Menikmati Kuliner Tradisional Masyarakat Jawa Tondano Di Reksonegoro

Berikut artikel Menikmati Kuliner Tradisional Masyarakat Jawa Tondano di Reksonegoro, Semoga bermanfaat

GORONTALO, KOMPAS.com – Sungguh memikat kuliner masyarakat Jawa Tondano di Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.

Sajian makanan tradisionalnya yaitu warisan para mbah dari tanah Jawa setelah mereka diasingkan di tanah Minahasa, Sulawesi Utara usai Perang Jawa tahun 1830.

Yang unik, resep masakan jawa ini diolah  dan dimasak oleh wanita Tondano, istri mereka di tanah pembuangan. Perpaduan kebudayaan dalam dapur ini diwariskan sejak pertengahan abad XIX hingga kini.

Di kampung Reksonegoro, sajian kuliner khas ini mampu dinikmati, terutama seandainya ada pesta pernikahan, tingkeban, hari besar Islam, dan lainnya. Menu lengkap mulai tersaji menggoda selera.

Seperti yg baru saja disajikan ketika menjamu para fotografer Instanusantara yg mengunjungi desa budaya ini. Sejak pagi,  kaum wanita telah menyiapkan bahan buat pembuatan nasi bulu, aneka kue, dan makanan beragam rupa.

Salah sesuatu kue favorit yg dibuat para wanita Reksonegoro adalah Mendot, macam makanan dari tepung beras ketan yg berisi gula merah dan dibungkus daun pisang muda. Mendot dimasak dengan cara dikukus dalam tungku berbahan bakar kayu.

“Mendot ini biasanya dibuat pada ketika orang Jawa Tondano menggelar hajatan atau dibuat bagi dijual di pasar” kata Idris Mertosono, Jumat (18/11/2016).

Aroma alami daun pisang muda ini bercampur dengan harumnya ketan dan gurihnya gula merah. Menjadikan kue ini terus hadir dalam hajatan di rumah tangga orang Jawa Tondano.

Rosyid Azhar Rumah tradisional masyarakat Jawa Tondano di desa Reksonegoro Kecamatan tibawa Kabupaten Gorontalo. Rumah panggung ini rata-rata dibangun tahun 1925-1930

Sajian yang lain adalah Sinenggor, adonan tepung beras dicampur gula merah di tuang ke dalam loyang atau orang Reksonegoro menyebutnya sebagai bak blek kemudian di kukus. Sinenggor dibuat buat dijual di pasar atau melayani pesanan orang lain.

“Ada lagi yg bernama Contongan, terbuat dari adonan yg sama dengan Sinenggor tapi wadahnya beda, merupakan daun pisang berbentuk kerucut yg disebut contong, kemudian dikukus, kue ini biasanya cuma bisa ditemukan pada ketika perayaan tingkeban atau 7 bulanan” jelas Idris Mertosono.

Sementara kue Ginonso yaitu adonan tepung beras atau parutan halus ubi kayu diberi sedikit garam dan parutan kelapa. Ginonso dimasak dengan cara digoreng dan kemudian dicampur lagi dengan larutan gula merah mendidih.

“Ginonso ini biasanya cuma buat dijual di pasar,” ungkap Idris Mertosono.

Yang tak kalah enaknya adalah kue Cucur. Bentuknya kecoklatan tua ini dibuat dengan cara membuat adonan dari tepung beras dicampur gula merah.

Menurut para orang tua, membuat kue cucur itu tak mudah, salah adonan mulai membuat cucur tak menghasilkan pinggiran yg bergerigi.

“Kue-kue tersebut kalian warisi dari para mbah yg tiba dari Jawa setelah mereka ditipu oleh penjajah Belanda,” kata Hasan Maspeke, petani warga Reksonegoro yg lahir tahun 1938.

Yang juga menjad kekhasan mereka adalah nasi bulu atau nasi jaha, campuran beras dan ketan yg dibumbui dengan aneka jenis rempah-rempah dahulu dimasukkan dalam bambu. Bambu yg digunakan harus terpilih dari macam tertentu.

Sebelum adonan beras dimasukkan, bambu harus dilapisi dengan daun pisang muda sebagai pembungkus ketika nasi masak.

Ruri Irawan Seorang wanita di Desa Reksonegoro, Gorontalo, memasak dengan memakai tungku api. Umumnya mereka memiiki pekerjaan sebagai petani atau pedagang.

Nasi bulu dimasak dengan cara dibakar, biasanya mereka membuat api dari gonofu atau sabut kelapa. Nasi yg ada dalam bulu disandarkan di kayu yg sisinya ada api. Hanya orang yg berpengalaman yg dapat masak nasi bulu ini.

“Namanya nasi jaha karena ada campuran jahe yg dihaluskan sebagai bumbunya, makanya orang memelesetkan nasi jahe dengan sebutan nasi jahat,” ungkap Hasan Masloman, warga Kampung Jawa Tondano.

Selain kue-kue tersebut, masih banyak lagi aneka kue dan makanan yg terus hadir dalam perhelatan hajat masyarakatnya, seperti aneka jenang, aneka ketupat, panggang, dan lainnya.

Masyarakat Jawa Tondano sangat bangga dengan tradisi yg diwariskan kepada mereka. Kebanggaan itu diwujudkan dengan selalu melestarikan kebiasaan lama yg masih bertahan hingga kini.

Kebiasaan mendendangkan Shalawat Jowo dan rodat yg diiringi terbang (rebana) menjadi acara yg diiringi dengan kehadiran kue-kue ini.

“Para mbah kalian adalah kaum santri yg memiliki kebiasaan yg bersumber dari Al-Quran dan Hadits, mereka berjuang bersama Pangeran Diponegoro mengusir penjajah dari tanah Nusantara, kita bangga menjadi anak temurunnya,” kata Mohamad Kiyai Wonopati, imam Masjid Reksonegoro.

Di sisi lain, kaum perempuan Minahasa yg dinikahi pengikut Kiyai Modjo di Tondano ini yaitu anak para walak (pemimpin negeri) yg memiliki kharisma tersendiri. Mereka merawat anak-anaknya dengan tulus dan berkomunikasi dengan bahasa Tondano.

Para ibu inilah yg memiliki kesempatan buat mendidik anak-anaknya dengan bahasa Tondano, namun istilah Jawa yg diwariskan kaum prianya masih menyisakan dalam kosa kata bahasa Jawa Tondano, termasuk dalam penamaan kue tradisional masyarakat ini.

Fandi Gobel Pembuatan kue tradisional cucur oleh masyarakat Jawa Tondano d Desa Budaya Reksonegoro, Gorontalo.

Orang Jawa Tondano di Reksonegoro diperkiraka akan ada sejak tahun 1925, mereka berasal dari Kampung Jawa, Tondano di Minahasa, Sulawesi Utara. Tanah tempat mereka membangun kampung ini memiliki sejarah unik.

Sebelum menentukan di mana mereka mendirikan kampung, mereka mencicipi setiap daerah yg dilaluinya. Rasa tanah ini yg menentukan lokasi perkampungan.

“Awalnya mereka mencicipi tanah yg berasa asin, mereka tak mau tinggal di sini, dahulu cicipi tanah lagi yg rasanya manis, mereka tak mau. Kemudian berpindah ke lokasi yg ketika ini, rasanya macam-macam,” kata Mohamad Kiyai Wonopati.

Apakah rasa tanah yg dicicipi oleh perintis desa yg dipimpin Nawas Modjo ini juga terkait kuliner, tak ada seorang pun tahu.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/18/163400127/menikmati.kuliner.tradisional.masyarakat.jawa.tondano.di.reksonegoro
Terima kasih sudah membaca berita Menikmati Kuliner Tradisional Masyarakat Jawa Tondano di Reksonegoro. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menikmati Kuliner Tradisional Masyarakat Jawa Tondano Di Reksonegoro"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.