Menjual Awan Di Lolai

No comment 109 views

Berikut artikel Menjual Awan di Lolai, Semoga bermanfaat

HARI masih gelap ketika Nona Kandola (30), Lisnadenani (23) dan Dhimas Rizky (37), meninggalkan hotel di kawasan Toraja Utara, 27 Desember dahulu sekitar pukul 04.00 Wita. Wisatawan yang berasal Jakarta dan Makassar itu bergegas menuju Lolai.

Lolai adalah dataran tinggi di To’tombi, Desa Mamullu, Kecamatan Kapala Pitu, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibu kota Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Subuh itu kendaraan mereka serta kendaraan roda empat dan roda beberapa yang lain berjejal di jalan sempit dan berliku, memecah sunyi di dataran tinggi Lolai.

Sebagian berhenti di To’tombi, sebagian lainnya melanjutkan ke Lempe, masih di kawasan Lolai. Pengunjung itu tiba bagi menyaksikan kabut tebal putih menggumpal serupa awan.

(BACA: Lolai, Magnet Baru Wisata Toraja)

Orang-orang yg bergerak dari Toraja Utara pagi itu, atau yg menginap di To’tombi ataupun Lempe, adalah pemburu awan.

Hampir setiap pukul 05.30-09.00 Wita, lembah di Lolai dipenuhi gumpalan kabut tebal sehingga semua permukaan lembah tertutup dan berwarna putih.

Pengunjung pun seolah berada di atas awan. Itulah mengapa Lolai terkenal dengan sebutan ”Negeri di Atas Awan”.

Toraja masih menjadi andalan pariwisata Sulsel. Sesuai data Dinas Pariwisata Sulsel 2016, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 250.000 orang dan wisatawan Nusantara sekitar 8 juta orang. Sebagian besar masih memilih Toraja.

(BACA: Di Tana Toraja, Batang Pohon Pisang Pun Jadi Menu Santapan Lezat)

Sejak tahun lalu, Lolai menjadi magnet baru wisata Toraja. Perkampungan yg lalu sunyi dan tidak dilirik wisatawan kini adalah obyek wisata yg dikunjungi orang setiap hari.

Semula warga kaget dan gagap. Namun, perubahan ini perlahan dijadikan peluang. Beramai-ramai mereka membuka pintu, membuka tangan menyambut wisatawan yg kian tidak terbendung.

Kawasan Tongkonan Lempe yg lalu sunyi kini dipenuhi jejeran kios makanan dan minuman. Beberapa bangunan tongkonan (rumah adat masyarakat Toraja) beralih fungsi jadi penginapan. Pelataran tongkonan pun dipenuhi tenda atau kemah yg juga disewakan.

Tabitha Sattu (30) adalah salah sesuatu warga yg ikut menangkap peluang awan di Lolai. Dari semula mendirikan kios makan-minum sederhana berukuran 2 meter x 2 meter, dia membangun rumah panggung sederhana dengan dua kamar yg disewakan.

”Lumayan aku jadi milik penghasilan tambahan. Sebelumnya cuma suami yg mencari nafkah, itu pun cuma mengandalkan hasil kebun seadanya. Sekarang pisang di kebun yg biasanya membusuk dapat jadi pisang goreng yg laku dijual,” katanya.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2017/01/16/110800827/menjual.awan.di.lolai
Terima kasih sudah membaca berita Menjual Awan di Lolai. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menjual Awan Di Lolai"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.