Menikmati Indahnya Melbourne Dari Ketinggian 120 Meter

No comment 99 views

Berikut artikel Menikmati Indahnya Melbourne dari Ketinggian 120 Meter, Semoga bermanfaat

MELBOURNE, KOMPAS.com – Menikmati panorama suatu tempat dari ketinggian membuat perjalanan menjadi sempurna. Bisa dari gedung tertinggi, kawasan puncak bukit atau yg lebih modern, kincir ria.

Jika Las Vegas milik High Roller, Singapura milik Singapore Flyer dan London dengan London Eye, maka Melbourne milik Melbourne Star Observation Wheel.

Dari ketinggian 120 meter, panorama ciamik kota yg berturut-turut didapuk menjadi Kota Paling Layak Huni di Dunia itu terhampar luas di depan mata.

“Selamat tiba di Melbourne Star,” kata Jason Bajada, salah sesuatu petugas, di pintu masuk wahana Melbourne Star, dengan ramah. Dia bertugas menyambut setiap pengunjung yg baru saja naik dari lantai pertama tempat loket pembelian tiket.

Sore itu, Jason menjelaskan bahwa Melbourne Star yg terletak di kawasan Docklands, Victoria, Australia, adalah roda observasi keempat tertinggi di dunia. Wahana ini dibuka buat publik pada 20 Desember 2008.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Kabin Melbourne Star Observation Wheel akan terangkat ke atas.

Ada 21 kabin pada kincir ria ini. Saat kabin mencapai puncak, pengunjung mampu melihat pemandangan Melbourne hingga sejauh 40 kilometer.

“Setiap kabin dapat diisi 20 orang. Jika ada yg memakai kursi roda, maka jumlah orang di dalamnya dapat dikurangi,” tuturnya.

Ya, menurut Jason, meskipun ketika beroperasi Melbourne Star selalu bergerak, namun para difabel, baik yg memakai tongkat maupun kursi roda, tetap mampu menaikinya dengan mudah.

“Saat mereka naik atau turun, kalian mulai bersiap melayani. Jika ada kejadian mendesak, kalian mampu memberhentikan wheel dan membawa mereka langsung keluar,” tuturnya sambil tersenyum.

“Keluarga dengan bayi juga dapat ikut naik. Yang tak diperbolehkan adalah membawa stroller ke kabin. Pengunjung dapat menitipkannya di pintu masuk ketika tiket diperiksa. Pada ketika keluar, pengunjung mampu memintanya kembali,” tambahnya.

Sebelum menuju tempat masuk kabin, pengunjung mulai melewati sejumlah ruangan yg diisi dengan gambar-gambar dan tulisan di dinding yg memuat sejumlah fakta utama tentang Melbourne dan negara bagian Victoria, Australia, misalnya budaya delapan jam kerja berasal dari Australia yg akan diterapkan sekitar tahun 1856 atau two-way radio yg biasa dipakai oleh polisi dan sopir ambulans ditemukan pada tahun 1923 di Australia oleh polisi senior Frederick William Downie.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Jason Bajada, salah sesuatu petugas di Melbourne Star Observation Wheel, Victoria, Australia.

“Polisi di Victoria menjadi badan pertama yg menggunakannya,” demikian bunyi salah sesuatu tulisan di dinding itu.

Tempat terbaik

Di area sebelum masuk kabin, setiap pengunjung dilarang mengambil foto buat memudahkan petugas mengatur para pengunjung yg mulai masuk kabin. Satu per satu, pengunjung dulu mulai diarahkan menuju kabin yg tersedia.

Kabin dengan luas sekitar 24 meter persegi ini berbentuk semacam kapsul dengan dinding-dinding kaca tebal yg tembus pandang, kecuali di bagian lantainya.

Di dalam kabin, pengunjung mampu menikmati pemandangan sambil berpegang di besi yg melintang di dinding kaca atau duduk di bangku bundar yg disediakan di tengah kabin.Saat kabin terangkat ke atas, pemandangan terhampar di depan mata tanpa terhalang apapun.

Jika menoleh ke bagian selatan, misalnya, pemandangan laut dan aktivitas di pelabuhan terhampar, sedangkan di sisi lain, pemandangan gedung-gedung dan taman serta kebun raya tak kalah eloknya. Lebih jauh lagi, permukiman yg tertata rapi di daerah pinggiran mampu terlihat. Bahkan, seandainya beruntung, pengunjung dapat melihat samar daratan Phillip Island.

Semua pemandangan ini mampu dinikmati dari atas selama sekitar 30 menit.

KOMPAS.com/Caroline Damanik Pemandangan di balik kabin dari atas Melbourne Star Observation Wheel.

Sore itu, lewat pukul 17.00, cahaya jingga akan membentang di ufuk barat. Matahari akan perlahan turun kembali ke peraduannya. Dengan pemandangan senja yg damai di balik kaca tebal, kabin Melbourne Star menjadi tempat terbaik buat merenung sesaat betapa cepatnya waktu berlalu.

Saat langit akan gelap, lampu-lampu di tangan-tangan Melbourne Star akan menyala. Warna-warni berkelap-kelip. Pemandangan alam berganti menjadi lautan cahaya dari berbagai tempat di Melbourne dan sekitarnya.

 “Mereka suka melihat cahaya berwarna-warni, tapi yg paling populer adalah pada waktu terang menjelang matahari terbenam,” tuturnya.

Wahana ini disebut “star” karena tangan-tangannya yg menyerupai bintang tujuh seperti bintang yg ada di bendera Australia. Rupanya makin jelas bila lampu warna-warni dari lampu LED menyala kala malam tiba. Jika dibentangkan, rangkaian lampu itu mencapai panjang hingga 30 kilometer.

Kincir ria raksasa ini beroperasi akan pukul 11.00 hingga pukul 22.00 waktu setempat. Tiketnya dibanderol dengan harga 36 dolar Australia bagi dewasa dan sekitar 22 dolar Australia bagi anak-anak.

 

KOMPAS.com/Caroline Damanik Pemandangan kota Melbourne dari atas Melbourne Star Observation Wheel.

 (Tulisan ini yaitu bagian dari program “Jelajah Australia 2016”. Kompas.com sudah meliput ke berbagai pelosok Australia pada rentang 14 Mei – 15 Juni 2016 atas undangan ABC Australia Plus. Di luar tulisan ini, masih ada artikel menarik lainnya yg sudah disiapkan terbit pada Juli hingga akhir Agustus 2016. Anda mampu mengikuti artikel lainnya di Topik Pilihan “Jelajah Australia 2016”.)

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/11/222030227/menikmati.indahnya.melbourne.dari.ketinggian.120.meter
Terima kasih sudah membaca berita Menikmati Indahnya Melbourne dari Ketinggian 120 Meter. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menikmati Indahnya Melbourne Dari Ketinggian 120 Meter"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.