Juni, dan Desember,” kata Nyoman. Musim panen durian menurut Nyoman juga menjadi kegiatan yg sangat menarik untuk wisatawan. 

Sayangnya wisatawan tidak mampu bermalam di Desa Tenganan. “Sebenarnya mampu tetapi izinnya harus ke pemangku adat dan susah sekali dapatnya. Kecuali buat pendidikan seperti penelitan, itu pun juga susah dapatnya,” kata Nyoman. 

Menghabiskan waktu beberapa jam di Desa Tenganan sama sekali tidak cukup buat saya. Ada banyak hal menarik yg mampu dieksplor dari desa ini.

Mengenal Bali dari sisi yg berbeda, melihat Bali dari bentuknya yg masih tradisional, mempelajari Bali dari kearifan lokal zaman lampau yg dapat bertahan diterpa waktu dan peradaban asing. 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/08/063800827/menjumpai.sisi.lain.bali.di.desa.adat.tenganan
Terima kasih sudah membaca berita Menjumpai Sisi Lain Bali di Desa Adat Tenganan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menjumpai Sisi Lain Bali Di Desa Adat Tenganan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.