Mengulik Sejarah Bandara Adisucipto Yogyakarta

No comment 221 views

Berikut artikel Mengulik Sejarah Bandara Adisucipto Yogyakarta, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Bandara Adisucipto di Yogyakarta memudahkan traveler yg ingin liburan di Kota Gudeg itu. Bandara ini pun meyimpan sejarah panjang.

Tentu bukan kegiatan ilegal ketika ‘mengintip’ Bandara Adisucipto di Yogyakarta. Bagi penggemar dunia aviasi, memotret bandara dari salah sesuatu sudut pengambilan dan melihatnya secara utuh, adalah keasyikan dan kepuasan tersendiri.

Biasanya ketika datang atau berangkat atau mengantar relasi dari bandara ini, yg dilihat itu-itu saja. Dulu sesuai lokasinya dikenal sebagai bandara Maguwo. Memiliki luas hampir 80 ribu meter persegi. Dengan panjang landasan 2.250 meter, dapat didarati pesawat sejenis Boeing 737 dengan full capacity.

Selain sebagai bandara domestik juga sudah berfungsi sebagai bandara internasional. Hampir seluruh maskapai domestik melayani penumpang ke berbagai tujuan dari sini. Beberapa maskapai asing melayani penerbangan internasional ke Singapura dan Kuala Lumpur di Malaysia.

Di kalangan penerbangan memiliki kode WARJ-JOG, sesuai kode ICAO-IATA, badan penerbangan sipil internasional dan nasional. Telah beroperasi sekitar 50 tahun.

Memiliki sejarah panjang di zaman perang kemerdekaan. Sebagai homebase yg digunakan penerbang Indonesia yg dengan pesawat Cuntel dan Curren bulan Juli 1947 melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda di Semarang dan Ambarawa. Tempat persiapan, pemberangkatan, dan kembali di bandara Maguwo, sebelum namanya menjadi yg dikenal sekarang.

Sejarah perjuangan mencatat kejadian tragis. Saat Belanda menyerang dan menjatuhkan pesawat Dakota VT-CLA punya Indonesia setelah melakukan misi kemanusiaan, mengambil bantuan obat dari Singapura buat pejuang Indonesia.

Serangan ini mengakibatkan Komodor Muda Adisutipto gugur. Selain itu ada Abdurahman Saleh dan Adi Sumarno. Untuk mengenang jasanya, dijadikan nama bandara Yogyakarta sekarang. Nama Abdurahmann Saleh dijadikan nama bandara di Malang, Jawa Timur dan Adi Sumarmo menjadi nama Bandara di Solo, Jawa Tengah.

Setelah sekian puluh tahun beroperasi, bandara ini memiliki nilai strategis. Selain sebagai tempat pelatihan buat taruna Akademi Angkatan Udara, mereka yg ingin tiba buat tujuan berwisata cukup dimudahkan.

Beberapa tempat wisata menarik yg telah populer berdekatan dari sini. Sebutlah Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Plaosan, kompleks Candi Ratu Boko jaraknya sekitar 10 kilometer. Sentra kerajinan Perak cuma butuh 10 menit dengan kendaraan. Kompleks keraton, Malioboro yg terkenal butuh sekitar 25 menit berkendaraan dari sini.

Letak landas pacu yg memanjang dari arah barat ke timur, kami mampu menikmati pemandangan Yogyakarta seandainya mendarat dari arah barat. Jika memandang ke arah timur kalian mulai mendapat suguhan kawasan Pegunungan Sewu dengan nuansa pepohonan hijau.

Di pegunungan ini letak kompleks Candi Istana Ratu Boko, dan Candi yg letaknya tertinggi di sekitar Yogyakarta merupakan Candi Ijo. Serta bersebelahan dengan Candi Ijo, terdapat Tebing Breksi, salah sesuatu lokasi wisata yg eksotik dan akan populer sekarang.

Dari Taman Breksi inilah aku memuaskan hobi fotografi dengan memotret Bandara Adisucipto dari ketinggian sekitar 600 meter. Beruntung ketika itu cuaca cerah. Arah menghadap ke bandara tak terhalangan kabut atau awan tipis, sehingga kompleks bandara dengan landas pacunya kelihatan jelas.

Pergerakan sebuah pesawat yg sedang berjalan sebelum dan sesudah tinggal landas, meskipun kelihatan kecil karena jarak dan lensa, menyajikan pesona indah. Bagi penggemar pesawat terbang tak ada salahnya coba menyalurkan hobi dari lokasi ini.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/12/112500/3349522/1025/mengulik-sejarah-bandara-adisucipto-yogyakarta
Terima kasih sudah membaca berita Mengulik Sejarah Bandara Adisucipto Yogyakarta. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mengulik Sejarah Bandara Adisucipto Yogyakarta"